LOADING

Type to search

Sepenggal Kisah tentang Seorang Wanita Malam Jakarta

DAILY

Sepenggal Kisah tentang Seorang Wanita Malam Jakarta

Naufal Malik 01/04/2017
Share

Saat itu jam tangan saya sudah menunjukkan waktu lewat tengah malam. Duduk di kursi penumpang bagian depan, kaca terbuka agar asap rokok dapat terbang bersama angin malam, ditemani dengan seorang kolega saya sesama mahasiswa, kami menyusuri sebuah jalan layang di Kota Jakarta. Sambil berbincang dan tertawa kecil, sebenarnya terdapat pertentangan pada batin saya. Mulai dari hal yang berbau filosofis seperti “salahkah perbuatan yang akan saya lakukan?” hingga “bagaimana bila saya tertimpa apes?”. Ah, pada akhirnya rasa penasaran mengalahkan keraguan saya dan selama pergulatan batin tersebut pun tak terasa sampailah kami pada lokasi itu.

Bangunan yang berbentuk kompleks ruko menjadi latar dari wanita-wanita berpakaian minim berdiri ditemani oleh semacam penjaganya. Sapaan, mulai dari yang mesra-mesra manja sampai yang saking malasnya wanita tersebut tidak menyapa, diberikan pada mobil-mobil yang melintas. Kami pun menjadi bagian dari kawanan mobil yang memutari kompleks tersebut. Percayalah satu putaran tidak cukup untuk menemukan “pasangan” yang pas. Sekurang-kurangnya kebiasaan yang kami terapkan adalah minimal berputar tiga kali baru setelah itu saya sudah memiliki pilihan.

Mobil kami akhirnya menepi di depan salah satu wanita, maka langkah selanjutnya adalah memberi ucapan sopan selamat malam. Wanita tersebut (sebut saja dia Dara) membalas sapaan saya lalu menghampiri mobil kami. Baru setelah itu saya menanyakan tarif yang dia pasang untuk mendapatkan pelayanannya. Biasanya tarif yang dipasang tidak jauh berbeda dengan para rekan kerjanya di tempat itu, dengan rincian oral sex dibawah setengah juta dan dilakukan di mobil, short time setengah juta sudah termasuk biaya hotel, dan long time satu setengah juta dan belum termasuk biaya hotel.

Setelah melakukan negosiasi dan memilih jenis layanan, saya diharuskan untuk membayar pada saat itu juga secara tunai. Si Dara lalu memberikan sebagian uang pada penjaganya lalu ia masuk ke mobil kami untuk memberi arah ke sebuah hotel di dekat wilayah itu. Saya pun pindah ke kursi belakang untuk duduk bersama dia dan membuka obrolan dengannya agar suasana menjadi cair. Sesekali kami saling meraba bagian-bagian tubuh yang sesungguhnya haram disentuh jika tanpa adanya hubungan perkawinan. Hanya dalam hitungan menit, mengingat jalanan sangat lenggang pada malam hari, kami sudah sampai di hotel yang dituju.

Kolega saya memilih untuk tinggal di mobil sementara saya dan Dara masuk lalu menghampiri resepsionis. Terlihat dari gerak-gerik dia dan si resepsionis dapat saya simpulkan bahwa mereka sudah menjalin kerja sama cukup lama. Misalnya saja ketika kami masuk, si resepsionis tanpa ba-bi-bu segera menyerahkan kunci kamar. Hotel, atau lebih tepatnya seperti motel, ini benar-benar cocok untuk menjadi latar dari kegiatan-kegiatan ilegal lainnya, setidaknya itu kesan pertama yang saya dapatkan.

Memasuki kamar dan mengunci pintu, baru saya katakan padanya maksud saya sebenarnya ada di sana, yaitu hanya sekedar mengobrol. Agak terkejut ternyata dia menerima keinginan itu. Perkiraan pertama saya dia akan menolak lalu membatalkan ‘kencan’ kami. Hanya bermodalkan pertanyaan spontan diiringi suasana santai agar masing-masing dari kami tidak canggung, wawancara pun dimulai.

Dara hanyalah sebuah nama palsu. Nama itu digunakan hanya saat sedang menjalani profesinya bukan untuk kegiatan sehari-hari. Kebanyakan rekan-rekannya juga demikian dengan alasan untuk menyembunyikan identitas. Dia juga mengatakan kalau perbuatan rekan-rekannya didasarkan oleh motif ekonomi, alasan yang klasik tentunya. Kejutan kedua yang saya terima adalah ketika saya bertanya mengenai pendidikan terakhirnya, Dara mengaku bahwa dia adalah seorang sarjana. Terlebih-lebih dia adalah seorang lulusan universitas yang cukup ternama dan bahkan aktif di organisasi eksternal untuk mahasiswa. Kemudian dia mengatakan bahwa motifnya berebeda dengan kebanyakan. Motif dia hanya dua yaitu pertama kalau dia seorang nymphomania yang haus akan kebutuhan seksual dan kedua karena pekerjaannya sangat mudah menghasilkan uang, kedua motif tersebut saling berhubungan erat.

Perbincangan kami mulai seru ketika dia menerangkan kehidupan masa lalunya. Semasa dia aktif di organisasi tersebut, ternyata banyak penyimpangan yang dilakukan. Contohnya adalah organisasinya lumayan sering melakukan “blackmail” terhadap para pejabat, mulai dari ancaman demonstrasi sampai menyerang hal-hal privat si pejabat tersebut. Tentunya untuk menutup mulut mereka si pejabat harus ‘menyumpalnya’ dengan sejumlah uang. Mirisnya uang tersebut malah dijadikan sebagai bahan bakar kehidupan berfoya-foya para atasannya di organisasi. Tentunya kegiatan yang mereka lakukan sangat bertentangan dengan salah satu ciri idealisnya mahasiswa yaitu untuk membela kepentingan rakyat. Bahkan setelah dia lulus dan mulai berkecimpung di dunia malam, Dara tetap berhubungan dengan organisasi tersebut. Sebut saja seperti menjadi simpanan para pejabat untuk mendapat informasi yang diteruskan kepada organisasinya.

Lalu kami berbincang juga tentang pengalaman yang dialaminya selama menekuni profesinya. Dia bercerita pernah kliennya adalah seorang perwira militer dan, sama seperti saya, memiliki maksud lain. Si perwira militer ini ternyata hanya sedang berpatroli untuk mengawasi adakah bawahannya yang sedang ‘berkencan’. Pernah sekali dia mencoba berhenti, namun kemudahan untuk mendapat uang yang mengembalikan dia kepada habitatnya sekarang ini. Tentang mengapa lapak tempat rekan-rekannya hampir tidak pernah terkena razia petugas keamanan, jawabannya cukup santai bahwa atasannya adalah orang yang cukup berpengaruh di ibukota, bahkan negara ini. Jika misalnya memang ada razia, menurutnya antara ada desakkan dari golongan masyarakat atau si petugas keamanan hanya sedang memberi pencitraan yang baik. Intinya menurut dia adalah lapaknya tidak akan pernah bisa dihilangkan.

“Dulu jablay di Yunani Kuno dihormati sekali sama banyak orang dan bisa bermain di pemerintahan” ungkapnya. Cerita sejarah itulah yang memotivasi dia selama ini dan karenanya dia menentang anggapan negatif masyarakat pada umumnya mengenai wanita malam. Hal ini yang terkadang kita sebagai masyarakat awam lupa dan menganggap mereka lebih rendah dari manusia. Akhirnya kami menyudahi kencan malam itu. Saya menuju mobil saya untuk pulang, sementara Dara menunggu germonya untuk datang menjemputnya. Tentunya saya tidak akan melupakan kencan itu karena kembali lagi kita harus introspeksi, bahwa sudut pandang tiap-tiap orang tersebut berbeda-beda dan kita tidak boleh beranggapan hal tersebut salah sebelum kita dalami sudut pandang itu sendiri.

*Nama yang tertera sudah diubah

Foto: Ibrahim Hasibuan

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *