LOADING

Type to search

Selamat Datang di Gelaran Kerabat

COLUMN

Selamat Datang di Gelaran Kerabat

INCOTIVE 20/01/2018
Share

Ilustrasi: Adam Noorman

Apakah yang kalian rasakan saat mendatangi sebuah gelaran seni untuk pertama kalinya? Berfoto dengan seniman atau karyanya untuk mempercantik tampilan Instagram kalian? Mencoba memahami karyanya? Mencoba untuk mencari kenalan? Ataukah berusaha untuk tidak terlihat sebagai orang asing seperti saya? Yah, itulah yang saya lakukan saat pertama kali datang ke gelaran seni.

Di awal tahun 2018 ini saya ingin berbagi sebuah pengalaman pribadi dalam mengunjungi sebuah gelaran seni. Sepanjang tahun 2017 kemarin, sadar tidak sadar, banyak sekali gelaran seni yang diadakan di Bandung. Mulai dari gelaran seni kolektif hingga gelaran seni sekelas Bandung Design Biennale atau yang lebih besar lagi.

Dari awal tahun hingga saat ini saya beberapa kali datang ke gelaran seni dan beberapa kali juga saya mencoba bertahan hidup disana. Bertahan hidup agar tidak merasa asing di tengah kumpulan tersebut. Rasanya seperti datang ke tempat tongkrongan orang. Ketika kita melangkahkan kaki kesana  semua mata memandang ke arah kita dan seakan bertanya “lau Sokap?”

Awalnya saya berfikir itu hanya perasaan saya saja atau saya yang terlalu sensitif. Namun, sialnya semua itu tidak terjadi hanya sekali. Terutama saat saya mendatangi acara seni berskala kecil yang memiliki poster bertuliskan “dibuka untuk umum”. Walaupun, pada akhirnya menjadi seperti acara kerabat.

Tidak dipungkiri, saya termasuk orang yang awam dalam bidang seni dan bukan siapa-siapa. Namun, menurut saya, ketika sebuah acara mencantumkan tulisan “dibuka untuk umum”, sudah seharusnya mereka siap untuk menjamu berbagai macam tamu. Dari yang tidak paham seni hingga yang sudah mumpuni.

Cukup lama saya memendam kekesalan tersebut. Saya pun kemudian bertanya kepada kawan yang kebetulan seorang dosen dan juga menggeluti dunia seni. “Mengapa, setiap kali saya datang ke gelaran seni, suasananya seperti berada di tongkrongan orang lain?” Saya tanyakan hal tersebut guna memastikan apakah yang saya alami ini hanya perasaan saya saja atau tidak.

“Mengapa, setiap kali saya datang ke gelaran seni, suasananya seperti berada di tongkrongan orang lain?”

Menurut pengalamannya, dunia seni di Indonesia dipenuhi social jerk, terutama di Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Saat seseorang membuat sebuah gelaran atau diskusi seni pengunjung yang datang, berkomentar atau mengkritik serta bertepuk tangan adalah kerabat dari penyelenggara. Pada akhirnya membuat gelaran seni tersebut seperti sebuah sekte pemujaan. Hal tersebut menyulitkan orang-orang awam seperti saya untuk masuk ke dalam lingkaran tersebut.

Mendengar penjelasan tersebut, munculah berbagai pertanyaan dalam benak saya. Kenapa mereka setertutup itu? Apakah karena banyaknya pengalaman pahit terjadi belakangan ini dalam dunia seni? Seperti rusaknya beberapa karya di Galeri Nasional, dan rusaknya karya seorang seniman Jepang di acara seni internasional yang diadakan di Singapura? Ataukah mereka merasa “Maha”, jadi tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam lingkaran mereka walaupun hanya untuk berkunjung?

Awalnya saya mengira kejadian tersebut hanya terjadi pada diri saya saja. Tetapi, ketika saya mencari jawaban atas hal tersebut  banyak yang mengamini apa yang saya rasakan. Saat ini tidak sedikit pengunjung gelaran seni tidak mampu menghargai sebuah karya. Orang-orang di lingkup seni pun seakan menutup diri. Jika tidak perubahan, kejadian-kejadian seperti yang terjadi di Singapura dan Galeri Nasional akan terus terjadi.

Sebagai orang awam yang berkunjung ke gelaran seni, saya hanya ingin belajar dan mengetahui  apa yang harus saya lakukan. Tentunya agar para seniman tidak khawatir dengan nasib karya yang mereka pamerkan.

Sejauh ini saya hanya melihat pesan-pesan dengan nada menyindir di media sosial seperti Instagram, Twitter atau Facebook. Menurut saya, apa yang mereka lakukan sangatlah wajar. Namun, pesan-pesan dengan cara yang lebih bersifat positif  juga tetap harus dilakukan.

Ketakutan seniman atau penggiat seni terhadap para pengunjung yang “gila” akan likes di media sosial, mungkin bisa ditangani dengan membuat sesuatu hal yang baru. Seperti yang dilakukan oleh Museum Of Ice Cream di Amerika Serikat. Mereka membuat sebuah karya yang bisa dinikmati oleh semua orang.  Entah penggiat seni ataupun untuk orang yang hanya ingin selfie saja.

Melihat yang dilakukan oleh  Museum Of Ice Cream tersebut. Saya melihat adanya sebuah adaptasi para penggiat seni dalam melihat perkembangan teknologi. Hal tersebut menurut saya harusnya bisa dilakukan di Indonesia dengan cara kita sendiri tentunya. Karna tidak mungkin kita harus membumi hanguskan sosial media atau membunuh “orang-orang gila likes”.

Eits, tapi tunggu dulu. Bukan berarti yag berkerja keras hanyalah para penggiat seni saja. Sebagai orang yang ingin menikmati seni atau berkunjung ke gelaran seni harus mengerti bahwa karya tersebut ada dengan sebuah proses. Tidak serta merta “bimsalabim” atau “kun fayakun” lalu karya tersebut muncul. Maka ada baiknya sebelum datang ke galeri atau gelaran seni kita belajar terlebih dahulu tentang seni, Entah secara teori atau praktik. Sehingga kita tahu atau paling tidak mengerti tentang seni itu sendiri. Tidak usah diambil pusing harus belajar seperti apa. Paling tidak mempelajarinya seperti ketika kita menonton sebuah cuplikan film sebelum menontonnya di Bioskop. Atau membaca buku sebuah mata kuliah sebelum masuk ke kelas.

Mudahnya, seperti ketika kita memasuki rumah seseorang. Pasti ada sebuah aturan dan tatakrama yang harus kita taati. Jangan lupa juga membawa sesuatu saat bertamu. Dalam hal ini bukan oleh-oleh martabak. Namun, ilmu yang bermanfaat yang nantinya bisa dijadikan bahan untuk diskusi.

Hal tersebut dilakukan agar kita datang tidak dengan kepala yang kosong. Bonusnya, mungkin anda bisa menyampaikan kritik dengan cara yang baik atau terjadi pertukaran informasi mengenai seni dengan para penggiat seni. Tidak hanya sekedar foto ciamik didepan sebuah karya orang lain.

Jadi, marilah kita semua berusaha menjadi lebih baik kedepannya. Tidak dengan menyalahkan satu sama lain. Lebih baik kita berkejasama agar semua merasa senang dan nyaman. Cukuplah persoalan politik dan SARA saja yang berakhir dengan kericuhan. Sekian.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *