LOADING

Type to search

Stinghaze “Intrik”: Distorsi Masalah Sosial di sekitar

DAILY FEATURED

Stinghaze “Intrik”: Distorsi Masalah Sosial di sekitar

INCOTIVE 29/08/2019
Share

Teks oleh Andi Basro

“Tema yang Stinghaze bawa menarik dan kritis. Sayangnya, mereka tidak menawarkan hal yang baru dalam desain sound

Band heavy rock asal Jakarta, Stinghaze merilis single ketiga mereka yang bertajuk  “Intrik”. Stinghaze mengambil inspirasi dari band-band seperti Black Sabbath, Led Zeppelin dan Deep Purple. Bahkan nama mereka diserap dari lagu Jimi Hendrix berjudul “Purple Haze”. Personil mereka terdiri dari Yoga (Gitar), Rei (Gitar), Panji (Vokal), Fikar (Bass) dan Risky (Drum).

Tema yang diangkat oleh Stinghaze sendiri adalah isu yang terjadi di sekitar. Stinghaze Menggunakan musik sebagai medium untuk mengekspresikan keresahan terkait masalah-masalah sosial di sekitar. Pada rilisan single ketiga mereka, Stinghaze mengangkat fenomena Pemilihan Presiden 2019 lalu, terutama kejadian 22-23 Mei lalu di depan BAWASLU.

Musisi yang kritis dalam perihal politik memang dibutuhkan dewasa ini lebih dari sebelumnya. Indonesia adalah negara yang masih berkembang, oleh karena itu setiap langkah yang diambil pemerintah harus tetap diawasi. Indonesia juga akhir-akhir ini mengalami kontroversi, akhir-akhir ini ada kerusuhan di Papua, Jokowi memutuskan untuk pindahkan Ibu kota, dan kerusuhan 22-23 Mei yang diungkit oleh Stinghaze.

Single yang dirilis pada 30 Juli lalu dengan isu-isu yang mereka ungkit dalam liriknya, membuat timing keberadaan band Stinghaze menjadi tepat. Mereka tidak takut menggunakan kebebasan berpendapat mereka dalam era dimana PC (Politically Correct) culture sedang marak-maraknya.

Saat mendengarkan Intrik, referensi mereka terdengar sangat jelas. Dalam “Intrik” permainan riffs, efek distorsi dan fuzz sangat dominan. Sound yang mereka sajikan sudah tidak asing di kuping saya. Hal tersebut menandakan mereka belum memberikan kontribusi lebih dalam menyegarkan genre heavy rock.

Apa yang Stinghaze lakukan bukanlah sesuatu yang groundbreaking. Itulah tantangan yang dibawa ketika berkiblat kepada band seperti Led Zeppelin dan Black Sabbath. Sudah kelewat banyak band yang mengambil referensi dari band tersebut, dan tidak hanya dalam genre rock.

Stinghaze seperti Wolfmother versi Indonesia, dan pernyataan itu bukanlah suatu komplimen. Di samping itu, harus diakui, menciptakan karya yang berbeda dan baru dalam genre heavy rock memang sulit. Namun kita bisa mengambil contoh dari IDLES, yang mampu menjadi udara segar untuk genre rock secara umum.

‘Intrik’ sangat mudah untuk dinikmati dan lagunya pun catchy. Tema yang mereka bawa menarik dan kritis. Sayangnya, Stinghaze tidak menawarkan hal yang baru dalam desain sound. Jika kalian sedang sakaw dengan musik heavy riffs yang meningkatkan adrenalin, maka “Intrik” dari Stinghaze adalah pilihan yang tepat untuk anda.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *