LOADING

Type to search

Sundancer Menunjukkan Sisi Lain dari Anak Punk lewat “Firasat”

DAILY FEATURED

Sundancer Menunjukkan Sisi Lain dari Anak Punk lewat “Firasat”

Andi Basro 19/04/2020
Share

Bayangkan hubungan anda dan orang yang anda sayang berakhir apapun alasannya. Lalu melihat dia sudah bersama pasangan yang baru, sehingga anda hanya bisa mengucapkan omong kosong seperti “kalau dia senang aku juga senang” dalam hati dan berbohong kepada diri sendiri. Kondisi seperti tadi yang ada di benak saya saat mendengarkan single terbaru Sundancer “Firasat”.

Bersamaan dengan hari diberlakukan nya PSBB untuk wilayah DKI Jakarta, pada tanggal 10 April, Duo garage punk asal Lombok, Sundancer, kembali meluncurkan single terbaru berjudul Firasat. Melanjutkan kerjasama dengan Lamunai Records, single kedua ini menjadi bagian dari mini album yang direncakan akan rilis pada pertengahan tahun ini, setelah sebelumnya tampil ugal-ugalan di debut EP Musim Bercinta (2018) dan heroik di single Pusaka Abadi (2019).

Single Firasat sekilas terasa seperti lagu pop balada manis era 60-an, berandai-andai diproduseri oleh Phil Spector dengan alat perekam mono agar mendapatkan kualitas Wall of Sound yang mumpuni supaya lagu ini mempunyai kadar gula tinggi (ala The Everly Brothers, The Ronettes atau The Ramones) yang akan segera memberimu penyakit diabetes dan kencing manis jika didengarkan terus-menerus.

“Single ini ceritanya tentang seorang pria yang berpegang teguh akan nilai-nilai yang diyakininya, kisah seorang punk rocker saat patah hati atau sekedar menjadi teman di saat sendu dan peliknya keadaan kita sekarang.” Kutipan dari Sundancer sendiri dalam mendeskripsikan tema lagu yang sangat menyegarkan bagi penggemar musik keras.

Sering kali orang-orang yang suka musik punk atau metal dianggap sangar dan slengean, tapi dalam lagu ini Sundancer mengekspresikan bahwa anak punk dan penggemar musik keras lainnya juga punya hati. Mereka tidak selalu liar dan petakilan, tetapi juga bisa merasakan galau karena perempuan. Stigma terhadap anak punk masih ada sampai sekarang, sangat bagus Sundancer berupaya untuk memecahkan stigma tersebut melalui perspektif yang lebih introspektif.

Instrumental-nya sangat minimalis, tidak ada permainan teknikal yang tak perlu. Cara delivery vokal mengingatkan saya kepada vokalis Dead Kennedy’s, Jello Biafra, tetapi penyampaian Decky Jaguar (Vokalis Sundancer) lebih pelan dan depresif. Vokal, instrumental dan tema mengalir sangat baik dengan satu sama lain layaknya aliran sungai yang saling bermuara di lautan.

Rilisan terbaru Sundancer “Firasat” sangat cocok untuk masa-masa yang kita alami sekarang. Semoga Sundancer terus membuahkan karya seperti ini ke depannya.

Tags:
Andi Basro

Poser HC yang berusaha mengedukasi soal musik tanpa memiliki kemampuan bermusik.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *