LOADING

Type to search

This Year’s Finest: Pilihan Musik Terbaik Tahun 2016

SELECTION

This Year’s Finest: Pilihan Musik Terbaik Tahun 2016

Share

Dua ribu enam belas merupakan tahun yang cukup buruk untuk para pencinta musik. Bagaimana tidak? Banyak legenda musik seperti David Bowie, Prince, dan Leonard Cohen meninggal dunia. Bukan cuma itu, jangan lupa bahwa tahun ini adalah tahun dimana para ABG sosialita mempunyai pikiran bahwa “Eksis pangkal Talenta”, lalu merilis lagu-lagu yang secara perlahan menodai kesucian telinga kita. Belum percaya juga apabila tahun ini sangat buruk untuk musik? Silahkan dengar verse Kendrick Lamar di lagu terbaru Maroon 5. Menyedihkan bukan?

Iya, ini bukan tahun yang baik untuk pencinta musik. Tetapi bukan berarti tahun ini tidak ada album-album emas yang masih patut didengarkan. Dari Rap hingga Rock, internasional maupun lokal, ini adalah beberapa album yang menurut kita terbaik di tahun 2016 ini.

Hip-Hop/Rap

Dengan banyaknya album-album genre ini yang sukses pada tahun 2016. Bisa dibilang, without a doubt, Rap menjuarai tahun ini. Rapper-rapper seperti Kendrick Lamar, Chance The Rapper dan juga grup A Tribe Called Quest mengeluarkan lagu-lagu yang menakjubkan kita dengan keahlian mereka memainkan lirik dan kata-kata. Ke empat artis tersebut mengeluarkan full length album yang luar biasa. Lalu ada Vince Staples yang melanjutkan streak rilisan-rilisan berkualitas semenjak 2014 silam dengan EP nya “Primma Donna”.

wp-1481603836711.jpegA Tribe Called Quest tahun ini merilis album lagi setelah 18 tahun. Berjudul “We Got it From Here… Thank You 4 Your Service”. Mengungkit masalah masa ini yaitu kebencian yang amat besar kepada sesama manusia, dan menyindir para pembuat masalah dengan niat ingin mempersatukan kembali masyarakat yang terpisah karena perbedaan suku, agama, ras, dan Antar golongan. Tidak, rekaman ini bukan hanya kumpulan lagu-lagu. Rekaman ini adalah sebuah Ideologi.

wp-1481608730240.jpegTahun lalu Kendrick Lamar  merilis album “To Pimp a Butterfly”.  Sebuah album yang sempurna, kreatif, dan memukau. Tapi ternyata, kejeniusan seorang Kendrick Lamar tidak cukup hanya dibungkus dalam 16 track. Tidak, ternyata banyak lagu-lagu yang tidak jadi masuk kedalam album tersebut adalah lagu-lagu yang juga berkualitas dan berhak mendapatkan album mereka sendiri. Maka dari itu, Top Dawg Entertainment merilis sebuah kompilasi album yang berisikan “buangan” dari sesi rekaman “To Pimp a Butterfly”. Hasilnya adalah “untitled unmastered”, album rap yang mempunyai aliran Jazz yang sama seperti album sebelumnya, tetapi lebih kasar dan mentah. Sebuah masterpiece dihidangkan diatas piring besi tanpa lauk dan bumbu-bumbu lain.

wp-1481608748497.jpeg

Rapper paling dibahas tahun ini tapi yang pastinya adalah Chancellor Johnathan Bennett, atau lebih dikenal dengan nama panggung nya Chance The Rapper. Seorang artis yang bisa dibilang Indie murni. Selalu menolak tawaran label-label besar, ia membuat album terbaru dia “Coloring Book” hanya bisa dinikmati dengan jasa streaming musik. Tindakan yang berani, tetapi berhasil. Karena tak hanya berani, kemampuan dia dalam rap juga tidak bisa diragukan. Entah kenapa, album ini dari awal sampai akhir terasa sangat ceria. Benar-benar menunjukan bahwa Chance mengekspresikan seluruh dirinya kedalam album ini. Mendapatkan nominasi “Best New Artist” di Grammys menjadi bukti konkrit keahlian dia.

Musik-musik lain yang mungkin bisa didengarkan adalah “Blank Face LP” dari Schoolboy Q, “Cashmere”, dari Swet Shop Boys, dan “Atrocity Exhibition” oleh Danny Brown. Atau coba cari nama-nama seperti Rejjie Snow, Goldlink, dan Bishop Nehru.

Merasa kita melupakan sesuatu? Merasa terganggu tidak ada Kanye sama Drake? Boo hoo.

Pop/R&B

Musik pop. Mencari album-album yang bagus pada genre ini seperti mencari kaos putih di Pasar Tanah Abang. Bagaimana cara cari yang terbaik bila semuanya terdengar sama saja? Setidaknya itu yang selama ini kita pikir, karena pada tahun ini pasaran musik seperti mendewasa. Tentu saja masih ada artis seperti Selena Gomez dengan suaranya yang mendesah desah dan liriknya yang tidak kreatif, atau Meghan Trainor yang mungkin mendengar statis radio pun lebih menenangkan daripada lagu-lagu annoying-nya. Tetapi nama-nama seperti Solange, Frank Ocean, Childish Gambino, dan masih banyak lagi memberi pop warna yang lebih. Dan jangan juga lupakan idola lokal kita, the amazing, Tulus.

wp-1481608763343.jpeg

Sempat ada waktu dimana kita sebagai rakyat Indonesia diberi harapan tentang arah musik pop kita. Artis seperti Raisa dan Isyana Sarasvati, dua penyanyi papan atas di nusantara saat ini, sepertinya hanya memberikan percikan keindahan diawal saja. Musik mereka sekarang terdengar malas dan tidak menginspirasi. Beda dengan Tulus. Artis ini selalu konsisten merilis lagu yang enak didengar. Suaranya yang merdu, kemampuan nya dalam menulis lagu, dan juga kerapihan dalam memproduksi sebuah rekaman membuat “Monokrom” album yang masih bisa kita andalkan. Album ini bisa dibilang rilisan terbaik Tulus sejauh ini, dengan suara yang lebih segar dan dewasa.

wp-1481608772826.jpegBayangkan suara Beyonce digabungkan dengan synthesizers analog, interpretive dancing, dan seni modern. Yang kalian dapatkan adalah album terbaru dari penyanyi Solange, yang kebetulan saja memang adik dari Beyonce, yaitu “A Seat at the Table”.  Satu kata jika ingin mendiskripsikan album ini: elegant. Musiknya yang pelan dan tenang, ditambahkan suaranya yang merdu dan melodi yang menyentuh hati, merupakan formula yang berhasil dan membuat kita ingin lebih dari artis ini.

wp-1481608781981.jpegDreamy, soulful, dan innovative adalah tiga kata yang selalu bisa menggambarkan bagaimana musik Frank Ocean. Dan album terbarunya “Blonde” merupakan bukti bahwa dia masih bisa lebih dreamy, soulful, dan innovative dari biasanya jika dia ingin. Menunjukan tingkat keabstrakan yang lebih, Frank menambahkan lebih banyak suara rock, gospel, dan psychadelia. Lucunya, ia menyisipkan rekaman seseorang dengan aksen Perancis curhat tentang hubungan dengan pacarnya di Facebook. Hanya Frank yang bisa se-abstrak itu dan lolos.

Awaken,_My_Love!.jpgDonald Glover adalah sebuah kadal multitalenta, dengan kemampuan merubah dirinya menjadi seorang aktor yang serius, komedian yang bisa membuat satu ruangan terbahak-bahak, dan juga musisi dengan artistry yang tinggi. Dengan nama panggung musiknya, Childish Gambino, ia membuat dunia mengenal nya sebagai rapper yang handal. Disaat dia mengabarkan tahun ini akan ada album baru, para fans mengharapkan album Rap dengan gaya dia seperti biasanya yang komedik. Tapi tidak, justru yang mereka dapatkan adalah sebuah mahakarya Soul/R&B yang epik, megah, dan serius. “Awaken, My Love!” rilis pada awal Desember ini. Album ini mempunyai nuansa-nuansa tahun 70’an, ada sedikit Pink Floyd, ada sedikit James Brown, dan lain-lain. Perubahan nya yang signifikan dari musik Rap menjadi Soul mengkonkritkan dirinya sebagai artis bunglon.

Silahkan cek juga album “Freetown Sound” dari Blood Orange, “Sept. 5th” dari dvsn, “Ology” dari Gallant, dan album solo dari mantan anggota One Direction Zayn Malik “Mind of Mine”. Jika ingin sesuatu yang baru silahkan cari artis-artis seperti 11.11, Soft Hair, Blackbear.

Electronic

Musik Electronic tiap bulannya seperti selalu bertambah dan berubah. Semakin banyak saja sub-genre yang keluar. Selain itu, musik ini selalu mempunyai sebuah tema besar dimana DJ-DJ terbesar di dunia akan selalu mengikuti. Tahun lalu adalah tahun nya Trap, tahun ini tahun nya Future Bass. Artis seperti DJ Snake, Martin Garrix, bahkan Diplo mulai merubah mengikuti tren. Lalu ada The Chainsmokers yang merusak genre ini dengan musik cepat saji nya. Untung nya, kita masih punya artis seperti Flume, HONNE, dan Nicolas Jaar yang memberi kita pilihan lebih segar. Selain itu, album kompilasi dari Papaya Records yang berjudul “Dentum Dansa Bawah Tanah” juga wajib didengarkan para penggemar Electronic.

wp-1481608825369.jpegNicolas Jaar adalah nama yang harus diperhatikan para pencinta musik Elektronik. Terkenal akan keberaniannya dalam ber eksperimen, “Sirens” merupakan album yang outworldly. Lagu-lagu didalam nya serasa seperti air, selalu berubah wujud dari ambient yang tenang lalu progress menjadi lagu utuh yang berat. Rekaman yang terdengar gelap dan rusak, tapi menunjukan keindahan yang tak bisa didapatkan di tempat lain. Mendengarkan “Sirens” adalah sebuah pengalaman tersendiri.

wp-1481608841803.jpegAlbum yang paling dinanti di tahun ini. LP pertama dari duo Electronic/Pop HONNE yang berjudul “Warm on a Cold Night” berisikan lagu-lagu mereka yang lama, baik single maupun yang sudah masuk EP, dan juga yang baru. Sebuah album yang lebih seksual, HONNE menunjukan sifat lembut dan romantis yang mendalam. Suara Andy Clutterback akan menenangkan siapapun, sedangkan kerapihan dan kejernihan James Hutcher dalam memproduseri lagu-lagu membuat album ini layak tidak hanya untuk dinyanyikan bersama, tapi untuk berdansa.

wp-1481608863250.jpeg“Dentum Dansa Bawah Tanah” adalah sebuah kompilasi album keluaran label musik independen Papaya Records. Berisikan 14 lagu dari DJ/Producer yang berbeda, album ini adalah campuran dari bermacam-macam genre dari Acid House, Nu-Disco, Deep House,  Rock, dll. Suara yang dihasilkan terdengar seperti musik 70’an dan 80’an dengan irama yang bebas dan suara yang lebih jazzy. Album ini serasa men-simbolisasikan bagaimana hidup di daerah urban selayaknya Jakarta.

154f7b94ce1135449681862748eec2c6.1000x1000x1.jpgSeperti Nicolas Jaar, Flume juga terkenal akan hobi nya bereksperimen dan mempunyai suara yang berbeda dari produser lain. Bedanya, Flume behasil menyelundupkan musiknya kedalam pasaran musik. Dalam album terbarunya, “Skin”, ia menambahkan lagi keanehan dan keunikan dalam musik nya yang sudah sangat outlandish. Keragaman suara yang ia hasilkan juga dilapisi oleh beragam guest vocals. Dari Vic Mensa, AlunaGeorge, Beck, dan masih banyak lagi.

Cari juga album “Adiuex Au Dancefloor” dari Marie Davidson, “Rojus” oleh Leon Vynehall, dan pastinya “99,9%” oleh KAYTRANADA. Jangan lupa cek juga produser-produser seperti Lucian, Josh Pan, dan orang yang sangat tidak mirip dengan youtuber terkenal Filthy Frank, Joji.

Rock

Hey Hey, My My… Rock ‘n’ Roll will never die. Kata-kata terkenal yang dinyanyikan oleh Neil Young itu membawa pesan yang hingga saat ini merupakan sebuah kebenaran. Rock pada tahun 2016, in all honesty, sangat menurun dari segi performa. Para pendengar sudah bosan dengan musik drum dan gitar. Musisi rock harus melakukan semuanya dengan sempurna agar masih bisa dianggap relevan. Untungnya, kita ada Radiohead, Parquet Courts, David Bowie, dan Car Seat Headrest dimana mereka berhasil memberi kita musik rock yang bersinar di masa gelap ini.

Jonathan-Barnbrook_David-Bowie_Blackstar_album-cover-art_dezeen_1568_01.jpgDavid Bowie meninggalkan kita diawal tahun ini. Kepergian dia meninggalkan luka yang dalam, dan juga impact yang besar untuk dunia musik. Dua hari sebelum dia meninggal, Bowie meninggalkan sebuah karya terakhir berjudul “Blackstar”. Jika teman anda, yang kebetulan manusia dangkal tanpa otak, berkata pada anda bahwa album ini dibilang bagus hanya karena kepergian David Bowie yang sensasional, silahkan anda mencari teman baru. Album ini adalah sebuah mahakarya. Menyerukan unsur-unsur Jazz, Drama, dan sejarah. Album yang gloomy, David Bowie terdengar tersiksa dan menangis. Yet, semua terasa sangat indah, dan penyadaran bahwa rekaman ini adalah karya dia yang terakhir kali akan membuat setiap pencinta musik menangis.

wp-image-1479757285jpeg.jpeg“Teens of Denial”  merupakan album yang harus ada di tahun ini. Memberikan kita musik yang bisa kita headbang-kan, dan juga lirik yang bisa membuat sing-along bersama teman atau orang asing kembali memungkingkan. Car Seat Headrest menyediakan sebuah rekaman Indie Rock yang pintar, tampan, dan juga menyegarkan. Keahlian menulis lagu sang frontman, Will Toledo, tidak bisa diargumenkan lagi. Cara dia menulis liriknya yang jujur, deskriptif, dan witty adalah sebuah berkah untuk penggemar genre ini.

parquet-courts-human-performance-album.pngNew York lagi-lagi memperkenalkan band yang kreatif. Memberikan nostalgia musik Indie Rock pada tahun 90an akhir yang kasar dan bergerigi, Parquet Courts merilis album “Human Performance”. Merupakan album ketiga mereka, rekaman ini terasa dingin seperti malam hari. Berjiwa, tetapi malu dan pendiam. Disaat ia mengekspresikan sedikit suaranya, ia akan kembali mengumpat dibalik jendela. Sebuah album yang introvert. Dan seperti setiap jiwa yang introvert, ada sebuah pemikir yang keras dan kritis.

radiohead-moon-shaped-pool-album.jpgRadiohead  sudah lama terkenal sebagai band yang berani melampaui batas. Bahkan, mereka tidak peduli dengan batas-batas yang ada. Mereka hanya ingin menciptakan seni, dan seni adalah yang selalu mereka ciptakan. Album “A Moon Shaped Pool” adalah pemberian mereka yang ke sembilan. Memberikan lagu-lagu yang mempunyai ciri-ciri Radiohead klasik, ada juga beberapa lagu yang memberi kesegaran. Seperti biasa, lirik Thom Yorke menusuk, tetapi kali ini lebih terus terang. Musiknya lebih lepas dan tak terkontrol, tapi terdengar rapih dan menghalukan. Sebuah ilusi untuk telinga anda.

Selain album-album diatas, silahkan dengarkan “The Dream Is Over” oleh PUP, “City J” oleh Elephant Kind, dan juga “Human Ceremony” oleh Sunflower Bean. Dengarkan juga band-band seperti Rhym, “Fuzzy, I” , dan Circarama.

Indie/Folk

Scene indie berawal dari remaja-remaja kurus bermain rock dengan nuansa vintage, sekarang menjadi remaja-remaja kurus bermain musik elektronik. Selain itu, masih ada artis Folk yang bertahan dengan musik akarnya, ada juga yang sudah berubah total. Walaupun sekarang genre ini sudah susah didefinisikan, ini adalah beberapa artis yang bersinar di tahun ini. Yaitu Weyes Blood, Bon Iver, Whitney, dan The Trees and The Wild.

wp-1481609026834.jpegDebut album dari band Whitney, Light Upon the Lake”, merupakan album yang aneh. Pertama, ini adalah album Folk/Rock gitar yang menakjubkan, sesuatu yang langka di masa ini. Kedua, pada kenyataannya, lagu-lagu di album ini memiliki lirik yang mengundang eyerolling yang tinggi. Karena jujur saja, lirik nya kebanyakan sangat norak. Tetapi, liriknya disampaikan dengan vokal yang lembut hingga bisa dimaafkan. Album ini berada di tengah kejiwaan, ceria dan happy-going, tetapi bisa melankolis jika dibutuhkan.

wp-image-368112960jpeg.jpegThe Trees and The Wild merilis LP keduanya pada tahun ini yang berjudul “Zaman, Zaman”. Sebagai band Experimental/Folk, mereka menambahkan lebih sentuhan Experimental yang ada di dalam rekaman ini. Musik yang dihasilkan adalah kumpulan dongeng narasi yang diringi dengan suara-suara ambiens dan ketukan drum dari berbagai dimensi ang bercampur aduk dengan rapih dan cantik. Sebuah rekaman yang menakjubkan.

wp-1481609119027.jpegWeyes Blood adalah seorang artis yang harus diperhatikan. Multi-instrumentalis ini dengan nama asli Natalia Mering membawakan lagu-lagu Folk dengan vokal yang dalam dan merdu dengan nuansa 60-70’an. Album terbarunya, “Front Row Seat to Earth”, dipenuhi dengan balada-balada lo fi dan vintage yang terdengar ayu di telinga. Suaranya akan menghantui anda di setiap anda sendirian dimalam hari.

wp-1481609136241.jpegDiantara semua penyanyi Indie/Folk, tidak ada yang lebih terkenal dari Bon Iver. Musik Folk-nya tidak hanya berlapis vokal, piano, dan gitar, melainkan nilai produksi yang inovatif. Tetapi pada albumnya yang ketiga, “22, A Million”, Bon Iver seperti menggila dan ketagihan dengan musik elektronik. Uniknya, yang ia nyanyikan tetap Folk. Menciptakan lagu-lagu Americana yang glitchy dan synth-y. Tetapi jangan salah, karena inovasi dia ini adalah kekhasan dia, dimana penggemar dia pasti sudah mengharapkan hal ini terjadi.

Selain album diatas, silahkan cek album “Root/Void” dari MV/EE, “My Woman” dari Angel Olsen, dan juga “A Sailor’s Guide to Earth” oleh Sturgill Simpson. Perhatikan juga artis-artis seperti Rio Satrio dan Figura Renata.

There it is… kumpulan album terbaik tahun ini. Punya pendapat lain? Masih berharap kita memasukan “The Life of Pablo”? Silahkan tuliskan komen anda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *