LOADING

Type to search

Siapkah Mental Anda untuk Menikah Muda?  

COLUMN

Siapkah Mental Anda untuk Menikah Muda?  

Adela 22/01/2018
Share

Ilustrasi: Nadhif Ilyasa

Dini belia usiamu

Terpaut cinta belum saatnya

Setiap hela nafas yang berdesah

Hanyalah cinta

 

Pernikahan dini

Bukan cintanya yang terlarang

Hanya waktu saja yang belum tepat

Merasakan semua

(Pernikahan Dini – Agnes Monica)

Bagi yang sempat merasakan masa kanak-kanak dan remaja di tahun 90-an, kumpulan bait di atas mungkin akan terdengar familiar. Siapa yang sangka bila liriknya masih cukup relevan untuk menggambarkan fenomena nikah muda masa kini. Semakin diperhatikan, kuantitas penggambaran antara aspek positif dan negatif semakin tak berimbang. Sorak sorai gempita dan penuh warna mewarnai fenomena nikah muda, bahkan cenderung berlebihan. Terasa sedikit sekali yang isinya bersinggungan dengan kesiapan mental untuk kedepannya.

Bergerak ke ranah media sosial, rasanya mata tak berhenti dipuaskan oleh foto-foto ciamik khas pasangan muda. Terlihat seleb-seleb (baik tua maupun muda) asyik menggendong bayi mereka, tidak lupa dengan cerita-cerita yang bikin diri merenung “ih aku juga pengen punya anak! Lucu kali ya.” Bila sudah menyangkut kepentingan jodoh, memang bayangan-bayangan pernikahan sekilas hanya berfokus di lucunya si anak. Berikut dengan foto-foto dengan suami dan anak yang nampak indah. Screw VSCO apps, they might as well deceive your eyes. Barangkali inilah mantra yang harus dirapal oleh para perempuan muda: “Apakah saya memang betul-betul perlu menikah di usia yang begitu muda?”.

“Apakah saya memang betul-betul perlu menikah di usia yang begitu muda?”.

Kali ini, saya membawa kutipan dari ahlinya langsung. Menurut Dessy Ilsanty, M. Psi sebagaimana dikutip situs Kompas, pernikahan muda sering kali dilangsungkan pada zona dewasa muda. Usia-usia dewasa muda (18-23 tahun) adalah masa dimana seseorang sedang melakukan trial and error untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri. Kehidupan mandiri ini bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan diri (meniti karier) atau mencoba homestay di lingkungan yang sama sekali berbeda dengan di rumah. Nantinya, psikis mereka perlahan-lahan akan berkembang menyusul bertambahnya pengalaman. Dari situ, saya percaya bahwa perempuan sudah seharusnya diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan apa yang mereka miliki. Apakah pernikahan di usia belia dapat menggantikan segenap kesempatan yang begitu berharga? Suatu hal yang saya gagal pahami hingga kini.

Ketidakpahaman itu turut dilingkupi oleh sebuah pertanyaan khas dari lingkungan keluarga. Memasuki usia dua dasawarsa, pertanyaan “kamu kapan nikah?” makin gencar memancarkan gaungnya. Sebuah amunisi pamungkas dalam setiap obrolan dengan orang-orang yang lebih tua, dimana semakin minim alasan untuk berkelit. Mulanya saya sempat merasa aman karena diselamatkan oleh prasangka fisik (maklum suka dikira anak SMA hehe iya), namun runtuh ketika mereka mulai menanyakan umur dan jenjang pendidikan.

“Oooh, udah kuliah? Udah gadis, atuh…. Pasti udah punya calon ya, Neng?”

“Calonnya orang mana, Neng? Meuni tos parawan! (Udah perawan ih!)”

“Cepet atuh Neng, ibu nunggu undangannya. Gak baik lama-lama, nanti jadi perawan tua. Serem.”

Dalam hati saya sampai sibuk komat kamit, ini siapa yang mau nikah, kok malah Anda yang serem. Sudah bukan rahasia umum bahwa ada label yang sengaja disematkan pada perempuan yang tak kunjung menikah di usia 25 keatas: “perawan tua”. Mungkin kata “tua” sengaja disisipkan agar memberi gambaran tidak mengenakan pada para remaja perempuan: di usia senja dimana vitalitas dan kualitas hidup cenderung menurun, tertatih sendiri tanpa ada pendamping hidup yaitu suami. Bukannya suami tidak ada karena ia meninggal lebih dahulu, namun lebih kepada si perempuannya yang belum berhasil mendapatkan jodoh. Yakinlah bahwa hampir tidak ada perempuan yang mau menghidupkan bayangan tersebut menjadi kenyataan.

Tak sedikit pula yang diam-diam telah memiliki jawaban dari segudang pertanyaan “masa depan”. Malu-malu tapi mantap, perlahan mereka memperkenalkan pasangannya ke arisan keluarga. Yang bikin satu keluarga geger adalah bocornya “tanggal main”, yaitu pernikahan akan segera dilaksanakan! Semua pun bersukacita menyongsong hari yang tengah dimaksud. Bagian inilah yang terkadang lebih sering mengejutkan saya, mengingat yang menjawab adalah para perempuan seumuran saya atau justru lebih muda setahun-dua tahun. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan mengapa begitu cepat? Apakah mental mereka sudah cukup dipupuk untuk mengarungi bahtera rumah tangga? Lalu bagaimana dengan karier dan pendidikan mereka? Bila tujuannya untuk cepat menghasilkan keturunan, tentunya harus menentukan skala prioritas dan tahu betul apa yang harus dinomorduakan?

Beragam macam tantangan tentunya bisa muncul dari segala arah, salah satunya berasal dari ketidakcocokan dengan mertua. Tidak sedikit yang terjebak dengan polemik yang begitu rumit dan tidak ada ujungnya. Alih-alih saling mengerti, bisa berujung fatal bagi kedua belah pihak yang minim komunikasi. Benturan budaya bisa menjadi faktor. Misalkan, seorang perempuan yang menikah dengan kekasihnya yang keluarganya “mengharuskan” tradisi memasak masakan daerah tetap hidup. Sedangkan perempuan tersebut belum lihai memasak. Otomatis, hampir seluruh waktu dicurahkan untuk memasak mulai dari nol. Belum lagi pembuatan masakan yang cukup rumit dan menghabiskan seluruh tenaga, praktis menyisakan waktu yang minim bagi sang istri untuk mengembangkan diri. Disini ego seorang perempuan juga diuji, apakah dia tetap patuh dengan pendiriannya untuk bekerja atau justru berdiam mengikuti tatanan rumah.

Sebagai salah satu public figure yang sempat vokal dalam urusan beginian, agaknya Agnes Monica harus membuat segmen tersendiri untuk lagunya. Mumpung sudah go international, jadi bisa lebih didengar oleh generasi masa kini. Sejenak membayangkan sekumpulan lagu yang diaransemen apik sekelas produksi “Coke Bottle” atau “Long As I Get Paid”  namun pesannya merupakan lanjutan dari hits “Pernikahan Dini”. Bikin joget sekaligus edukatif. Ditunggu ya, mbak Agnezmo!

Tags:
Previous Article
Next Article

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *