LOADING

Type to search

Melepas Rasa Kangen Dalam Nuansa Nostalgia Pada Spasial Session 12: Falls & Forests

EVENT FEATURED

Melepas Rasa Kangen Dalam Nuansa Nostalgia Pada Spasial Session 12: Falls & Forests

Ferdin Maulana 30/01/2019
Share

Foto oleh Larissa Atmawati

Bagi penggemar dan penggiat scene musik emotive di Bandung, 25 Januari kemarin menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Band emo asal Jepang yang menduduki top album emo Asia versi Bandcamp, Falls, bersama Forest, band asal Singapura mengadakan tur bersama ke Spasial, Bandung sebelum keesokannya tampil di Rossi Musik, Jakarta.

Acara yang diinisiasi oleh label rekaman asal Bandung, Benalu Records yang berkolaborasi dengan label rekaman Lithe records asal singapura digelar secara sederhana melalui acara rutin milik Spasial yang bertajuk “Spasial Session 12: Falls and Forests”.  Sederhana, ya bahkan terlalu sederhana. Tidak ada yang spesial dari venue yang ditawaran kecuali kapasitas dan kualitas sound yang sangat clean and clear anti ketombe. Akan tetapi, line up yang disajikan berhasil membuat venue yang polos menjadi bewarna dan penuh dengan vibes nostalgia. Jujur, rasa kangen saya dengan gelaran scene emo ini lepas seada-adanya dengan senyuman dan hentakan tubuh, sejak tur Turnover di Jakarta 2017 silam.

Acara dibuka dengan penampilan band-band lokal, yaitu Ailis, Glare, dan Hulica. Demi kejujuran jurnalistik, saya tidak bisa membahas Hulica akibat kedatangan saya yang melewatkan pertunjukan band math-rock dan post-hardcore ini. Saya tiba saat Ailis, roster dari Benalu Records mulai beraksi. Penampilan emosional dengan ambience dan melodi gitar yang lebih terdengar post-rock ditambah vokal screamo, mengingatkan saya dengan lagu-lagu dari band emo Amerika, Old Gray dibandingkan referensi mereka yang katanya American Football ini.

Acara dilanjut dengan penampilan band Glare asal Cimahi, yang ternyata vokalisnya adalah teman saya dalam permediaan musik Bandung, Latif. Unit trio emo-violence yang sangat agresif dan terdengar semi-hardcore. Tidak ada yang spesial bagi saya (punten aa latif) akan tetapi, pertunjukan panggung yang jenaka dan energik berhasil membuat penonton ke-asikan moshing, crowdsurfing, dan penuh tertawaan menjadi suatu pemandangan yang menyenangkan bagi saya sendiri. Lagu-lagu dari Glare umumnya sangat singkat, berdurasi sekitar 2-3 menit “Kami band doom-metal jadi durasinya lama” gurau Latif di atas panggung.

Tiba pada penghujung acara, saatnya band asal Jepang, Falls beraksi. Musik midwestern emo yang dicampur unsur math-rock dengan suspended chords yang emosional dibalut efek reverb, delay, dan chorus yang menjadi fundamental musik emo ini membuat saya merasa hyped. Terlebih lagi saya selalu heran bagaimana musisi Jepang mampu membawa nada otentisitas mereka yang khas dalam genre musik apapun. Secara samar variabel referensi band Toe, yang juga asal Jepang terdengar dalam selipan-selipan nada yang disajikan. Musik-musik yang dibawakan Falls terdengar seperti soundtrack anime (iya, bau bawang), dan terasa sangat familiar dengan nuansa coming of age. Drummer Falls, merupakan sosok yang paling memorable bagi saya, sejak lagu pertama sampai akhir, semangatnya memukul drum tak juga pudar, sampai-sampai di pertengahan lagu ke-empat, stick drum nipponjin ini patah.

Setelah sekitar 45 menit sejak Falls mewarnai venue, akhirnya sampai juga pada headliners terakhir pada malam itu, Forests, band asal Singapura yang merupakan roster dari Lithe Records. Forests membawakan musik-musik emo generik yang berbalut riff math-rock dan sentuhan reverb, hampir serupa namun tak sama dengan band asal California, Mom Jeans, dan band Xinfoo & Roy yang juga berasal dari Singapura. Tipe musik-musik yang mengisi masa naif remaja saya. Meskipun album “Spending Eternity In A Japanese Convenience Store” membuat saya jingkrak-jingkrak sendiri di kamar, tetapi malam itu saya sadar tidak ada yang spesial dari live performance Forests.

Tidak ada! Sumpah, tidak ada hal baru yang ditawarkan! Tapi kenapa pada setiap lagu, pola bibir saya perlahan membentuk senyuman? Ah sial! Saya yang tadinya berada di sudut belakang venue, tiba-tiba sudah di depan panggung bersama kerumunan yang euphoric melantunkan “You’re the best, i’ve ever had, in my stupid life!”. Ternyata hati kecil saya berbisik kepada rasionalitas saya bahwa Forests ini lumayan juga. Sejujurnya, satu-satu hal yang menarik dari Forests adalah bassist yang juga frontman mereka ternyata fasih berbahasa Indonesia, dan setelah dikonfirmasi ke panitia acara, katanya memang orang Indonesia. Setiap kalimat bahasa Indonesia yang diucapkan sang bassist pada jeda perlagu terasa awkward, jadi kalo boleh kasar saya ingin berteriak: “Diamlah! Biarkan musik kalian yang berbicara!”.

Pada akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih serta menunjukan apresiasi saya kepada setiap variabel yang berperan dalam terjadinya “Spasial Session 12”. Bukan karena acara tersebut luar biasa, tetapi karena acara ini berhasil melepas rasa kangen dan nostalgia saya. Mungkin ini yang orang-orang bilang “Musik sebagai pengalaman personal”.

Tags:
Ferdin Maulana

Penulis dan Ketua Geng Incotive. Suka ngurusin isu eksternal di PVL Records, dan Manager dari band Dream Coterie.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *