LOADING

Type to search

Surat untuk Paman Donald

COLUMN

Surat untuk Paman Donald

INCOTIVE 27/12/2017
Share

Ilustrasi oleh Adam Noor Iman

Dear Paman Donald,

Surat ini saya mulai dari pembahasan sebuah peristiwa yang terjadi pada pertengahan Maret 2017.  Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan sengaja mencanangkan untuk “membunuh” dua buah lembaga kebudayaan penting di Amerika Serikat. Padahal, kedua lembaga tersebut memiliki sumbangsih yang sangat penting bagi negaranya.

Lembaga federal independen itu bernama National Endowments for the Arts (NEA) dan National Endowments for the Humanities (NEH) yang disahkan oleh Undang-Undang Kongres Amerika Serikat sejak 1965. NEA adalah tumpuan bagi seniman, desainer, peneliti-akademisi, pekerja kreatif, ahli museum, insan perfilman, institusi pendidikan, dan organiser festival budaya raksasa di Amerika Serikat. Mesin politik pemerintahan Trump memperlihatkan wajah kejinya, yang berakibat pemerintahannya harus menghadapi protes seluruh komunitas masyarakat seni dan ekonomi kreatif di AS. Menurut informasi yang dilansir New York Times, pada pertengahan Maret lalu, Gedung Putih merilis draf yang berisikan daftar teratas lembaga-lembaga yang dianggap memberatkan anggaran nasional.

Paman Donald seharusnya wajib belajar pada negara sejawatnya di Eropa, yang menggelar festival seni kontemporer terpenting sejagat, Documenta 14 di Jerman dan Yunani. Tak peduli Eropa sedang dilanda krisis keuangan, pengungsi Timur Tengah dan terorisme global, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Presiden Yunani Prokopis Pavlopoulos, April lalu meresmikan lima tahunan yang dihelat sejak 1955 bernama Documenta. Untuk pertama kalinya Documenta 14 diresmikan di luar wilayah Jerman, dimulai di Athena, Yunani. Sedangkan mulai Juni sampai September depan tetap digelar di Kassel, Jerman.

Gelaran Festival Documenta 14 tahun 2017 ini sejak awal memang terasa “panas-dingin”. Sebuah pesta seni budaya yang memikat jutaan publik luas dan seniman-seniman, aktivis, edukator, arsitek sekaligus desainer terbaik sedunia yang sempat memancing polemik di Eropa. Sejak beberapa tahun belakangan memang Jerman dan Yunani berupaya mencari jalan tengah di antara ketegangan persoalan krisis serius keuangan yang melanda Yunani. Kemudian, bagaimana Jerman meninjau ulang program bail-out-nya berupa pemberian utang ke negara berperadaban tua itu. Ironisnya, hal tersebut dianggap oleh sebagian kekuatan-kekuatan politik di Athena mempercepat Yunani ke jurang kebangkrutan.

Tema besar festival ini, “Learning to Athens” membuka cakrawala, menyatukan hati ingin kembali menekuni jejak para bijak-bestari yang melahirkan budaya agung Eropa dan kejayaan peradabannya selama ribuan tahun itu dengan sebuah gelaran pesta seni dan budaya. Documenta 14 adalah sebuah politik kebudayaan yang nyata dari Eropa. Sebuah contoh, karya milik seniman Marta Minujin yang dipamerkan dan menyedot kekaguman pengunjung karena ukuran raksasanya.

Ia menyalin kuil Parthenon dan pesannya yang mempromosikan demokrasi yang dianggap sebagai “pilar kebudayaan liberalisme barat” berakar dari filsuf Yunani, Aristoteles. Minujin, menyebut karyanya dengan mengasosiasikan pengalaman kelam negerinya, di Argentina, tatkala junta militer (1976-1983) yang merepresi rakyat berakhir. Dengan demikian, kebebasan, prinsip-prinsip berpendapat dan mengeluarkan pikiran, yang berupa buku-buku yang dianggap terlarang juga telah sirna. Minujin dengan ide proyek seni instalasi buku berjudul “the Parthenon of Books” menyalak keras di Kassel. Minujin dan timnya, menggalang donasi buku-buku yang dianggap terlarang secara politis dari seluruh dunia, selama berbulan-bulan, memperkuat relasi simbol-simbol Yunani, budaya Barat dan pengaruhnya di dunia modern jelas menampaman.

Selain perhelatan Documenta 14, Paman Donald saya anjurkan juga untuk belajar pada Venice Art Biennale (La Biennale di Venezia) – 57, perhelatan dua tahun sekali ini digelar di kota Venesia, Italia. Pada tahun 2017 ini Venice Art Biennale mengambil tema “Viva Arte Viva”. Tema ini memfokuskan seniman yang berpartisipasi untuk membicarakan sebuah isu yang dekat dengan mereka. Yang menarik hampir semua paviliun merespon isu – isu yang berbau “politis”, sebagai contoh paviliun Jerman yang menjadi sorotan dalam perhelatan ini.

Tema yang diambil paviliun Jerman membicarakan persoalan migrasi, dan masalah kependudukan. Hal ini terlihat pada karya performance Anna Imhof yang mengganggu dan menarik perhatian publik. Anna memberikan pengalaman mengerikan, dan memandang rendah pada sesama makhluk seperti yang terjadi pada era pemerintahan Nazi. Pengambilan tema tersebut merupamanan respon dari isu global yang salah satunya disebabkan oleh kebijakan pemerintahan Trump yang terkesan rasis.

Sebelum mengakhiri surat ini, izinkan saya mengutip perkataan sejarawan cum filsuf Inggris, Arnold J Toynbee.

I do not believe that civilizations have to die because civilization is not an organism. It is a product of wills

Toynbee, memang menyatakan bahwa peradaban tak pernah binasa. Sekarat bisa jadi. Tapi, peradaban tetap hidup secara laten. Sebab sejatinya ia adalah eros (energi hidup) yang menjadi cawan dari minuman anggur bernama: kebudayaan. Kebudayaan seperti kita tahu, adalah sekumpulan totalitas manusia merefleksikan dirinya dengan realitas dan lingkungannya, mengada membentuk komunitas-komunitas adab. Dari sana, nalar dan intuisi abstraktif menghadirkan sistem dan nilai sosial, yang dengannya lembaga kebudayaan, politik dan ekonomi mencipta objek-objek (artefak) atau ilmu pengetahuan yang bermaslahat bagi umat manusia.

Jadi Paman Donald harus mempertimbangkan kembali perihal pembubaran dua Lembaga federal independen, sebab lembaga tersebut adalah tonggak kebudayaan bagi negara yang anda pimpin. Tanpa kebudayaan niscaya keagungan Amerika Serikat yang anda banggakan akan runtuh. Terima kasih.

 

                                                                                                                        Salam Hangat,

Ekalaya.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *