LOADING

Type to search

Sinkretisme, Asimilasi, dan Kegelisahan Modern (Bagian Pertama)

COLUMN FEATURED

Sinkretisme, Asimilasi, dan Kegelisahan Modern (Bagian Pertama)

INCOTIVE 22/01/2019
Share

Teks: Shaquille Noorman
Ilustrasi: Rafii Mulya

Dari Sinkretisme Menuju Asimilasi: Belajar dari Sinkretisme di Masa Lalu

Kilas balik tahun 2018, beberapa kasus intoleransi terjadi di Indonesia dan kemajemukan masyarakat Indonesia terancam oleh diskursus-diskursus yang bernada sektarianisme kerap dilontarkan dengan enteng. Pada bulan Agustus lalu, seorang perempuan etnis Tionghoa bernama Meiliana dikenakan pasal penistaan agama dan diberi kurungan penjara 1,5 tahun hanya karena mengeluhkan suara speaker masjid yang terlalu keras. Di pertengahan bulan Desember, mendiang Slamet yang beragama Nasrani dikuburkan di Pemakaman Jambon Desa Purbayan dengan nisan salib yang dipotong bagian atasnya, lalu tak boleh ada do’a dalam upacara pemakaman.

Peribadatan untuk mendo’akan mendiang tak boleh dilaksanakan di rumah keluarga, dengan alasan karena mayoritas yang dikubur di pemakaman tersebut beragama Islam dan hampir semua warga setempat adalah Muslim, hanya tiga keluarga yang Nasrani. Perihal pelarangan tersebut, walaupun dengan persetujuan keluarga mendiang dan tokoh Nasrani, sikap penolakan adanya praktik ibadah yang berbeda dari agama mayoritas mencerminkan adanya keengganan untuk menerima perbedaan yang ada dan merupakan sifat eksklusivisme yang tertanam dalam di pandangan politis masyarakat terhadap perbedaan keyakinan.

Tendensi sektarianisme dan sikap intoleransi tentu tidaklah ekslusif dimiliki oleh masyarakat masa kini, misalnya peperangan antar kerajaan di wilayah Nusantara jaman dahulu seringkali didorong oleh motif kekuasaan dan agama, oleh hasrat untuk menguasai dan menyeragamkan yang berbeda. Sama halnya dengan pluralitas tak hanya terdapat dalam kawasan perkotaan.

Menurut catatan seorang antropolog Andrew Beatty yang mengamati bagaimana faktor keragaman agama dan keyakinan memengaruhi relasi sosial masyarakat pedesaan, masyarakat desa tersebut justru beragam dalam hal keyakinan, di dalam satu pemukiman terdapat seorang dukun, seorang kyai, seorang santri, dan seorang yang menganut ajaran Kejawen. Mereka dapat hidup berdampingan dalam satu kampung. Pengamatan tersebut berlangsung di suatu desa kawasan Blambangan, Jawa Timur, pada periode tahun 90an.

Beatty menggambarkan bahwa di Desa tersebut para penganut Animisme memberikan sesajen di halaman belakang rumahnya, warga Muslim Shalat di bagian rumahnya yang terlihat dari luar, lalu penghayat Kejawen melakukan ritual dibawah pohon besar, semuanya berjalan dengan damai, tak ada protes bahwa para Santri tak boleh Shalat di wilayah rumahnya yang terlihat dari luar, atau sesajen harus disembunyikan dari penglihatan warga.

Menurut pengamatannya, justru keragaman keyakinan tersebut menyusun sebuah tatanan yang rapi dan harmonis. Kebudayaan di masyarakat seperti acara Slametan, mencerminkan sebuah upaya sinkretisme yang rekursif (terjadi terus menerus), dinamis, dan sebagai faktor konstan dalam reproduksi budaya, dalam hal ini sinkretisme bukanlah sebuah proses pembauran dari berbagai keyakinan yang memiliki hasil tetap. Beatty melanjutkan bahwa sinkretisme yang terjadi di masyarakat desa yang ia amati tersebut merupakan sebuah interelasi sistemik dari berbagai elemen tradisi dan sebuah respon teratur terhadap pluralisme dan perbedaan budaya.[1]

Acara Slametan dihadiri oleh masyarakat desa yang beragam, baik itu mereka yang menganut Islam Ortodoks, penganut Animisme, hingga para penghayat Kejawen. Pada satu pagelaran Slametan, tiap golongan yang hadir memiliki interpretasinya sendiri terhadap ritual tersebut, masing-masing dari mereka ‘sepakat untuk tidak bersepakat’ secara pribadi tentang arti dari ritual Slametan. Dalam acara Slametan, terdapat sesajen dan dupa yang menyala, namun adapula do’a yang dipimpin oleh tokoh Islam, mereka duduk bersama dan berada dalam satu ritual tradisi kebudayaan, walaupun masing-masing punya penafsiran pribadi yang berbeda.[2]

Hampir seluruh agama yang ada di peradaban manusia memiliki setidaknya dua dimensi, yaitu dimensi internal dan eksternal. Dimensi internal agama dapat dilihat dalam wujud spiritualitas atau falsafah ketuhanan/transendental yang tidak terikat oleh ruang, waktu, dan terbebas dari konstruksi sosial, politik, dan budaya. Seperti misalnya Sufisme dalam Islam dan Kabbalah dalam Judaisme. Sisi internal tersebut umumnya berisi tentang nilai-nilai yang lebih universal seperti cinta, kasih, kebaikan, dan ketuhanan.

Sementara dimensi eksternal agama berupa hukum dan adat istiadat sangatlah ditentukan oleh konteks ruang, waktu, dan konstruksi sosial, politik, dan budaya. Agama yang muncul ditengah masyarakat Pagan di Timur Tengah, akan memiliki manifestasi eksternal yang berbeda dengan agama yang muncul di India dalam kurun waktu terpaut ribuan tahun lebih awal.

Sebagai contohnya, kondisi sosial, budaya, dan politik di masyarakat Quraysh Arab abad ke-7 masehi – tempat dimana Agama Islam pertama kalinya diajarkan oleh Nabi Muhammad – membentuk Syariat Islam yang hingga saat ini masih banyak dipegang teguh oleh Umat Muslim, tentu saja konteks sos-bud-pol di masyarakat lembah Indus dari sekitar 2000 tahun sebelum masehi yang disebut sebagai asal muasal Agama Hindu juga membentuk manifestasi eksternal Agama Hindu. Syariat Islam, dan sistem kasta di Agama Hindu dipengaruhi oleh konstruksi sos-bud-pol yang berlaku disaat agama tersebut muncul.

Dalam satu agama pun terdapat berbagai pemahaman teologis yang berbeda, misalnya dalam Islam terdapat golongan Khawarij yang menafsirkan kitab secara literal dan golongan Mu’tazillah menafsirkan kitab secara lebih rasionalis. Dalam konteks yang lebih baru, Clifford Gertz membagi golongan penganut Islam di Jawa di pertengahan abad 20 menjadi “Santri” sebagai Muslim Orthodoks dan “Abangan”, Muslim yang membaurkan ajaran agamanya dengan ajaran dan budaya leluhur Jawa.

Ajaran Hindu yang memasuki Indonesia dan sekarang dominan di Pulau Bali pun melalui tahap akulturasi dan asimilasi, begitupula dengan Agama Islam saat masuk ke Indonesia. Analoginya, jika spiritualitas sebagai sisi internal agama adalah air, maka manifestasi eksternal agama berperan sebagai cawan yang mewadahi air tersebut. Semua manusia membutuhkan air, tapi tidak semua manusia harus meminum air dari gelas yang sama.

Dalam konteks modern, perbincangan mengenai keberagaman umat beragama beralih dari sinkretisme menjadi asimilasi. Masyarakat modern dapat banyak belajar dari keluhuran falsafah spiritualitas di masyarakat tradisional yang membuahkan kompromi untuk saling bertoleransi yang tercermin pada ragam tradisi dan ritual, masyarakat modern pun butuh kedewasaan dalam mencapai konsensus untuk hidup berdampingan satu sama lain dengan damai.

Di Indonesia, hak untuk individu dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan sudah dijamin oleh Undang-Undang (Pasal 29 UU 1945), juga disokong oleh kepatuhan formal Indonesia terhadap Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia yang mengandung gagasan atas kesetaraan derajat manusia, terlepas apapun nasionalitas, agama, seksualitas, ideologi politik, dan latar belakang ekonomi seseorang.

Lalu, mengapa diskursus politik identitas berlandaskan agama yang mengerdilkan hak agama lain justru selalu mendapat podium dan berhasil mengumpulkan massa yang tak dapat diremehkan kekuatan politiknya? Berkaca dari dinamika politik di dunia saat ini, kencangnya diskursus sektarianisme di masyarakat mungkin saja mengecewakan, tapi sama sekali tidak mengejutkan. Ketika perbincangan mengenai keyakinan pribadi individu memasuki ranah politik, maka bibit polarisasi masyarakat mengekor di belakangnya. (Bersambung ke artikel bagian ke-dua)

Referensi:

[1] Beatty, Andrew. Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account. Cambridge: Cambridge Univ. Press, 2004. Hal. 2 – 3

[2] Beatty, Andrew. Loc.Cit. Hal. 27-29

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *