LOADING

Type to search

Babangbin Review: “Lonesome” by Tiad Hilm

FEATURED SELECTION

Babangbin Review: “Lonesome” by Tiad Hilm

Share

Kesendirian adalah hal yang melelahkan. Dimulai dengan perasaan bosan yang terus berkembang menjadi kehampaan yang menakutkan. Banyak yang akan berkata kesendirian adalah teman, namun kesendirian yang mereka maksud adalah kesendirian yang sementara.

Ya, kira-kira begitulah. Babang hanya ingin terlihat pintar dan poetis saja. Siapatau paragraf tersebut akan “dipinjam” oleh para anak skena senja untuk dijadikan caption foto candid berlatar belakang karya pameran seni.

Ngomong-ngomong skena, skena Hip-Hop Indonesia belakangan ini sepertinya semakin berkembang, dan gelombang ini tidak lagi berada di kota-kota yang sudah kenal baik dengan budaya ini seperti Jakarta, Bandung, dan Bali. Kali ini, dari Kota Lumpia datanglah penantang baru. Bernama Tiad Hilm, artis ini adalah co-founder dari kolektif HILLS, dan juga seorang rapper yang baru saja merilis album debutnya yang berjudul “Lonesome”. Dengan kekuatan bulan, Sailor Babangbin akan memberikan penimbangan terakhir.

Sang artis berkata bahwa “Lonesome” adalah perwujudan mimpi masa kecil dia yang ingin menjadi artis hip-hop, serta menjadi diary semua pengalaman yang dia alami selama 20 tahun hidup. Sebuah album tulus yang berbicara kepeda mereka yang sedang mencari self-actualization, self-love, dan juga wujud asli diri mereka sendiri.

Perlu babang sampaikan bahwa ini adalah sebuah album yang diproduksi dengan brilian. Sang produser, Cosmicburp, menciptakan sebuah atmosfer dan mood yang indah dengan beat boom-bap lo-fi berkualitas serta sampling dan suara synth yang begitu merdu. Bagaimana “Loner”, “Pure”, dan “Stuck” dibuat seakan-akan bersambung tedengar ajaib dan sudah beberapa kali memberikan babang sebuah orgasme mini.

Sayangnya musiknya yang atmosferik tidak didukung oleh daging utamanya, which is the rapping itself. Memang penyampaian dan penyusunan kata pada sebuah lagu adalah hak kreatifitas setiap rapper. Tidak ada yang bisa mengatur mana yang salah dan mana yang benar, semua diperbolehkan karena yang penting hasilnya enak atau enggak. Album ini jatuh di kategori yang belakangan. Tiad Hilm terdengar seperti seorang pemula yang baru saja menemukan beberapa kalimat-kalimat yang depresif ternyata berirama.

Pernyataan tadi dapat terdengar lewat lagu penutup “Myself”. Lirik yang ditulis dengan referensi kosakata/library seadanya, disampaikan juga dengan usaha yang mengecewakan. Tidak perlu menunggu lagu terakhir untuk mengerti bahwa “Lonesome” lebih terdengar seperti keluhan-keluhan ambigu daripada sebuah cerita 20 tahun pengalaman hidup. Ada “Sense/Sins”, dimana bagian pertama, “Sense”, terdengar seperti sebuah parodi Frank Ocean yang prematur, dan bagian “Sins” terdengar seperti sebuah parodi Logic, and there’s nothing good about making a parody of Logic.

Dengan semua yang sudah Babang katakan, ada satu lagu yang sepertinya berbeda dari lainnya. “Divine”, seperti namanya, adalah lagu yang istimewa. Semua hal, dari lirik, beat, dan chemistry antara Tiad Hilm dan tamu, Aknostra, berhasil menghilangkan sejenak kekecewaan yang mengganjal dari 6 lagu sebelumnya. Agresif, tajam, dan sangat catchy. “Divine” adalah bukti bahwa Tiad Hilm sebenarnya memiliki potensi menulis yang cemerlang, daripada berulang kali mengeluh tentang non-eksistensi teman dan pacarnya yang selalu mamatahkan hatinya.

Berkat lirik yang sedikit lagi belum cukup depth, phrasing dan penyampaian yang masih amburadul, “Lonesome” lebih terdengar seperti sebuah coret-coretan berantakan penuh curhatan ABG yang ditulis dengan pulpen dan kertas paling mahal yang bisa dibeli di koperasi kampus, daripada sebuah diary perjalanan hidup. Namun babang tetap merekomendasikan kalian, para sobat keong, untuk mendengar “Lonesome” untuk musiknya yang stellar dan cozy.

Mengulangi apa yang sudah babang sampaikan dengan penuh pretentiousness di awal: Kesendirian adalah hal yang melelahkan. Sangat melelahkan. Tapi lebih melelahkan lagi untuk mendengar sebuah album yang terproduksi dengan baik, namun pesan yang terkandung disampaikan dengan prematur.

Babang’s Favourite: Divine.

Album’s Score: 4/10

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *