LOADING

Type to search

Selamat Tinggal Kanye West, All Hail Terminator!

COLUMN FEATURED

Selamat Tinggal Kanye West, All Hail Terminator!

INCOTIVE 01/05/2018
Share

Oleh: Defta Ananta & Abyan Hanif
Ilustrasi: Adam Noor Iman

Aaah masa depan, ya masa yang dimana yang pasti hanyalah ketidakpastian itu sendiri. Masa yang dimana seluruh umat manusia memimpikan adanya perwujudan dari semua impian-impiannya. Kami merasa jika kita membahas masa depan tentang suatu hal, sama saja dengan kita sedang berimajinasi atau berspekulasi tentang hal tersebut karena tidak akan pernah ada yang tau / apa yang akan terjadi pada hari besok dan seterusnya. Karena tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada hari besok dan seterusnya, seperti apa yang akan terjadi dengan Indonesia pada 2030 misalkan, atau kemungkinan omzet 1 miliar per bulan Incotive pada tahun 2020, Tidak akan pernah ada seorangpun yang tau pasti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mungkin sejak kita kecil kita sudah dicekoki bagaimana idealnya dunia di masa depan, berkendara dengan mobil terbang, memiliki robot pribadi, atau bahkan wisata antar planet.

Sebenarnya kami ingin membahas masa depan yang jauh lebih imajinatif tapi karena kami diminta oleh atasan untuk menulis prediksi 100 tahun kedepan secara lebih spesifik akhirnya kami sepakat untuk memutuskan menulis prediksi mengenai keberadaan entitas digital, mungkin lebih spesifiknya mengenai keberadaan Artificial Intellegence (AI). Sebenarnya makhluk apa sih AI itu? Apakah mereka berencana untuk mengusai dunia? Apakah mereka akan memusnahkan peradaban manusia? Atau apakah mungkin manusia bisa berjodoh dengan AI? Entahlah, tapi yang jelas posisi keberadaan AI dalam masyarakat tentu akan menimbulkan sebuah dampak pada kehidupan peradaban manusia secara umum.

Karena kami diminta untuk menuliskan prediksi dengan lebih spesifik, oleh karena itu pada tulisan kali ini kami akan mencoba mengupas dengan tajam, setajam perkataan gebetan yang bilang kita cuma bisa temenan doang mengenai keberadaan AI terutama dalam dunia musik, hubungannya dengan perkembangan industri yang ditandai dengan adanya revolusi digital, hingga membahas kemungkinan hilangnya batasan dalam genealogi genre musik akibat keberadaan AI. Agar prediksinya semakin mutakhir nan tokcer kami dibantu oleh sebungkus rokok berisi 16 batang dan secangkir kopi hitam panas yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan tulisan ini (bae kumaha aing weh).

Okay! Lansung saja kita mulai prediksi lintas waktu mengenai kondisi industri musik pada tahun 2100.

Konvergensi Digital

Seperti yang telah kita ketahui, dewasa ini (katanya) kita hidup di dalam era revolusi industri keempat yang dimana penggunaan teknologi digital telah menyentuh aspek-aspek terkecil dalam sendi kehidupan umat manusia. Tak terkecuali dalam industri musik, banyak alat-alat musik yang akhir-akhir ini menggunakan teknologi mutakhir seperti midi controller yang langsung terhubung dengan perangkat lunak pada PC masing-masing, simulator ampli yang membuat musisi-musisi tak perlu ribet untuk membawa ampli fisik, hingga gitar elektrik yang bisa tuning senar dengan sendirinya! Wow ajaib! Namun hal yang menarik perhatian kami adalah ketika seorang teman memperlihatkan sebuah video yang di dalamnya memainkan musik yang seluruhnya di­-compose oleh sebuah artificial intelligence dengan judul Daddy’s Car”. Ketika kami melihat video tersebut perasaan takjub dan juga perasaan kecewa bercampur aduk, takjub karena kekuatan AI yang ternyata bisa melampaui manusia dan kecewa karena salah seorang dari kami sebagai seseorang yang juga aktif dalam bermusik merasa gagal.

Dan ketika kami mencari tahu lebih dalam lagi ternyata keberadaan AI tak terbatas pada ranah fungsi sebagai komposer musik saja, menurut survey yang dilakukan oleh Techemergence pada tahun 2016, keberadaan AI dalam industri musik dapat dikategorikan kedalam 3 bidang yaitu; music composition yang dimana AI membuat / mengkomposisi musik, music streaming yang dimana perusahaan jasa streaming menggunakan machine learning algorhytm untuk membuat rekomendasi musik yang terpersonalisasi, dan terakhir music monetization yang dimana AI membantu para musisi untuk meraih keuntungan dari konten musik. Adanya konvergensi digital terutama panggunaan AI sebagai alat bantu, pada faktanya telah merubah landscape industri musik secara global.

Menurut Clayton M. Christensen dan Joseph Bower dalam artikelnya “Disruptive Technologies: Catching The Wave”, Christensen dan Bower menyebutkan teorinya yaitu Disruptive Innovation yang intinya menyebutkan bahwa sebuah inovasi yang membuat pasar / terobosan baru dan membuat orang-orang meninggalkan pasar / hal yang sudah ada. Nah, kaitannya dengan topik yang sedang kita bahas adalah adanya inovasi dalam bentuk penggunaan AI yang dimana secara praksis sangat mempengaruhi manusia dalam keterlibatannya di dalam industri musik. Berdasarkan teori tersebut, penggunaan dan keberadaan AI dipercaya menjadi suatu hal yang memiliki daya disruptive yang tinggi. Ekosistem industri yang hampir seluruh elemennya memanfaatkan platform digital membuat keberadaan AI sebagai suatu hal yang sangat masuk akal untuk meningkatkan efisiensi dalam bekerja.

Berbicara tentang inovasi, konsep machine learning algorhytm yang menjadi subset kunci dalam AI, dalam seluruh elemen industri musik secara makro pasti akan memiliki sebuah pola yang baku. Dengan adanya sebuah alat yang bisa beradaptasi secara lebih komprehensif, semua elemen terutama perusahaan label rekaman, penyedia jasa streaming, dan lainnya berlomba-lomba untuk mengumpulkan data pasar untuk tetap bisa kompetitif dalam persaingan.

Bakat Vs. Kepraktisan

Kembali pada kasus lagu “Daddy’s Car”, walaupun memang belum sepenuhnya dikerjakan oleh AI namun dengan adanya keterlibatannya dalam proses kreatif tentu akan membentuk sebuah benchmark baru dalam pengerjaan sebuah karya. Memang betul, adanya “jiwa” dalam sebuah karya berasal dari seorang artist / musisi, namun dengan adanya keberadaan AI yang mempermudah proses pembentukan jiwa dalam suatu karya tentu akan mendangkalkan makna “jiwa” yang seharusnya menjadi esensi dasar dalam sebuah karya.

Lalu kami pun berspekulasi dengan adanya AI yang memiliki potensi ini, apakah akan menggeserkan “bakat” dalam memproduksi musik dan membuat musik menjadi lebih inklusif karena semua orang bisa saja membuat karya musik dengan bantuan AI? Seperti yang kita ketahui banyak musisi di luar sana yang memiliki bakat yang luar biasa, contohnya mungkin Kanye West yang disebut-sebut sebagai music prophet dalam budaya pop karena memiliki synesthesia. Apa jadinya ketika 100 tahun mendatang gelar music prophet disematkan kepada sebuah perangkat AI yang memiliki kemampuan automasi dan kepraktisan yang luar biasa? Hal tersebut sangat lah mungkin terjadi karena dewasa ini juga sudah mulai bermunculan perusahaan penyedia jasa pembuatan musik dengan prinsip AI-generated secara komersil, seperti AIVA (artificial intelligence virtual artist), Jukedeck dan Computoser. Kemudian akankah kita dapat melihat perbedaan yang distingtif antara musik hasil karya manusia dan AI? Dilansir dari laman web Futurism, karya yang diproduksi oleh AI menurut para professional memiliki perbedaan walaupun tidak terlalu signifikan.

Menurut para ahli di perusahaan Sony CSL, proses kreatif dalam memproduksi sebuah musik dengan AI nyatanya masih membutuhkan kehadiran manusia. Namun, dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki oleh AI kemudian ditambah dengan pesatnya perkembangan teknologi, rasanya sangat mungkin apabila 100 tahun yang akan dating kita mendatangi konser dan mendapati sebuah komputer atau mungkin robot terminator berada diatas panggung tanpa adanya keterlibatan manusia. Yaa sebenernya dari sekarang juga udah banyak sih computer / laptop yang dipake diatas panggung.

(Kemungkinan) Hilangnya Batas dalam Genre Musik

Pertama-tama mari kita bahas apa itu genre musik. Menurut kbbi “genre” adalah sebuah penggabungan sebuah karya atas dasar kesamaan bentuknya,. “bentuk” disini dalam konteks musik kami mengartikannya bisa sebagai bunyi, skena, atau attitudenya. Dengan begitu menurut kami genre musik tidak hanya terpaku kepada kesamaan suara yang dihasilkan oleh penyanyi atau band tertentu tetapi dipengaruhi juga oleh factor-faktor lain yang wajib diperhitungkan. Contoh dari mengapa skena juga berpengaruh terhadap pengkategorian genre adalah seperti genre Grunge, Grunge atau Seattle sound muncul pada pertengahan 80an di Seattle, AS dipelopori oleh label independent yaitu Sub Pop. Band-band yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan genre ini berada di skena yang sama seperti Nirvana, Pearl Jam, Alice in Chains, Mudhoney dan lain-lain, sehingga kami sangat setuju jika skena masuk ke dalam kriteria sebuah genre musik.

Tapi pernah kah anda mendengar sebuah lagu baru, lalu anda berpikir “Ini lagu genrenya apa ya?” lalu anda berpikir keras dan tidak menemukan jawaban pasti tentang apa genre lagu tersebut. kami sering merasakaan kebingungan tersebut ketika mendengar sebuah lagu mencoba untuk mengkategorikan musik tersebut ke dalam sebuah genre yang sudah ada, tetapi dengan seiiring berjalannya waktu kami mulai bertanya-tanya, apakah genre itu sebenarnya penting? Apakah dalam 100 tahun kedepan genre akan semakin bias lagi? Atau mungkin 1 abad kemudian genre akan tidak dipedulikan lagi?.

Jika melihat fenomena akhir-akhir ini dimana musik hip-hop sedang digandrungi oleh hampir semua kawula muda di seluruh dunia dan khususnya di kota-kota besar di Indonesia,­ ditambah lagi dengan biasnya landscape budaya musik pop sehingga menimbulkan kecenderungan penggabungan budaya musik hip-hop dengan musik pop yang menghasilkan istilah “nowadays hip-hop = current pop culture

Menurut teori disruptive innovation yang telah dijelaskan di bagian awal, dalam hal musik khususnya dalam konteks musik hip-hop dan pop, inovasi baru yang menggabungkan antara musik hip-hop dan pop menyebabkan orang-orang meninggalkan musik pop konvesional.

Dengan melihat fenomena tersebut kami menyimpulkan bahwa dalam 100 tahun kedepan genre musik akan semakin melebur menjadi satu kesatuan genre musik yang tidak terkotak-kotakan. Ditambah dengan penggunaan Artificial Intelligence yang semakin canggih dalam industri musik mungkin berdampak besar dalam semakin terintegrasinya perkembangan genre-genre yang ada sehingga semakin mempersulit kita sebagai pendengar musik untuk mengindentifikasikan genre sebuah musik. Atau malah merubah pendefinisian genre tidak lagi didasari hanya dari segi musik, tetapi dari attitude band atau penyanyi tersebut dan skena dimana band tersebut berada.

Memang akan sulit rasanya melawan laju arus perkembangan teknologi, ada atau tidak adanya AI seharusnya tidak menjadi ancaman bagi para musisi, melainkan seharusnya keberadaan keduanya bisa saling melengkapi. Mengutip pernyataan dari James Manyika, seorang peneliti dari Mckinsey Global Institute “Manusia memiliki empati dengan konten emosional yang akan sangat sulit untuk diautomasi oleh AI”, berdasarkan hal tersebut manusia memiliki kemampuan untuk berfikir secara abstrak dan memproyeksikannya kedalam suatu bentuk karya. Mungkin untuk sekarang memang AI belum bisa mereplikasi / mengautomasi hal tersebut tapi bagaimana di 100 tahun yang akan datang? Apakah akan tetap sama? Atau justru kemampuan automasinya jauh melebihi kapasitas manusia? Entah lah mungkin hanya Tuhan dan Roy Kiyoshi yang tau hehehe.

Sebagai penutup, tulisan ini hanya opini dari kami yang merupakan pecinta musik, untuk membuktikan apakah inti tulisan ini benar terjadi pada tahun 2100, maka marilah kita jaga pola hidup sehat dengan makan makanan 4 sehat 5 sempurna, rajin olah raga, dan tidak merokok agar kita kuat hidup sampai tahun 2100, hidup sehat dimulai dari diri sendiri.

Peace, love, and gawl

Mamang Windows dan Asep Stang Seher pamit undur diri.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *