LOADING

Type to search

Seribu Pertanyaan (Yang Tidak Pernah Kita Ungkapkan) pada Pengajian Rasa Sosialita

COLUMN FEATURED

Seribu Pertanyaan (Yang Tidak Pernah Kita Ungkapkan) pada Pengajian Rasa Sosialita

Adela 08/04/2018
Share

Foto: Ibrahim Irsyad

Sebuah pepatah mengatakan bahwa semakin bertambahnya usia, semakin bijak seseorang dalam menentukan berbagai pilihan hidup. Apalagi bila usia sudah tidak lagi dikategorikan muda, sebagian orang cenderung memilih untuk lebih produktif dari biasanya. (Tidak mau kalah sama anak sendiri, begitu kilah mereka). Berbagai macam kegiatan dilakukan, entah itu kembali menekuni hobi lama atau iseng merambah ke ranah baru. Kakek saya doyan sekali mengerjakan teka-teki silang angka, yang terbukti dapat menekan gejala kepikunan. Selain itu, berkumpul bersama teman-teman juga efektif karena dapat mempererat keakraban. Apapun dilakukan untuk menyenangkan hati.

Tak terkecuali dengan ibu-ibu yang telah berumah tangga. Khususnya untuk yang tidak bekerja kantoran, tentunya mencari kegiatan yang bisa dilakukan di luar rumah. Umumnya, mereka mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan, seperti berkumpul bersama teman ataupun mengikuti acara pengajian. Terkait dengan poin terakhir, saya memiliki unek-unek khusus.

Sewaktu masih bersekolah (sebut saja SMP B), saya sering mendapat undangan yang ditujukkan kepada orang tua. Undangan itu adalah ajakan pengajian bagi para ibu dari sebuah majelis taklim. Majelis ini rupanya terdiri dari sekumpulan ibu-ibu yang anaknya juga bersekolah di SMP B dan ingin menjalin tali silaturahmi sesama kaum ibu. Acara pengajian biasanya diselenggarakan di sebuah hotel terdekat dari SMP B agar ketika pulangnya bisa sekaligus menjemput sang buah hati. Sejenak tujuannya terlihat normal, sehingga undangan tersebut langsung saya sodorkan kepada ibu saya. Beliau pun memutuskan untuk ikut pergi dan berjanji untuk menyampaikan isi ceramah pengajian seperti yang selalu ia lakukan.

Sore hari sepulangnya beliau dari pengajian, muka ibu saya menyiratkan kegelian yang luar biasa. Kontan saja saya penasaran.

“Kenapa Bu? Kok kayaknya ada yang lucu,”

“Lha gimana Ibu gak geli, itumah bukan acara pengajian, tapi acara fashion show!”

Mulailah Ibu bercerita mengenai pertama kali ia menginjakkan kaki di tempat acara. Seperti biasa, acara digelar di sebuah hotel X yang jaraknya tidak jauh dari SMP B. Begitu beliau datang, beliau sedikit terkejut dengan busana yang dikenakan para jemaah: jauh dari kata sederhana. Ibu saya hanya memakai kerudung panjang simple dan gamis polos serta pulasan make up tipis, sangat kontras dengan jemaah lainnya yang terkesan hendak pergi ke kondangan di malam hari. Seluruh kekayaan material ditampakkan. Hampir semuanya memakai pakaian serupa, seolah-olah sudah dikomando dari awal padahal di kertas undangan tidak diberi tahu dresscode nya seperti apa. Gusti, ni alamatnya bener kagak ye? Jangan-jangan gua salah tempat lagi. Begitu kira-kira pemikiran sang ibunda.

Tidak ingin pusing soal busana, ibu saya pun mulai mencoba berbaur dengan jemaah. Karena dianggap “outsider” dengan penampilan “standar” (beliau memang kurang suka berpakaian mencolok), perkenalan beliau hanya digubris dengan pertanyaan sekenanya. “Maaf, Ibu baru ya (datang ke pengajian ini)? Soalnya saya belum pernah lihat Ibu.” Ibu saya mengangguk dan hanya itu saja pertanyaan yang dilontarkan. Tidak ada niatan untuk mengenalkan diri lebih jauh.

Masih belum “menyerah” dengan keadaan di sekitarnya, beliau akhirnya lebih memilih untuk fokus dengan kajian ayat-ayat Al-Qur’an dan isi ceramah. Nampaknya ustadzah yang didatangkan pada hari itu adalah satu-satunya highlight positif dari pengajian tersebut. Menurut Ibu, ia tampak kompeten dalam membawakan materi dan mengemasnya menjadi sesuatu yang mudah dicerna. Diskusi juga berjalan dengan lancar dan aktif. Sayangnya, ustadzah tersebut adalah salah seorang pemuka agama yang cukup bagus di kota kami, jadi jadwalnya cukup padat. Belum tentu ia akan mengisi pengajian minggu depan.

Sepulangnya dari pengajian, jemaah ibu-ibu kembali asyik ngariung dan membicarakan sesuatu yang berkenaan dengan arisan (rupanya persahabatan yang terjalin sudah cukup oke sampai ada arisan!), sesekali pembicaraan menyerempet pada agenda favorit emak-emak: ghibah. Mulai dari seorang anggota salah satu jamaah yang nyaris tidak pernah muncul, hingga gosip tentang artis seksi nasional yang mengancam bahtera rumah tangga karena ternyata suaminya ketahuan “senang-senang” dengan artis tersebut (ok???). Tidak lupa ibu saya juga di-invite untuk masuk group BBM (dulu WA belum ngetren), namun beliau memilih untuk decline.

“Heran ya, dengan esensi pengajian sekarang,” ujar Ibu. “Agama mewajibkan kita untuk senantiasa sederhana, tetapi yang Ibu lihat tadi justru sebaliknya. Mungkin cuma jadi sekadar arena pamer kekayaan atau senang-senang belaka. Sayang sekali, padahal mereka mampu membayar narasumber dengan harga tinggi, namun untuk apa membayar bila tidak diterapkan kepada diri sendiri?” Maklum, majelis taklim SMP B berisikan ibu-ibu dengan penampakan kekayaan yang ~aduhai~.

Fenomena “ibu-ibu pengajian sosialita” tentunya bukanlah sesuatu yang asing untuk ditemui. Entah itu ibunda kita sendiri, kerabat terdekat, ataupun hasil “nyinyir” sehabis melihat ibu-ibu pengajian yang luar biasa effort-nya untuk tampil “lebih” dibanding jemaah lain. (wow sempat-sempatnya saya nyinyir di tengah tulisan). Masih sering luput dari pembahasan padahal topiknya lumayan seru untuk diangkat.

Karena penasaran, saya sempat mengadakan survey mini ke beberapa teman untuk dimintai pendapatnya. Dari enam responden, empat diantaranya mengaku bahwa ibu mereka pernah mengikuti kajian pengajian gaya sosialita meskipun bukan jamaah tetap, sisanya memilih untuk tidak menjawab. Seperti pengalaman ibu saya, terkadang kajian pengajian sering dibalut oleh arisan dan ghibah yang tidak pada tempatnya. Kaum ibu-ibu pengajian tipe ini juga sering dibicarakan oleh grup tetangga, yaitu ibu-ibu golongan syar’i. Namun seorang teman berpendapat bahwa stigma yang ditimpakan pada “pengajian sosialita” agak terkesan berlebihan. Seburuk-buruknya stigma, pasti ada kebaikan yang hendak ditonjolkan.

“Gak selalu buruk kok. Kadang pengajian seperti itu punya tujuan yang baik juga, misalnya membantu anak yatim atau korban bencana alam. Cuman ya itu, tujuan intinya tertutupi oleh agenda “luar” yang gampang dinilai oleh orang, jadi jarang keliatan.” Sebenarnya, apakah perlu banget buat para ibu untuk mengikuti pengajian berhiaskan bandul-bandul duniawi nan mewah? Manusia senantiasa diciptakan untuk berkelompok, tetapi kelompok seperti apa yang dapat menguntungkan masing-masing anggotanya? Disinilah satu set tetek bengek untuk menjadi salah satu anggota dari klub pengajian sosialita, muahaha. *insert meme “you can’t sit with us” nya Mean Girls*

Robert A. Baron, seorang profesor psikologi melalui karyanya yang berjudul Social Psychology, mengatakan bahwa akan selalu ada kemungkinan pergesekan. Kita akan selalu menimbang-nimbang apa kelebihan dan kekurangan yang dapat diperoleh ketika ingin bergabung dengan sebuah grup. Tetapi bagaimana dengan waktu yang akan tersita karena sibuk mengurusi kelompok? Bagaimana bila kita tidak diterima di sebuah kelompok karena dinilai tidak sejalan dengan visi misi kelompok? Nilai dan norma yang kurang sesuai dengan apa yang dianut secara pribadi? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Masih dengan Baron, ia menyebutkan bahwa setidaknya ada empat aspek dasar yang menopang sebuah kelompok: status, peran, norma, serta kekompakan. Keempat aspek ini harus berjalan secara beriringan untuk mencapai target yang dituju. Salah satunya dalam hal pemeliharaan jumlah anggota agar mereka tidak tergoda untuk keluar dari grup tersebut. Kegiatan seperti arisan rutin dan outing cantik ala ibu-ibu sebenarnya merupakan strategi yang bagus untuk memperkuat tali pertemanan, asalkan semua setuju dengan aturan yang ada.

Namun bukan berarti ibu-ibu ini harus senang melulu. Konon katanya bahwa mereka tidak pandai “menjamu” tamu yang hendak berkunjung. Selain itu, tidak ada yang mampu menebak dinamika perilaku dari setiap anggotanya karena ya iyalah dese bukan peramal. Kecenderungan seseorang untuk berpikir “gua yang paling bener!” atau istilahnya lebih dikenal sebagai groupthink sering kali menjangkiti kelompok tersebut secara berlebihan. Konsekuensinya, mereka tidak mampu menerima perubahan dari luar. Sudah bagus menolak anggota baru dari awal, namun yang sudah diterima malah harus menerima perlakuan “kurang menyenangkan” seperti pengorbanan berlebihan untuk menjadi anggota tetap. Padahal belum tentu masuk, sudah harus disuruh berkorban. Apakah ini salah satu upaya untuk menjaga inner circle juga?

Jadi sebenarnya apa sih, agenda ‘nyeleneh’ di balik pengajian sosialita? Daripada gosip terlalu jauh, lebih baik turun langsung ke lapangan. Tidak ada salahnya untuk sesekali menyambangi pengajian ibu-ibu yang ada di lingkungan Anda. Ingin hasil lebih tokcer? Silahkan langsung RSVP ke kontak-kontak pengajian sosialita yang ada di tempat tinggal Anda. Tentunya dengan pakaian dan aksesoris yang cetar ya, supaya bisa diterima di circle baru~ Selamat menambah relasi dunia-akhirat! 🙂

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *