LOADING

Type to search

Superfine Kembali dengan Music Video Rabbit Hole yang Bercerita Tentang Gangguan Jiwa

DAILY FEATURED

Superfine Kembali dengan Music Video Rabbit Hole yang Bercerita Tentang Gangguan Jiwa

INCOTIVE 05/05/2019
Share

Teks oleh Jaka Jeye

Album sekaligus lagu yang bertajuk “Rabbit Hole” karya Superfine terinspirasi dari kondisi gangguan jiwa yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental manusia.

“Music is a moral law. It gives soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and charm and gaiety to life and to everything” (Plato).

Ujar Tiar Renas saat ditanya mengenai berdirinya group musik beliau. Ya, bagi kalian yang sudah akrab dengan nama “Tiar Renas” atau bahkan sering mendengarkan karya-karyanya mungkin sudah tidak asing dengan keberadaannya dalam salah satu grup musik yang awal bulan ini genap memasuki umur ke-10 tahun, yaitu Superfine.

Superfine sendiri berdiri pada 1 Mei 2009, yang di dalamnya beranggotakan tiga orang yakni Nancy Christ (Vokal), Tiar Renas (Gitar), dan Ghusni Ibrahim (Gitar). Nama Superfine sendiri disepakati oleh bersama sebagai suatu konsep berkarya dengan arti secara bahasa yakni “Sangat Baik”. Nama tersebut diharapkan bisa mencapai pada arti tersebut “Kami ingin selalu mencapai titik Superfine, setidaknya bagi diri kami personal dan kepuasan secara internal” Ujar Ghusni Ibrahim melalui surel.

Group musik yang meleburkan esensi rock dalam ragam bentuk ini kabarnya pernah menghiatuskan diri pada tahun 2014 sampai dengan 2017, hal tersebut bukan semata-mata tanpa alasan. Tiar menjelaskan bahwa mereka membutuhkan ketenangan untuk berpikir, serta mereka juga merasa perlu adanya sesuatu yang dibangun ulang terutama dalam wilayah yang bermuara pada proses kreatif. Selama proses “menghiatuskan”, kabarnya mereka juga tidak saling bertemu satu sama lain dan hal itu dibenarkan oleh Tiar sendiri dengan harapan ketika dipersatukan kembali masing-masing dari kami (Superfine) membawa banyak perspektif.

Rehat sejenak dalam waktu yang cukup lumayan lah ya, 2017 mereka kembali dipertemukan kembali dengan materi yang sudah dibuat dan dieksekusi pada 2013 silam, dimana mereka masih duduk di bangku kuliah. Materi yang dibawa pada tahun 2017 lalu yakni sebuah mini album yang bertajuk “Rabbit Hole” dengan single pertamanya yang berjudul “Sound of Wild” yang resmi diperkenalkan pada 2017 lalu bersama Bhang Records.

Selang dua tahun, lebih tepatnya pada pekan kedua bulan lalu yakni tanggal 13 April 2019 Superfine resmi menutup debut kampanye mini albumnya dengan merilis sebuah music video dengan judul yang sama dengan tajuk mini albumnya yakni “Rabbit Hole”. Dalam perilisan ini Superfine menggunakan konsep kolaborasi dengan menggandeng serta mempercayakan konsep visual kepada kolektif film satu kotanya, yakni Gerombolan Struzzo. Selain itu, music video ini juga melibatkan pelbagai kerja kolektif lintas disiplin seperti Magentalangit (Lighting Artist) dan juga Self Original Toy (SOToy).

Dalam rilisan pers yang diberikan kepada Incotive, lagu Rabbit Hole sendiri melibatkan banyak musikus seperti Arbi Wardani (drum), Tobieng Halim (bas), Rizal Zhacri (Piano synth). Sedangkan untuk proses rekamannya dikerjakan di Escape Studios (Bandung), Infinite Labs (Bandung), dan Gladiresik Music Lab (Jakarta). Lain dengan hal mixing, Superfine menyerahkannya pada Cil Satriawan sedangkan untuk mastering dilakukan oleh Avedis Mutter (Aftercoma) dimana Avedis merupakan anak dari Richard Mutter, yang dikenal sebagai drummer PAS Band era awal.

Berbicara soal rekaman yang sampai menggunakan tiga tempat dan dalam dua kota, dalam hal ini pasti mengeluarkan budget produksi yang tidak sedikit. Saat saya singgung soal budget yang dikeluarkan, Tiar merespon “Lupa, ha-ha-ha. Jawaban paling masuk akal mungkin silahkan nilai dan ukur sendiri angkanya dengan logika intellectual property rights (IPR)” melalui surel yang dikirimnya pada (2/3) lalu.

Melihat jawaban tersebut, saya yang sedang bersiap-siap pergi ke kampus dan membuka gadget karena ada notif pesan di surel dari Tiar, saya sontak sedikit tertawa tipis karena sudah tahu akan jawaban yang dilontarkan, karena menurut saya dalam hal ini Group musik tidak ingin terlihat “sombong” atau “memamerkan” segi financial yang dikeluarkan dan juga bagi saya yang terpenting dari sebuah rilisnya debut album, lagu, atau music video bukan dari segi finansial yang dikeluarkan, akan tetapi dalam segi karya yang disampaikan.

Apa yang dipertanyakan di atas rasanya terjawab, faktanya Rabbit Hole sendiri merupakan sebuah lagu yang terinspirasi dari sebuah kondisi gangguan kejiwaan yang berdampak pada kesehatan fisik dan jiwa manusia yang disepelekan atau dalam konteks ini yakni “depresi”. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) ada 300 juta orang di dunia megalami depresi. hal tersebut ada yang ditangani dengan obat-obatan, secara psikologis, bahkan ada juga yang tak bisa ditangani hingga berakhir bunuh diri. Dalam hal ini juga Nancy Christ menjelaskan bahwa “hal tersebut kami dapat (Superfine) dari hasil pantauan rutin secara berskala dari situs resmi www.who.int”.

Mendengarkan sekaligus membaca rilisan pers yang diberikan dalam sebuah kamar kost di daerah Komplek Puri Indah Jatinangor, lagu ini membuat saya berpikir mengapa banyak sekali di lingkungan saya yang berpikiran ingin mengakhiri hidup (bunuh diri), akan tetapi lingkup sekeliling saya (termasuk saya) sendiri masih acuh dengan kondisi orang-orang yang mengalami hal tersebut (depresi), ya meskipun itu kembali lagi kepada perspektif diri sendiri. Jujur dengan lagu ini saya sendiri sempat berpikir ingin membantu jika ada teman sekeliling saya mengalaminya, namun bingung cara awal pendektannya.

Saya rasa dengan adanya music video Rabbit Hole yang berdurasi 8 menit 30 detik dapat memberikan sebuah semangat baru bagi para pendengar, pembaca, atau penonton yang sedang mengalami hal di atas untuk tetap bersemangat dalam hidup. Dalam hal ini satu hal yang sangat saya apresiasi dan buat saya kagum saat membaca jawaban yakni “setiap manusia pasti mengalami masa terpahit dalam hidupnya sampai merasa (mungkin) mati lebih baik. Namun, akal sehat kita yang akhirnya bisa menyeimbangkan emosi itu dan justru menjadikan pahit, luka, sakit sebagai energi positif untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Tentu harapan kami yang paling utama adalah berhasil membuat lagu ini menjadi sbuah energi positif, setidaknya bagi kami dan juga bisa berbagi pengalaman kami tentang rasa itu kepada apresiator” ujar Ghusni Ibrahim melalui surel yang sama.

Lontaran kata-kata Ghusni tersebut bisa dijadikan sebuah acuan untuk bangkit dari suatu keadaan tersebut, karena hidup tidak mungkin begitu saja jika tidak ada kemauan untuk merubahnya. Saya rasa kata-kata tersebut dapat disaingkan dengan inspirator MT yang sudah lama hilang sejak skandal hahahahaha.

Akan tetapi, ketika saya mendengarkan lagu “Rabbit Hole” sebelum membaca rilisan pers, saya seolah-olah mengantuk dan bahkan tertidur dengan lagu ini. Entah karena efek adanya shynt dan ambience yang gelap, ditambah pembawaan yang selow, atau karena memang dasar saya yang mengantuk. Dalam hal ini bukan berarti saya menyinggung musikalitas yang tidak energik atau segar, namun itulah yang saya rasakan ketika hanya mendengarkan nada saja. Berbalik dengan mendengarkan lagu Superfine yang berjudul “Kotemplasi Dini Hari” dengan alunan harmonikanya, saya tidak merasa mengantuk melainkan saya seolah sedang menyeduh kopi hangat ketika mendengarkan.

Terlepas dari hal yang saya rasakan ketika mendengarkan dan menonton sajian music video “Rabbit Hole” oleh Superfine, saya pikir single ini sangat cocok didengarkan oleh kalian yang sedang mengalami fase terberat dalam hidup, karena suasana serta lirikal jika dibaca serta dihayati bisa menjadi sebuah motivasi tersendiri untuk diri kita yang sedang memikul beban besar tersebut. Sekaligus di akhir penutup ini, single “Rabbit Hole” dapat dinikmati dalam format digital lewat platform streaming seperti Spotify dan lainnya. Khusus untuk music video ini, bisa langsung ditonton dalam kanal Youtube channel Bhang Records, so tunggu apalagi!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *