LOADING

Type to search

Siapa yang Kau Panggil Pelacur?

COLUMN

Siapa yang Kau Panggil Pelacur?

Adela 08/11/2017
Share

“Tahu apa kamu soal hip-hop?” Dengan nada menantang mereka akan bertanya. Seakan saya tidak tumbuh mendengarkan musik serupa. Padahal kami berada dalam satu komunitas yang sama.

Orang cenderung meremehkan kemampuan saya hanya karena saya perempuan. Mereka memandang saya dari atas sampai bawah lalu memberi nilai, seolah melupakan apa yang baru saja saya sampaikan,

tutur seorang teman. Yang iseng-iseng saya tanya perihal hambatan berkarir di Dunia hip-hop bagi perempuan.

Sesuai dengan pengalaman pribadi yang saya peroleh. Seandainya Anda diberi kesempatan untuk mewawancarai para rapper perempuan dari yang berpengalaman hingga amatiran sekalipun—mengenai hambatan yang sering kali ditemui, kira-kira jawabannya akan seperti kalimat di atas.

Mungkin selentingan ketidakpuasan tersebut terucap atas substansi lirik yang cenderung merendahkan perempuan.

“Ugh, saya sudah muak dengan lirik rap yang selalu mengajak tidur bersama. Saya ingin ada revolusi!” Nah, yang ini agak-agak jarang karena tantangannya lebih sulit lagi. Bagaimana cara meramu sebuah lagu dengan pesan yang positif tanpa dituntut menjadi seksi berlebihan?

Tahun demi tahun berlalu. Namun substansi hip-hop masih enggan dirombak secara signifikan. Beredar sebuah hipotesa kurang menyenangkan yang mungkin bisa diamini oleh diri sendiri: tidak ada perempuan yang bisa selamat dari cengkraman agresivitas berlebihan para rapper laki-laki. Mau bukti? Coba sebutkan judul lagu rap terkenal tanpa ada referensi tertentu yang mengarah pada keinginan untuk berhubungan intim (tentunya selain kecanduan ganja dan pesta semalam suntuk). Saya yakin akan ada sedikit sekali judul yang terlintas. Memang ada beberapa lagu yang mengusung pengalaman pribadi (suicide prevention, dst). Tetapi tema seperti itu cenderung kurang membakar interest pasaran. Permintaan akan beat ajojing untuk diputar di lantai dansa dan ditemani dengan lirik yang cenderung seadanya masih merajai tangga lagu hip-hop.

Tentu saja seks masih menjadi tema besar yang doyan diangkat saat ini. Adanya dalih bahwa kebutuhan seksual adalah sifat dasar yang patut dipenuhi dan bersifat universal (karena menyentuh setiap lapisan masyarakat) menjadi justifikasi atas itu semua. Padahal perkembangan hip-hop diilhami oleh pandangan sosial akan berbagai isu. Rasisme turun temurun yang berkembang di ranah institusi, instabilitas ekonomi yang berkelanjutan, marginalisasi politik, glorifikasi kapitalisme sampai degradasi status perempuan. Yang terakhir ini kian dipermasalahkan oleh para akademisi karena mereka terbukti tidak menemukan unsur edukatif pada hip-hop.

Mari kita berjalan kembali ke satu dekade yang lalu ketika masalah ini mulai muncul. Pada tahun 1994, Queen Latifah merilis sebuah lagu yang diberi judul “U.N.I.T.Y” sebagai respon terhadap lirik-lirik rap yang dinilai terlalu diskriminatif terhadap perempuan. “Who you callin’ a bitch?”, tanya Latifah, sebuah pertanyaan yang tentu saja masih relevan untuk dijawab pada saat ini. Respon ini dikeluarkan seiring dengan image perempuan yang oversexualized dan digambarkan sebagai pemuas nafsu laki-laki. Penggunaan bahasa “bitch” dan “hoes” yang cenderung merendahkan juga disinyalir membiarkan kultur pornifikasi tumbuh subur, meski diklaim sebagai ekspresi “empowering” dengan berkata blak-blakan.

Beberapa waktu lalu, dunia musik mainstream geger dengan kemunculan rapper perempuan kulit berwarna yang cukup sensasional. Adalah Belcalis Almanzar, biasa dikenal dengan nama panggung Cardi B. Ia muncul sebagai penguasa chart Billboard setelah Lauryn Hill tercatat sebagai perempuan kulit berwarna pertama yang menempati posisi teratas 19 tahun lalu. Lagunya yang berjudul “Bodak Yellow” yang memuat flow basic dan pesan yang tidak begitu inspiratif dianggap inspiratif dan empowering. Suka atau tidak, Cardi sukses menempatkan diri sebagai gerbang pembuka bagi rapper perempuan kulit berwarna lainnya. Yang cukup menarik perhatian saya adalah bagaimana perempuan kulit disimbolkan sebagai korban opresi laki-laki kini muncul sebagai tokoh inspiratif, memakai busana setipis mungkin sebagai bentuk freedom. Sejak kemunculan Lil Kim dan Foxy Brown yang merintis paham bahwa rapper perempuan harus seksi dengan busana menantang, hal itu dianggap liberating.

Seakan tak memandang warna kulit, perempuan kulit putih pun sulit lolos dari objek pornifikasi laki-laki. Embel-embel white privilege justru tidak lagi menjadi keuntungan karena hip-hop sepenuhnya lahir sebagai kebudayaan orang-orang Afrika Amerika, sehingga rapper kulit putih harus bekerja dua kali lebih keras. Terlebih bagi perempuan, mereka mesti siap menghadapi sentimen bertubi-tubi: selain teknik rap mereka yang di cap “amatiran”, fisik mereka juga siap-siap bakal dikomentari. Iggy Azalea merupakan salah satu dari sekian ‘outsider’ yang telah malang melintang di belantika musik hip-hop. Selama ia dikenal dengan seorang rapper bertubuh molek yang lebih sibuk mengasah keindahan fisik daripada teknik rap-nya. Berkali-kali Iggy dikomentari karena aksen Southern palsu-nya yang kental dan kemampuan freestyle  yang di bawah rata-rata. Well, at least she tried.

Ada tiga aspek yang patut diperhatikan dalam fenomena seksualisasi perempuan dalam hip-hop:

  1. Perempuan seringkali dijadikan “simbol” sex workers, dalam hal ini adalah wanita malam. Lelaki cenderung mencari jasa stripper dan para pelacur untuk memuaskan hasrat seksual mereka.
  2. Suara perempuan dijadikan strategi untuk “menjual” stereotype tertentu soal wanita.
  3. Harkat dan martabat perempuan cenderung didasari oleh loyalitas mereka terhadap laki-laki meski berpotensi menghadapi kekerasan di masa mendatang.

Bagaimana dengan Indonesia? Tak banyak yang dapat diagungkan selain mengetahui jumlah rapper perempuannya yang masih sedikit. Saya cuma mau titip pesan sama Anda, tak peduli apa jenis kelamin Anda: jadilah rapper berkualitas yang mengerti semangat perjuangan dan kehidupan. Daripada berkutat disekumpulan kata tak pantas, lebih baik belajar memperkaya kosakata. Tidak ada yang perlu mengetahui besarnya nafsu seksual Anda, apalagi sampai bermaksud merendahkan harkat martabat sesama manusia. Tapi sebenarnya itu semua mungkin gak sih?  Susah memangkas akar-akar maskulinisme yang kuat di ranah hip-hop? Ya namanya juga untung-untungan. ***

 

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *