LOADING

Type to search

The Substitute Woman: Eksplorasi Pada Ranah Fiksi

COLUMN FEATURED

The Substitute Woman: Eksplorasi Pada Ranah Fiksi

INCOTIVE 18/05/2018
Share

Teks: Alwan Ammar

Ziki (Arif Mulki) ditinggal mati kekasihnya, Virgie (Alexandra Citta). Sedih, Ia pergi ke satu pagi yang berolahraga di Lapangan Saparua. Di Saparua Zelly (Mutia Fatia) melihat si laki-laki berbicara seorang diri. Penasaran, mereka pun berkenalan. Ziki memberi rekaman suara untuk menjelaskan, Zelly membalasnya dengan kartu nama. Tertulis disana: Lucinda Samara, wanita pengganti. Zelly bilang Lucinda bisa mempertemukan kekasih yang telah mati. Dan Lucinda pun menghidupkan Virgie kembali.

Saya tidak tau apa alasan Cinemora Pictures membiarkan sinopsis web seriesThe Substitute Woman (2018) tertulis ‘is typing’ pada kolom deskripsi videonya di Youtube, entah karena sekedar malas atau merasa tidak cukup penting, tapi tanpa sadar saya justru mencoba menuliskan sendiri sebuah sinopsis dengan gaya absurd yang mungkin saja ingin dijadikan bahasa sinemanya Roufy Nasution.

Dalam pemahaman sederhananya, absurdisme selalulah berangkat dari ketiadaan makna. Apakah itu tindakan si subjek, alasan-tujuan, sebab-akibat ataupun keputusan yang diambil sudahnya. Segala hal seolah tiada arti dan memiliki tujuan kabur, yang teraneh, ialah kenyataan bahwa seseorang bisa hidup dalam dunia semacam itu. Seperti Ziki dan The Substitute Woman yang setiap tingkah lakunya membuat penonton berde — ”oh, ini aneh. tidak logis, tapi okelah” sepanjang waktu. Tidak ada yang logis memang ketika Ziki merekam suaranya kedalam ponsel, mengapa Virgie mati atau apa yang dilakukan Ziki ketika dihadapkan pada perpisahan keduanya. Bahkan ide dasar Lucinda sebagai wanita pengganti yang memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan ruh benar-benar diluar nalar. Tapi ketika penonton pada akhirnya berkompromi tentang arti; sekaligus tetap mempertahankan pandangan bahwa hal-hal di dalam film ini masihlah aneh yang menjadi indikator tentang seberapa baik absurdisme terepresentasi di dalam series ini. Cukup lihat bagaimana gambar yang secara konsisten seolah menampilkan jeda sepersekiandetik sekali. Pada tingkatan visual, pemberian jeda ini akan sangat berpengaruh untuk mencapai efek absurd pada cerita tanpa disadari.

Penonton mungkin akan terasa asing — atau bahkan juga tertawa dan menganggapnya aneh— dengan konsep plot yang ditawarkan The Substitute Woman. Hal ini dapat dipersebab oleh banyak hal, misalnya: 1) Stigma supranatural / horor / mistisme yang masih stuk tentang setan kuntilanak, tuyul, dkk menyerang manusia 2) Kesewenangan penonton yang suka mencampuri jatah fiksi dari film dengan selera hipperalitasnya yang suka tidak sinkron 3) Penonton belum paham fungsi dasar fiksi dan membuka diri pada posibilitasnya. Tanpa perlu bersikap nyinyir, sebenarnya kita bisa memaklumi ini mengingat masih minimnya variasi dan eksplorasi konten yang disajikan oleh sineas lokal terutama pada ranah fiksi. Kita adalah apa yang kita konsumsi, bukan?

Disinilah Roufy perlu disaluti karena dengan pedenya mau bermain-main dengan genre horor atau supranatural — sebagaimana yang pernah dilakukannya juga melalui ‘Sweetness Satan’ (2017) — dan memberikan perspektif alternatif kepada penonton, hampir melalui pendekatan yang sama dengan A Ghost Story (2017) atau novel-novel Eka Kurniawan ketika mendefinisikan ulang genre horor dalam kesusasteraan Indonesia. Apakah itu genre horor dengan drama, semi-mistis ataupun genre drama berbalut horor yang tidak seram menjadi tidak lagi begitu penting. Menjalani satu hari bersama kekasih yang dibangkitkan kembali dari mati, okelah, boleh juga.

Secara overall, saya terkesan dengan ide cerita yang ditawarkan oleh The Substitute Woman yang dari awal hingga akhir series masih segar dan asik untuk diikuti. Meski saya sebetulnya berharap terdapat lebih banyak porsi drama, setidaknya memberikan penonton opsi untuk menginginkan Ziki dan Virgi tidak berpisah. Sayang kurangnya chemistry antara kedua pemeran menolkan opsi itu. Atau mungkin juga pertimbangan utama dari keputusan meminimalkan drama adalah untuk menghindari terjadi benturan dengan gaya absurdisnya Roufy. Mengawinkan absurdisme dengan drama memang cukup riskan dan perlu dikelola dengan masak. Tak bisa terlalu tegang, tak bisa terlalu eksplisit. Berita baiknya, porsi romance dan komedinya pas, tidak sampai mual. Saya pun cukup puas dengan ending yang ditawarkan walau sebenarnya saya lebih into kepada tipe ending yang lebih sentimental hehe.

Saya sering bercanda dengan seorang teman, jika gambar yang ditampilkan oleh Roufy sangatlah Wes Anderson sekali. Tidak hanya soal warna, bahasa kameranya pun memiliki banyak kemiripan misalnya pada pengambilan gambar-gambar flat dengan komposisi simetris. Tapi satu hal yang membuat Roufy begitu sefrekuensi dengan Anderson ialah pada sisi desain produksinya. Dari pemilihan kostum, set, hingga aktifitas dalam adegan, kedua orang ini sangatlah hipster-sentris atau bahasa sininya ‘anak skena’ sekali lah. Tapi lain dengan skena musik yang mulai overused, penggunaan atribut-atribut hipster seperti musik, vinyl ataupun pakaian vintage masihlah segar jika dipraktikan di dunia sinema. Selalu menyenangkan untuk menonton karya-karya sutradara idiosentris dalam menampilkan trademark-nya. Roufy sendiri secara konsisten menghadirkan karakter Arif yang kaku berikut gaya akting Yorgos Lanthimos yang sedikit nyeleneh, penggunaan bahasa Indonesia baku, scoring musik-musik klasik juga adegan dansa yang seperti tidak boleh ketinggalan di setiap filmnya.

Dalam series ini, saya menangkap mise en scène ala French New Wave yang cukup kental khususnya ketika gambar diambil dalam ruangan. Penggunaan medium lukisan juga desain latar dinding yang berwarna merah ngejreng untuk membangun mood dilakukan dengan cukup efektif. Kemudian saya sangat menyukai bagaimana para pemeran wanita yang seolah diarahkan Roufy dengan arahan sesederhana “sois belle et tais-toi” atau “be beautiful and shutup”.

Aktor langganan Roufy, Arif Mulki kembali dipercaya sebagai pemeran utama The Substitute Woman, yang saya rasa merupakan pilihan tepat. Dibandingkan dengan peran-peran sebelumnya di Jeni Lova (2016), Sweetness Satan (2017) ataupun film-film terdahulunya, kemampuan berakting Arif jauh lebih hidup ketika memerankan Ziki di web series ini. Meskipun Arif cenderung untuk memerankan karakter yang seragam di seluruh filmnya bersama Roufy, The Substitute Woman seolah memberikan ruang lebih bagi Arif untuk mengeksplor karakter kaku ikoniknya itu lewat adegan-adegan yang menampilkan lebih banyak variasi gerak, seperti dalam scene dimana Ziki merangkak dan memeluk kaki Virgie, bagian ini dieksekusi Arif dengan sangat baik.

Lain halnya dengan pemeran wanita utama yang masih memiliki banyak pe-er, jujur saya sangat ter-bait untuk mengklik pipi Alexandra Citta yang menjadi thumbnail video pada episode kedua. Tapi sayang, keindahan tulang pipi — yang mengingatkan saya pada Anna Karina — tidaklah dipertahankan ketika berganti angle atau ketika Citta diharuskan berakting dalam gambar bergerak. Seharusnya scene ketika Virgie berdansa dan menolak dipeluk oleh Ziki — bersama dengan scene merangkak sebelumnya — 100% layak untuk masuk ke dalam klip video di kanal Youtube im cyborg but thats okay, tapi sayang Citta gagal membawakan peran Virgie yang malah tampak terlalu kaku bahkan untuk karakter yang diharuskan kaku. Tapi saya pikir kesalahan utamanya jauh terletak pada sisi penulisan dimana karakter Virgie sendiri seperti setengah jadi, entah ini disebabkan oleh restriksi dari cerita itu sendiri (Virgie sebagai seorang mayat berjalan) yang membuat Virgie harus mewarisi sifat kaku dan tidak beremosi dari si mayit. Entahlah, karakter ini tidak bekerja.

Saya justru lebih mencintai karakter pendukung Zelly yang diperankan oleh Mutia Fatia. Entah memang karena Zelly ialah karakter yang menyenangkan dan cukup manic pixie — dude, a cute girl with rollerblade (seen later) initiated a convo to average lookin guy — atau hanya saya yang lemah dengan karakter perempuan seperti ini, maafkan. Setidaknya akting Mutia pada episode finalemampu membuat saya memaafkan kekakuan dialognya di episode pertama. Sedang untuk Lucinda… dia cukup mistis. Dan tunggu, apakah Lucinda sebenarnya Virgie yang sedang menyamar sebagai Virgie?

Saya kira pemilihan bahasa baku pada dialog yang seharusnya menjadi kekuatan dari The Substitute Woman justru menjadi sebuah masalah tersendiri. Bahasa baku memang berhasil membawakan vibes absurd pada The Subsitute Woman, tapi sayangnya tidak cukup untuk membuka fitur ‘absurd puitis’ yang sebenarnya terbuka lebar jika meruntut pada tendensi dialog yang ada. Saya mengerti tidak mudah memang menggunakan bahasa baku Indonesia dalam sebuah dialog film karena bahasa baku kita sendiri bukanlah bahasa tutur yang digunakan sehari-hari. Terlihat para pemeran tampak kagok dan tidak nyaman ketika menyampaikan dialog terutama pada episode awal, hanya Arif yang tampak lebih santai bertutur, itupun dia seharusnya menjadi eksepsi. Untungnya seiring series ini berjalan, semua pemain terus beradaptasi dan menunjukkan peningkatan berarti. Tapi semua ini tetap tidak mengurungkan pendapat saya jika Roufy seharusnya bisa menulis dialog — atau bahkan kepenulisannya secara jeneral — jauh lebih baik lagi. Beberapa baris masih terasa cheesy dan lebih seperti terjemahan bahasa Inggris ketimbang disebut bahasa Indonesia baku. Jika saja Roufy mau mengeksplorasi pemilihan dan permainan katanya lagi atau setidaknya menyederhanakan struktur kalimat; tidak hanya The Substitute Woman akan memiliki dialog segar sebagai produk akhir, dalam sisi produksi pun para aktor seharusnya akan banyak terbantu. Mubazir sekali bila dialog tidak dieksekusi maksimal terlebih mediumnya sendiri ialah series, yang cenderung memiliki batasan lebih renggang tentang durasi dibandingkan fitur film.


Sebagai penikmat film yang memiliki fetish lebih pada cerita, tentu saya tidak bisa memberikan ulasan vanila tentang seberapa wow cerita The Substitute Woman, karena selain dari ide ceritanya yang menarik, pengeksekusiannya masihlah agak hambar. Tapi terkadang kita juga perlu mengapresiasi suatu karya lebih dari sekedar produk finalnya. Misal dari seberapa tingkat eksplorasi atau dari sisi produksi dan distribusinya. Singkatnya, tentang yang indie.

Aplaus terbaik yang bisa saya berikan kepada Roufy dan Cinemora Pictures justru tentang bagaimana mereka memberikan cita rasa festival di tengah pasar mainstream seperti platform Youtube. Saya tidak menemukan iklan sponsor yang biasanya melatari pembuatan sebuah series (cmiiw). Jika memang ini benar, maka itu berarti Roufy dan Cinemora Pictures mengambil langkah berani dan tergolong ‘mahal’ untuk bermain pada medium selain film pendek atau fitur film sebagaimana rumah produksi independen pada umumnya. Baik itu secara genre, platform distribusi ataupun sisi komersil, semuanya cenderung aneh bila melihat tren series lokal hari ini.

Apa kiranya yang melatari mereka untuk memutuskan bermain web series di platform Youtube? Lebih sakit lagi, tanpa sponsor dan di genre yang kurang lazim. Sellout? 100% not. Saya meragu jika saat ini terdapat festival web seriesyang cukup prestisius, pun uang adsense dari Youtube yang akan cukup untuk membalik modal, lebih lebih berpikir untung. Apakah ini tentang audience reaches? Jika iya, ini menjadi menarik. Seberapa efisienkah audience reachessuatu sinema yang tidak melibatkan influenser sosmed di platform massa? Atau bagaimana audiens indie sekaligus pegiatnya merespon? Akankah pada akhirnya mereka melonggarkan ekslusifitasnya demi mendapat engagementpada sinema? Lalu bagaimana dengan publik umumnya sendiri; apa kiranya yang mereka tangkap ketika akses pilihan berkualitas bertambah mudah untuk dikonsumsi?

Pada saat ulasan ini ditulis, ‘The Substitute Woman’ telah mengakumulasikan lebih dari 3000 views untuk semua episodenya (termasuk trailer) dalam kurun waktu kurang dari 3 minggu. Jumlah ini mungkin terlihat kerdil jika dibandingkan dengan web series lainnya yang mengandalkan jumlah followerssi aktor untuk mendapatkan engagement. Tapi tenang, ‘The Substitute Woman’ bukanlah series receh yang dibuat oleh Youtuber terkenal macam da Lopez bersaudara atau Kevin si pengulas ulung. ‘The Substitute Woman’ bisa disandingkan dengan series yang memiliki sumber daya lebih melimpah dan menampilkan aktor-aktris sekelas bidadariku Tika Bravani di ‘Sore: istri dari masa depan’ atau ‘Filosopi Kopi the series’ yang menampilkan Chico Jericho — bedebah yang merebut bidadariku yang lain. Percayalah jika saya hanya mengucap kebenaran; dan ‘The Substitute Woman’ worthed untuk waktu yang kamu sediakan.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *