LOADING

Type to search

The 9th Music Gallery: Tempat Baru, Semangat Baru

EVENT FEATURED

The 9th Music Gallery: Tempat Baru, Semangat Baru

Abyan Hanif 15/03/2019
Share

Foto oleh Larissa Atmawati

Pada tahun 2019 ini, Music Gallery yang diselenggarakan oleh BSO Band Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia memasuki gelar ke-9 mereka yang bertajuk The 9th Music Gallery. Megahnya acara bisa dibilang hampir sama dengan gelaran Music Gallery yang diadakan tahun 2018 kemarin. Pihak acara secara konsisten mengundang artis luar sebagai artis utamanya, walaupun artis-artis lokal pun sama kerennya.

Edisi Music Gallery kali ini diselenggarakan di kawasan Gelora Bung Karno atau tepatnya di Tennis Indoor Senayan, berbeda dengan edisi sebelumnya yang diadakan di Kuningan City. Saya mencapai venue pada pukul 14.00, sebetulnya saya sudah tiba di lokasi sekitar pukul 12 siang, namun karena kondisi cuaca Jakarta yang sedang panas-panasnya, saya memutuskan untuk bermalas-malasan dulu di dalam mobil sembari menikmati dinginnya AC mobil dan merdunya suara Robert Plant melalui earphone kesayangan. Kedua hal tersebut lah yang membuat saya kelupaan untuk masuk lebih awal ke dalam lokasi.

Ketika masuk ke dalam venue, saya disambut oleh gapura bertuliskan The 9th Music Gallery dan beberapa logo sponsor acara. Saya memutuskan untuk berkeliling sekitaran venue untuk melihat dua stage yang sudah disiapkan dengan kualitas yang sama bagusnya. Ketika itu di panggung outdoor yang diberi nama Ashbury Stage, MUSPRO sedang tampil untuk memukau penonton, yang ketika itu masih sangat sepi, mungkin karena faktor cuaca yang menyurutkan penonton untuk melihat penampilan mereka. Di stage indoor atau Haight Stage giliran ASD TRIO yang kebagian giliran unjuk gigi dan ternyata kebanyakan penonton sudah datang ke venue  terlihat sedang duduk di depan panggung. Ada-nya AC di  stage indoor membuat mereka nyaman ‘nongkrong’ di dalam.

Setelah ASD Trio, giliran band muda pendatang  baru asal Bandung, Dream Coterie yang naik ke atas panggung. Dream Coterie merupakan pemenang band submission yang digelar oleh Music Gallery dengan musik mereka yang bernuansa soul funk. Sedikit disayangkan di dalam stage indoor meskipun dilengkapi dengan visual yang memukau, sound yang dihasilkan kurang baik. Akan tetapi, saya berpendapat mungkin bukan dari faktor sound system melainkan dari faktor ruang. Ruangan auditorium yang bisa dibilang cukup sempit dan akustik ruang membuat suara output mantul-mantul tidak karuan.

Setelah Dream Coterie, saya keluar untuk melihat keadaan panggung outdoor dan kebetulan Oscar Lolang sudah hampir menghabiskan setengah setlist-nya. Meskipun hanya setengah, hati saya tetap bergembira setiap kali menonton Oscar Lolang. Situasi penonton di luar sudah mulai memenuhi ruang di depan panggung Ashbury. Dengan dibantu oleh The High Temples, Oscar sukses membuat penonton terbius dengan lantunan gitar dan vokalnya yang merdu dengan lagu green man yang didaulat sebagai lagu terakhir.

Setelah Oscar Lolang dilanjutkan dengan penampilan dari Band senior yaitu Rumahsakit, salah satu band yang saya tunggu-tunggu namun ekspektasi saya agak sedikit dikecewakan karena kualitas sound yang menurut saya kurang pas untuk band dengan kaliber seperti mereka. Selain itu, karakter yang dibawakan oleh Muhammad Arief lebih ke arah positif dan banyak interaksi dengan penonton, berbeda dengan vokalis mereka sebelumnya yang lebih terkesan bodo amat. Namun dari yang awal-nya merasa kecewa setelah dua tiga lalu berlalu, saya akhirnya tetap terhibur dengan penampilan mereka dan menghasilkan kesan yang berbeda dari sebelumnya, ternyata bukan hal buruk juga.

Setelah pertunjukan itu, kami dari Incotive berkesempatan untuk mewawancarai Rumahsakit, sehingga melewatkan beberapa penampil. Kami kembali ketika Daramuda sudah sampai pada dua lagu terkahir mereka. Keadaan panggung lebih banyak dipenuhi oleh kaum adam, terlihat begitu menikmati alunan musik yang disuguhi oleh Daramuda ditambah dengan waktu perform kala senja menjadi pas untuk lagu lembut yang mereka bawakan.

Setelah itu, saya kembali masuk ke panggung indoor untuk menyaksikan The Trees and The Wild. Seperti biasa TTATW selalu menyuguhkan penampilan magis lewat permainan soundscape ditambah ambience tata lampu yang mampu membuat penonton bengong khusyu sambil senyum-senyum sendiri.

Setelah TTATW, tiba waktunya Elephant Kind membawakan single-single teranyar. Ruangan indoor dipenuhi audiens yang didominasi oleh kaum hawa. The Upstairs di daulat sebagai penampil lokal terakhir, namun sedikit tidak sesuai ekspektasi saya ketika mereka tidak membawa kan tembang-tembang favorit seperti Sekelebat Menghilang dan Matraman.

Massa semakin memenuhi area stage ketika FUR sedang bersiap untuk main. Saya yang tidak terlalu tertarik dan hanya tau satu lagu agak sedikit geser untuk memberi ruang untuk mereka-mereka yang sudah menunggu FUR sejak tadi. Setelah beberapa lagu sampai juga ke satu-satunya lagu yang saya tau, menarik sih aksi dari teman-teman FUR yang maceuh atau banyak gimmick di panggung. Setelah beberapa lagu akhirnya selesai juga aksi dari FUR yang sekaligus menutup gelaran Music Gallery ke-9.

Sebetulnya tidak ada hal yang menonjol jika membandingkan Music Gallery dengan festival-festival musik lain. Suasana yang dihasilkan hampir sama saja, artis yang didatangkan tidak memberi nilai lebih. Akan tetapi, yang saya sukai dari gelaran Music Gallery adalah mereka memberikan kesempatan kepada artis-artis baru untuk mendapatkan panggung. Bukan hanya dibidang musik saja, tapi juga di bidang seni lain seperti adanya pameran kecil untuk hasil karya seniman-seniman baru.

Sedikit saran dari saya sebagai penikmat acara musik, mungkin akan lebih meriah jika budget yang digunakan untuk artis lokalnya dikurangi. Hal ini dikarenakan headliners lokal yang dibawa terlalu generik, sehingga akan lebih baik jika budget itu dialokasikan untuk membungkus artis internasional sesuai wishlist yang telah dipublikasikan.

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *