LOADING

Type to search

Set Fire to The Room Vol.3: Scene Underground Bandung Kebakaran!

EVENT FEATURED

Set Fire to The Room Vol.3: Scene Underground Bandung Kebakaran!

Ferdin Maulana 14/11/2018
Share

Foto oleh Raka Dewangkara

Sehubung dengan kunjungan Presiden Jokowi ke Bandung, gelaran musik underground pun ikut diadakan. Tidak nyambung? Ya memang tidak. Pada Ahad, 11 November 2018, Ujung perempatan Jalan Cihampelas, Bandung resmi dibakar oleh grup Band surf-punk asal Bandung, Bitzmika bersama Kolektip Ngawur dalam acara “Set Fire to The Room Vol.3”.

Pembakaran ujung perempatan Cihampelas, persisnya di Malmo Bar dilakukan secara liar dan ugal-ugalan. Para pelaku yaitu Bitzmika dan Kolektif Ngawur pun ternyata memiliki banyak pendukung, mulai dari CNVRT, Warkop Musik, hingga perkumpulan sarap Jatinangor, Teras Kolektif.

Kebakaran di Malmo Bar malam itu luar biasa edan, melalui pemantik musik-musik semi keras yang sukses membuat penonton kegerahan dalam berjoget ria, moshing dan crowdsurfing. Line up yang disiapkan pun cukup ngegebrag, mulai dari penampilan Weekend Roll, kemudian kebisingan menyenangkan oleh Hockey Hook. Dilanjut dengan kedatangan unit musik rock, The Cat Police yang datang jauh-jauh dari Tanggerang untuk senang-senang di Bandung. The Cat Police ikut menuangkan minyak pada api yang sudah panas. The Panturas, maygad! Sudah tidak perlu lagi rasanya saya jelaskan bagaimana ombak ganas asal Jatinangor serta para penunggangnya ini selalu sukses “mericuhkan” venue acara dimana pun mereka berada. Puncak kebakaran terjadi saat Bitzmika mulai nakal di panggung, melantunkan sumpah serapah “Bad Words” seperti judul salah satu single andalan mereka. Acara akhirnya ditutup secara klimaks dengan kehadiran Feel Koplo yang nampaknya membeli teknologi “Koplofy” karya mardial.

“Kebakaran”, ya metafora tersebut memang sangat cocok untuk menggambarkan “Set Fire to The Room Vol.3”. Crowd yang ramai dan liar seakan menghidupkan kembali cerita scene underground yang sudah lama saya nantikan, dalam Scene Bandung yang penuh dengan “patung” dan instagram Story. Suasana saat itu membuat saya merasa seakan hidup di era Poster Cafe Jakarta. Sungguh! Pernyataan tersebut memang sangat presumptuous dan sotoy dari saya yang masih bayi kala itu. Namun, elemen-elemen era Poster Cafe yang digambarkan Raka Ibrahim dalam tulisan “Terekam Tak Pernah Mati” dapat saya interpretasikan di sana. Mayoritas Crowd gokil yang dengan jujur menikmati setiap nada dan hentakan. Baik pria maupun wanita memiliki kesetaraan di sana, semua dapat moshing sampai crowdsurfing dengan aman. Malam itu, jika saya adalah salah satu anggota The Cat Police, saya akan merasa sangat terpuaskan, terlepas harus bermacet-macetan dari Tanggerang.

Acara ini mengingatkan saya pada showcase “Audio Gang Bang” oleh Jeruk Records di Jakarta, dengan aliran musik dan venue yang kurang lebih sama. Akan tetapi, crowd “Set Fire to The Room Vol.3” harus saya katakan jauh lebih ramai dan “panas”. Lalu, perpaduan subkultur musik dan skateboard yang Bandung pisan juga berhasil direpresentasikan lewat adanya mini “landasan” (Punten teu apal namanya) skate. Polemik Instastory pun hanya dilakukan segelintir orang. Segelintir orang tersebut umumnya memang yang punya kepentingan, seperti para rekan media dan para penyelenggara acara, bukan mereka yang narsis eksistensialisme dan krisis identitas.

Minggu malam kemarin sangat mengagetkan bagi para pengunjung reguler Malmo Bar. Bagaimana tidak? Tempat biasa mereka minum-minum cantik mendadak dijajah para penikmat musik underground dan barudak skate. Namun, khalayak rutin yang hadir nampak ikut menikmati kekagetan ini. Dapat dilihat dari bagaimana arah badan mereka condong menghadap ke arah panggung meski duduk agak jauh. Hal yang membuat saya tersenyum adalah bagaimana para bartender dan waiter Malmo Bar yang sedang bekerja, justru ikut bersenang-senang dalam kegilaan ini. Seberapa gilakah? Security Malmo Bar malam itu tidak berhenti berlalu-lalang untuk “menggusur” pengunjung yang dianggap kelewatan, sampai-sampai Gogon dari The Panturas di tengah-tengah acara menyepet “Semoga sekuriti bisa lebih chill ya!”

Namun sayang seribu sayang, segila apapun acara malam itu tidak luput dari catatan merah saya. Nilai merah ini saya berikan pada para penggemar The Panturas, yang memutuskan untuk pulang sebelum yang punya hajatan beraksi. Padahal Bitzmika tampil luar biasa menghibur dan sayang sekali untuk dilewatkan. Dalam perihal apresiasi pertunjukan musik, penggemar The Panturas harusnya bisa belajar dari penggemar Rasukma yang selalu setia sampai acara selesai. Selain itu, dari segi kesehatan ada keluhan saya secara pribadi yang tidak biasa dengan musik keras. Venue indoor yang kurang lega ditambah output sound yang tidak kalah kerasnya membuat suara memantul-mantul tidak karuan, sehingga membuat kuping saya dan beberapa rekan media pengang, bahkan sampai mual.

Terlepas dari segala pujian dan catatan merah, Bitzmika, Kolektif Ngawur dan kolabolator lainnya sukses membuat scene underground Bandung kebakaran. Selamat untuk teman-teman semua, kalian keren! Ditunggu acara-acara mantap berikutnya~

Tags:
Ferdin Maulana

Penulis dan Ketua Geng Incotive. Suka ngurusin isu eksternal di PVL Records, dan Manager dari band Dream Coterie.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *