LOADING

Type to search

Soul Plane: Pesawat yang Membawa Terbang Kisah Personal Mario Zwinkle

FEATURED SELECTION

Soul Plane: Pesawat yang Membawa Terbang Kisah Personal Mario Zwinkle

INCOTIVE 01/05/2020
Share

Teks oleh Husna Rahman Fauzi

Virus corona berhasil mengobrak-abrik kewarasan banyak orang. Sebut saja kegaduhan yang terjadi antara anak metal dengan merk eskrim yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Hal yang sama juga menerpa saya. Untuk terbang jauh meninggalkan seluruh kegaduhan, saya memilih Soul Plane, album rapper asal Yogyakarta, Mario Zwinkle yang baru dirilis 2 Februari lalu.

Sebelum masuk pada materi album dan terbang bersamanya, kita nggak bisa melepaskan latar belakang sang pilot. Mario Zwinkle adalah rapper dari kolektif hip hop Hellhouse. Sama seperti nama kolektif tersebut, dalam proses penggarapan album, ia membakar ide dan konsep albumnya di neraka yang bermakras di jalan Wijilan.

Hellhouse mencetak rapper-rapper yang membawa pesan ringan, tentang kehidupan keseharian, tentang kota yang mereka cintai dan tentang kehidupan sosial yang melingkupi mereka. Tentu saja faktor kota Yogyakarta yang sangat nyaman dan tenang sebagai tempat hidup mempengaruhi proses kreatif tersebut. Yogyakarta tidak sebising Jakarta atau segelap kota Bandung yang tentunya mempengaruhi skena hip hop masing-masing kota.

Kali pertama saya mendengar lagu Mario Zwinkle lewat rekomendasi di akun Youtube. Kala itu Mario baru saja merilis video klip untuk single berjudul Street Cruisin’. Hal yang pertama saya pikirkan saat mendengarkan lagu tersebut adalah; musiknya danceable! Dan benar saja, beberapa bulan kemudian saya menonton Mario membawakan lagu tersebut. Dengan jelas (meski kala itu saya sedikit mabuk) saya melihat crowd membuat circle dan melakukan breakdance bergantian. Pemandangan tari kejang di atas beat dan rapalan kata-kata Mario kala itu terasa mengesankan bagi saya pribadi.

Beberapa minggu setelah acara tersebut, album Soul Plane dirilis. Saat didengar, saya seperti dibawa kembali mendengar album-album G-Funk ala West Coast. Seperti album The Chronic milik Dr. Dre yang bertanggung jawab membangun cerita baru dalam hip-hop, menjauhi kebisingan tema politik yang dibawa Public Enemy kala itu, tentu saja dengan suara lembut musik Funk.

Nah jika kamu iseng-iseng mengetik Soul Plane di kolom pencarian Google, yang akan muncul di jajaran atas adalah sebuah film garapan Jessy Terrero yang dirilis pada tahun 2004. Film tersebut dibintangi oleh Kevin Hart, Method Man dan Snopp Dogg. Apakah film ini ada kaitannya dengan album Mario? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Jika melihat substansi film tersebut, kita akan mendapatkan cerita tentang proses hidup sang tokoh utama, ya mirip dengan isi album Mario. Dalam sebuah live streaming di Podcast Hellhouse, Mario mengatakan bahwa album Soul Plane adalah kisah hidup dan terapi diri bagi dirinya pribadi.

Perlu kita akui Mantra Mantra milik Kunto Aji memang membawa tema baru dalam industri musik tanah air, yakni tentang isu kesehatan mental. Namun, Mario dengan tegas merapalkan; tantric mantra mantra bukan milik kunto aji/aku hipnotis kalian tanpa pakai aji-aji. Kalimat tersebut artinya ia juga meresapi, mengingat-ngingat apa yang telah ia lewati dalam hidup dan menumpahkannya dalam musik dengan caranya sendiri.

Begitulah, secara garis besar, Soul Plane bercerita tentang kisah hidup Mario Zwinkle, sebuah tema yang sangat personal. Saking personalnya, saya cukup tercengang mendengar setiap track dalam album ini. Perubahan nuansa musik dalam album ini cukup intense. Pendengar dibawa mendengar nada sendu seperti dalam track Soul Plane atau mendengar semangat menggebu dalam track Gold Staxx. Singkatnya, album ini adalah salam perkenalan dari Mario Zwinkle.

Bicara lirik, sebenarnya saya lebih menikmati lagu hip hop yang penuh metafor, ya ini perkara selera. Untungnya saya tidak bermasalah mendengarkan lirik hip hop yang normatif. Lirik sederhana yang ditulis Mario terasa memukul karena candence, flow dan tatanan rima yang cukup variatif. Kendati begitu saya kurang menikmati lirik yang mencampur aduk bahasa, dan lagi-lagi ini bukan masalah besar. Sebenarnya Mario punya kapasitas untuk mengeksplorasi bahasa Indonesia, hal ini dibuktikan pada track Killa Skit. Namun saya rasa, Mario sedang mempertahankan gaya mencampur adukan bahasa sebagai ciri khasnya.

Kehadiran beberapa kolabolator dalam album ini juga nggak sia-sia dan menyenangkan. Suara merdu Nova Ruth dalam track Livin’It Up, Rough Tracks dan Soul Plane berhasil memperlihatkan nuansa dan pesan yang ingin disampaikan Mario. Kedatangan Donnero di track Legacy juga cukup menghibur. Wordplay: hey mario/ke mari yo! milik GNTZ juga menegaskan bahwa kolaborator album ini dipilih dengan penuh pertimbangan.

Akhir kata, Soul Plane bukan saja sebuah pesawat yang membawa Mario dan para pendengarnya terbang. Album ini merupakan manifesto kerja keras: Pemikiran dan suara hati Mario Zwinkle sendiri. Menyimak album ini amat menyenangkan, saya seperti dibawa kembali melintasi jalan Wijilan, meski terlalu malu untuk menyapa mereka yang sedang main gaple dan memutar lagu hip hop di boombox-nya.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *