LOADING

Type to search

Marlina: Ketika Feminisme dan Seksualitas Disajikan Dengan Ringan

DAILY

Marlina: Ketika Feminisme dan Seksualitas Disajikan Dengan Ringan

Share

Review ini merupakan versi lengkap dari artikel pertama yang telah dipublikasikan oleh @CINEMANIA_ID

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil membawa genre western ke pasar lokal dan menjadikannya sebagai pendobrak gaya-gaya monoton yang selama ini disajikan pada layar bioskop. Keputusan Mouly Surya untuk menceritakan Marlina melalui gaya ini membuat film menjadi lebih relate dengan penonton yang tak asing lagi dengan gaya tersebut. Eksperimen Mouly yang berani memasukan unsur dark comedy, absurdisitas, dan pemanfaatan keindahan alam Sumba lewat teknik wide shot membuat film ini tampil segar.

Film ini berjalan perlahan tapi pasti dengan fondasi kultural Sumba serta isu-isu nyata lain khususnya feminisme. Visi yang kuat dari Mouly memberikan tujuan sambil menunjukkan kekuatan terbesar seorang perempuan dalam mencari keadilan. Mouly mengeluarkan fantasi gilanya tentang permasalahan gender, di mana Marlina lahir sebagai pembalas dendam.

Seperti yang terlihat jelas pada judulnya, kisah Marlina terbagi dalam empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession, dan The Birth. Masing-masing babak merekam perjalanan Marlina, mempertemukannya dengan karakter baru, memberikan konflik demi konflik, sampai gambaran diskriminasi gender oleh aparat yang kerap terjadi di Indonesia.

Babak Pertama: The Robbery

Begitu pelik masalah yang sering dihadapi oleh kaum hawa. Dalam banyak kesempatan kita bisa menemukan berita tentang pemerkosaan, pelecehan seksual, sampai diskrimniasi gender. Belum lagi masalah-masalah personal seperti keguguran dan menjadi janda. Sederet permasalahan itu langsung digambarkan pada babak pertama yang mencekam, Marlina (Marsha Timothy) diceritakan memiliki semua derita tersebut dalam satu babak pembuka, film ini membawa suasana intens langsung masuk sejak adegan pertama.

Screen Shot 2017-11-15 at 11.59.39 PM

Cerita dimulai ketika seseorang berkendaraan motor singgah di rumah Marlina tanpa diundang. Walau Marlina bukan tipe wanita yang emosional, tetap saja ia tak bisa tenang ketika Markus mendatangi, mengutarakan maksud merampok harta benda sekaligus memperkosanya. Pada babak ini jelas sekali penggambaran realita sosial yang sudah begitu termakan oleh patriarki. Mulai dari teori-teori asal tentang pemerkosaan, anggapan kalau “perempuan adalah pelayan pria”, dan puncaknya adalah ketika Marlina diminta patuh. Ia memasak makan malam, dan dirampas semua hartanya termasuk kehormatannya. Namun, Marlina tidak frustasi. Alih-alih teriak minta tolong atau bahkan melarikan diri. Ia mengeksekusi penindasnya.

Babak Kedua: The Journey

Babak ini mungkin akan menjadi hal paling sinematis yang akan kita lihat dari deretan film Indonesia sepanjang tahun 2017. Pemanfaatan keindahan landscape alam Sumba yang direkam dengan wide shot sederhana tidak ada habisnya memanjakan mata. Akan tetapi, keindahan perbukitan dan padang sabana Sumba ini tidak hanya direkam untuk tempelan estetika belaka macam film Ini Kisah Tiga Dara (2016) yang menonjolkan Maumere sebagai keindahan bak film wisata alam.

marlina_5

Lebih dari itu, landscape di sini juga dapat merepresentasikan perjalanan Marlina yang panjang dan sulit untuk mecari keadilan. Pemanfaatan keindahan Pulau Sumba, yang tidak diabadikan secara vulgar juga sangat mendukung representasi dari genre western itu sendiri. Sebagaimana film-film western di Hollywood sana, yang menggambarkan betapa jauhnya aparat dan tindak kriminal dengan penggambaran lenggangnya aktivitas di gurun.

Marlina juga berhasil menerjemahkan rasa western itu dengan menggambarkan betapa sulitnya akses di daerah Sumba dalam menjangkau lembaga hukum, sampai-sampai untuk mengadukan tindak kriminal saja sulitnya bukan main. Belum lagi orang-orang bebas berkeliaran membawa parang tanpa khawatir dirazia.

Babak Ketiga: The Confenssion

marlina_8

Benturan isu sosial Marlina berlanjut di babak ‘The Confenssion’ saat ia meminta keadilannya kepada pihak yang berwenang. Babak ini menjadi kritik tajam kepada kinerja aparat atas responnya yang lambat. Kegagalan aparat untuk melihat masalah marlina, menunjukan betapa konyolnya keadilan yang ada. Sejujur apapun Marlina memberikan detail, pada akhirnya semua hanya sia-sia dan posisi perempuan di sistem yang ada sangatlah tidak menguntungkan.

Babak Keempat: The Birth

marlina_7

Babak terakhir berjudul ‘The Birth’ melihat kematian dan kelahiran masuk ke dalam satu kesatuan. Babak ini menggambarkan bagaimana seorang perempuan bisa teguh menguatkan perempuan lain. Entah kekejaman apa yang mereka rasakan, diskriminasi apa yang terjadi di luar sana, pada akhirnya mereka dapat memenangkan hati penonton tanpa berkhotbah dan drama yang berlebihan. Penampilan luar biasa Novi menjadi nyawa pada babak terakhir di film ini.

Tokoh Perempuan

Para perempuan dalam film ini juga ditampilkan sangat berani. Tidak ada perempuan yang menangis minta pertolongan. Tidak ada yang memaksa minta pertanggung jawaban. Tokoh perempuan di luar Marlina sendiri menjadi sangat menarik. Dimulai dari Novi (Dea Panendra), muncul sebagai perempuan yang telah hamil tua dan mendapat tudingan berbau mitos dari suaminya. Mama (Rita Matu Mona), wanita paruh baya yang punya tanggung jawab membawa dua kuda kembali ke tempat perkawinan sehingga keponakannya dapat menikah pada waktunya. Ada pula Topan (Safira Ahmad), seorang gadis kecil yang memberikan kenyamanan dan rasa kasih sayang yang sudah lama absen dari hidup Marlina. Mereka adalah tokoh-tokoh alpha female yang hadir didalam film Marlina memberikan kekuatan dan semangat bagi perempuan itu sendiri.

marlina_6

Sementara itu, Marlina tentunya menjadi tokoh yang paling tegar, walau ia adalah korban, dia menjadi pahlawan bagi wanita lain selama film berlangsung. Selain memberdayakan dirinya sendiri, dia juga memberdayakan wanita di sekitarnya. Namun, ironisnya, dari kacamata patriarki, para perempuan hebat ini tetap membutuhkan pelindung bernama pria. Contohnya, bagaimana Marlina yang kuat itu, tetap butuh mayat suaminya sebagai tempat bersandar.

Overview

Film ini adalah terobosan baru bagi gaya sinema di Indonesia, Perpaduan tangan dingin Mouly Surya, ide cerita Garin Nugroho, dan skenario Rama Adi ternyata menghasilkan sesuatu yang segar. Garin Nugroho tampaknya memilih orang yang tepat untuk menceritakan Marlina, Mouly Surya berhasil memberi kedalaman yang yang luar biasa kepada film yang ide cerita awalnya di usulkan oleh Mas Garin ini.

Mouly membuat seluruh probelama dan motivasi yang terjadi di Dunia Marlina dapat kita terima secara akal sehat, sekalipun dalam perjalanannya Marlina terus dihantui oleh arwah tanpa kepala dari korbannya. Naskahnya berhasil membangun ketegangan yang dicampur dengan dark comedy pada level yang berbeda. Tidak ada yang lucu tentang pemerkosaan tapi ada lelucon humor yang tidak biasa di dalam cerita, dan bagaimana cara Mouly menyisipkan humor itu kedalam isu-isu berat seperti feminisme untuk menjadikan film ini dapat disajikan secara ringan, adalah pencapaian yang luar biasa.

marlina_9

Sinematografi cantik dari Yunus Pasolang yang membuat Sumba terlihat begitu cantik tanpa terkesan film wisata alam juga patut di acungi jempol. Sementara itu scoring dari Yudhi Arfani & Zeke Khaseli yang memadukan musik khas Ennio Morricone dengan instrumen lokal sangat menghidupkan nyawa pada film ini. Scoring di film ini berhasil ditempatkan pada waktu-waktu yang pas sehingga tak mengganggu dan penonton pun diberi waktu bernafas untuk menikmati keotentikan suasana yang ada.

Marsha Timothy perlu diberi tepuk tangan sebagai Marlina – salah satu karakter wanita paling kuat yang pernah ada dalam perfilman Indonesia. Walau emosinya tidak meluap-luap namun ia berhasil memberikan kedalaman emosi dalam adegan-adegan tertentu. Belum lagi para pemeran pendukung seperti Egi Fedly (Markus) dan Yoga Pratama (Franz) yang menyampaikan kesombongan dan kekejaman dengan cara intimidatif.

marlina_4

Pada akhirnya kualitas akhir sebuah karya memang tidak akan bisa mengkhianati prosesnya. Setiap adegan seperti lahir dari pemikiran yang panjang dan matang. Seperti petuah yang sering kita dengar, bahwa seni adalah pertanyaan bukan jawaban. Marlina berhasil mengangkat pertanyaan-pertanyaan itu kepermukaan, membawa kembali isu-isu yang kurang populer ini untuk kembali kita renungkan tanpa sedikitpun menggurui.

Film Marlina sendiri telah berjalan jauh ke berbagai festival luar negeri sebelum akhirnya pulang ke Indonesia hari ini. Seakan bernasib sama atas perjalanan panjang filmnya itu, Marlina sendiri telah berjalan jauh menahan takdirnya sekuat dia memegang kepala pria yang dia bunuh.

poster

Foto: http://marlinathemurderer.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *