LOADING

Type to search

Sebagai Manusia Indonesia, Macam Apakah Wajah Kita Saat Ini?

COLUMN

Sebagai Manusia Indonesia, Macam Apakah Wajah Kita Saat Ini?

Defta Ananta 16/10/2017
Share

Pagi ini saya memulai hari dengan menyeduh kopi hitam dengan tujuan menghilangkan rasa kantuk karena memang semalam saya merasa kesulitan untuk tidur. Sambil menyeruput kopi tadi, saya memperhatikan berita-berita yang bermunculan di media sosial. Kala itu berita-berita yang mendominasi timeline selalu menyangkut isu kemanusiaan yang erat kaitannya dengan identitas, nilai, serta norma yang ada di masyarakat. Bahkan ada satu kejadian/fenomena yang sangat menarik perhatian saya yaitu ketika teman – teman di YLBHI Jakarta tiba-tiba dikerumuni massa aksi yang kebanyakan mengatasnamakan suatu golongan (yaa kalian mungkin tahu lah yaa..) dan pada akhirnya massa aksi tersebut mengancam keamanan teman–teman yang tengah melakukan kegiatan kajian dan diskusi intelektual serta pertunjukan di YLBHI dengan alasan yang sama sekali tidak didasari oleh fakta serta informasi yang jelas. Dari fenomena tersebut kita sudah bisa menyimpulkan adanya suatu pendangkalan nilai dan norma yang tercermin dari tindakan agresif yang mengganggu acara tersebut.

Tidak terasa kopi hitam yang saya buat ternyata sudah tinggal ampasnya saja, habisnya kopi itu ternyata tidak berbarengan dengan habisnya pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam kepala saya terlebih apabila ketika saya melihat berita tentang fenomena–fenomena sosial berkaitan dengan nilai serta norma dalam masyarakat. Identitas masyarakat atau saya akan menyebutnya “manusia-manusia Indonesia” terasa semakin dangkal maknanya. Sebagai contoh, banyak sekali massa aksi yang terang-terangan mengatasnamakan golongan di atas identitas kolektif masyarakat dengan mempraktikkan nilai dan norma yang mereka anggap relevan secara masing-masing. Mungkin saya mengira hal tersebut ada karena sistem demokrasi yang kita anut di negara ini, namun justru dengan adanya demokrasi tersebut saya rasa kebebasan yang dijamin oleh negara malah melahirkan rasa superioritas antar golongan yang perlahan “menggerogoti” kesadaran atas identitas, nilai, dan norma kolektif masyarakat indonesia yang plural dan telah ada sejak dulu kala seperti tenggang rasa, saling hormat, dan lain sebagainya.

Namun, meski pada dasarnya masyarakat kita telah “menciptakan” suatu nilai & norma baru yang terbungkus dalam konsep identitas baru juga, saya rasa kemampuan “Manusia-manusia Indonesia” untuk meniti jejak yang telah dibekaskan dalam proses penciptaan nilai/norma baru tersebut juga semakin lemah. Lalu apakah semua ini mencerminkan bahwa perubahan nilai/norma tadi didukung oleh ketidakseimbangan manusia di dalam masyarakat untuk menghadapi perubahan? Saya pernah mendengar ada yang mengatakankan bahwa fenomena tersebut adalah suatu keharusan dari gejolak pembaharuan sosial yang tengah kita ciptakan sendiri, atau dalam kata lain: “suatu kewajaran yang mestinya terjadi” katanya, benarkah?

Ketika saya mencoba untuk melihat isu-isu terkait secara lebih luas ternyata “Manusia Indonesia” kini tengah menghadapi krisis yang bergerak pelan, terasa ada suatu siklus dimana kita menciptakan nilai-nilai/norma-norma baru, mempraktikkannya, dan lalu semuanya larut di dalamnya tanpa ada semangat bertanya, mencari alternatif, apalagi untuk mengugat atau menghentikannya. Benarkah “Manusia Indonesia” kini telah mencapai tahap yg merisaukan dalam perlakuannya terhadap dirinya sendiri? Persoalannya telah sampai ke tahap dimana kita sudah saatnya bertanya pada diri sendiri: “Sebagai seorang Manusia Indonesia, macam apakah wajah kita saat ini?”.

Semua orang bisa saja mengatakan “Hidup NKRI, Pancasila harga mati, bla bla bla” berkali-kali, namun hati saya terasa ragu mendengarnya. Kenapa? Karena sebutan-sebutan itu terasa seperti sebuah lolongan kosong dari mereka yang baru saja kembali dari ketersesatannya yang tiba-tiba menemukan kesadarannya dan kemudian meneriakan kecintaan pada negerinya sendiri dengan meneriakan lolongan-longan yang terasa seperti seakan-akan meminta pengampunan pada atau bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, hal itu tetap diragukan serta patut dipertanyakan. Mengapa? Karena sebenarnya mereka sudah terlanjur asing terhadap apa yang menjadi kekuatannya sebagai seorang “Manusia Indonesia” dan hal tersebut semakin terhempas dari keterlibatan emosionalnya dengan akar budaya bangsa serta nilai-nilai fundamental bangsa karena (mungkin) telah dirusak oleh kekuatan-kekuatan pihak lain atau bahkan oleh sesama “Manusia Indonesia”.

“Manusia-manusia Indonesia” telah terfragmentasi kedalam kelompok-kelompok dengan mengatasnamakan suatu golongan dan lainnya, kemudian mereka menjadi asyik berkelahi terus-menerus serta dibarengi dengan segala kegalauan disekelilingnya sambil melupakan apa yang sebenarnya terjadi pada diri sendiri sebagai seorang “Manusia Indonesia” yang mungkin sudah kurang mampu untuk menghayati, menghargai, atau mengembangkan karya-karya besar bangsa sendiri yang menjadi cerminan filosofi dasar dari kehidupan berbangsa dan bernegara seperti apa yang telah dicita-citakan pada masa kemerdekaan.

Akhir-akhir ini kita dibuat gelisah dengan meningkatnya agresivitas dan kekerasan dalam masyarakat. Banyak peristiwa yang mengoyak hati nurani terjadi di berbagai tempat di Indonesia, model-model sadisme lunak gaya baru seperti pembunuhan karakter serta pikiran, perampasan hak, dan lain sebagainya berkembang dengan cepat, baik yang dilakukan oleh pribadi atau kelompok yang mengatasnamakan suatu golongan dengan dogma-dogma, nilai, dan norma tertentu yang pada hakikatnya mencederai nilai-nilai fundamental dari hak kemanusiaan dan juga Pancasila sebagai ideologi khas “Manusia-manusia Indonesia” (yaa keliatan lah dari cibiran-cibiran netizen Indonesia di media sosial). Dengan adanya fenomena tersebut pada akhirnya telah menggiring saya pada cerminan keprihatinan saya terhadap kondisi “Manusia-manusia Indonesia” yang dikemas kedalam satu pertanyaan esensial dan menjadi judul tulisan ini hehe.

Seperti yang dikatakan di atas krisisnya berjalan lambat namun pasti. Merusak sendi-sendi kepribadian, meluluhkan prinsip, menghancurkan daya tahan sebagai seorang “Manusia Indonesia”. Mengapa kita tidak berani untuk mengatakan bahwa kita telah dipencundangi oleh keadaan? Mungkinkah akan tiba saatnya untuk tumbuh kesadaran bahwa sesungguhnya masyarakat sedang sakit, tapi sakit yang tidak pernah dihiraukan lagi? Dan kiranya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang  ada di dalam tulisan ini, ada baiknya anda, saya, dan semua yang membaca tulisan ini harus menjawab terlebih dahulu pertanyaan “Siapakah diriku?” pada diri sendiri, yang mungkin akan menjadi jawaban dasar untuk membantu mengatasi masalah krisis identitas sosial kebangsaan sangat multi-dimensional ini dan jangan lupa untuk tetap rileks ya!

 

Ilustrasi oleh Marco Hanif Samudro

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *