LOADING

Type to search

Tentang Telur Palsu dan Kepedulian Transendental

COLUMN FEATURED

Tentang Telur Palsu dan Kepedulian Transendental

INCOTIVE 06/04/2018
Share

Teks: Rahadian Bahri

Ilustrasi: Mutiara Fakhrani

Beberapa minggu lalu kita digegerkan dengan beredarnya berita tentang telur palsu. Seorang bapak, di dalam sebuah video, terekam (tak pernah mati) sedang menjelaskan kepada segelintir orang dan ibu-ibu bahwa telur yang ada di sebuah warung adalah telur palsu. Beliau membuktikannya dengan memecahkan telur-telur yang ada dan menunjukkan kuning telur yang tidak mudah hancur walaupun sudah dimainkan, digoyang-goyang dari tangan ke tangan partisipan.

“Lihat bu, kuat sekali ini kuning telurnya, tidak hancur-hancur. Kalo aslinya mah gak sekuat ini” Begitulah kira-kira dalil-dalil yang beliau sampaikan kepada orang-orang untuk menunjukkan sahihnya pernyataan beliau.

Mereka juga ikut mencoba memainkan kuning telur tersebut, tak pecah pun itu kuning telur. Mereka percaya, ibu-ibu pun percaya. Dibuat makin sahih itu kepalsuan telur dengan adanya bapak lain yang berseragam dan mengenakan tanda pengenal yang membulatkan omongan bapak penguak telur palsu itu.

Reaksi pun muncul setelah video viral. “Hoax”, “Pembodohan”, “Monopoli kapitalis”, “Prajurit moral prematur!” Ada juga reaksi “wah hati-hati nih gila emang aseng udah ah jangan makan telur makan omelette aja”, ibu-ibu pastinya (yang berujar demikian). Bapak saya reaksinya ketawa, tetapi ibu saya percaya. “Memang kuliah merupakan bukti anda pernah sekolah, bukan pernah berpikir” begitu kata seorang dosen.

Perspektif Kebatinan

Sejak video ini beredar, saya tidak langsung mengatakan ini hoax. Saya coba resapi dalam-dalam kenapa si bapak mengatakan itu. Menurut saya, apa yang ingin disampaikan bapak ini cukuplah menggugah dan menyadarkan. Beliau bukan sedang berusaha meyakinkan, melainkan protes.

Bapak ini begitu berusaha mengatakan “ini telur palsu, kuning telornya kuat banget gak ancur-ancur”. Itu merupakan satir bagi kita. Apa yang ingin disampaikan Bapak itu kepada khalayak sesungguhnya adalah:

“Hai masyarakat, lihatlah tabiat kalian yang suka judging book by its cover dan tidak peduli pada mental illness sampai-sampai ada telor yang palsu. itu telor-telor sebegitu muak sama acuhnya kalian-kalian pada mental illness sampai akhirnya mereka, bahkan dari belom jadi ayam yang siap turun ke social life, memalsukan jati dirinya seakan paling kuat dan tidak mudah hancur”

Bapak ini sudah lelah menatap dunia yang makin hari makin urban, dan akhirnya melahirkan tabiat-tabiat yang sangat brengsek punya. Apa yang ia sesungguhnya sampaikan adalah sebuah peringatan bagi kita untuk lebih peduli kepada sesama.

“Lihatlah kalian lihat! Telur palsu ini kalo digoreng bakal asin! Itu air mata yg terinvestasi bahkan sedari ayam ini masih telur, perih menahan getir kelakuan kalian sekarang” Tambah beliau dalam benaknya.

Jika dilihat-lihat, deep juga si bapak. Usut punya usut ternyata dia anak DKV semasa mudanya. Suka berdiskusi di warung dekat kosan, membahas emosi, agama, dan Andy Warhol sambil menyetel Slowdive yang sudah dikenalnya dari tahun 89. Dari situ timbullah jiwa-jiwa martir dalam dirinya. “It’s better to burnt out than fade away” tertulis di dinding kosan, juga terpatri di otaknya.

Untuk kalian yang berpendapat bahwa ibu-ibu itu setuju begitu saja dengan si bapak penguak kepalsuan dan bilang itu ibu-ibu bodoh, tolong jangan dulu. Saya sendiri merasa ada beberapa suara “oooh iya” dari satu dua ibu-ibu yang bernada beda, seakan dia tau arah Bapak mau bicara apa. Ada ibu yang bilang “wah teliti ya si bapak”. Menurut saya apa yang si ibu iyakan adalah “Bapak ini punya pemikiran antitesis terhadal sikap egois generasi millenial, yang lebih mementingkan sikap keakuan”.

Sudah ada klarifikasi dari instansi-instansi bahwa itu hoax. Bapak itu hanya berbaring di kamarnya sambil tersenyum, membayangkan bagaimana pemikiran transendentalnya menjadi olokan bagi mereka yang sudah terlanjur kotor. Ia jadi tahu apa yang dirasa Nasruddin Hoja di tiap aksinya.

Artikel ini disadur dari laman Line pribadi penulis dan telah disunting oleh tim kami

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *