LOADING

Type to search

Tik Tok dan Herd Mentality Masyarakat Indonesia

COLUMN FEATURED

Tik Tok dan Herd Mentality Masyarakat Indonesia

Ferdin Maulana 09/07/2018
Share

Ilustrasi oleh Nadhif Ilyasa

Oh fak, begitulah artikel opini ini dibuka dengan kalimat kasar. Benar-benar sh!t, aku masih ingat zaman duo keong racun itu tenar lewat Youtube melalui lipsync. Kemana mereka sekarang? Pertanyaan ini sudah terjawab lewat Linetudey beberapa tahun yang lalu. Narsisme adalah makanan sehari-hari masyarakat post-modern, mengapa? Kalo kata mahasiswa baru sospol “Cogito ergo sum”, “Aku berfikir maka aku ada” halah. Aku masih ingat narsisnya aku bikin video lipsync lagu Bruno Mars dengan sedikit harapan bisa tenar seperti duo keong racun itu. Ah sudahlah, kesimpulan intro ini aku hanya ingin bilang pada dasarnya narsisme adalah hal yang melekat dengan manusia, singkatnya kita semua pernah alay. “ALAY!” –Dedi Korbujer

Tik-tok Tik-tok Tik-tok, begitulah bunyi jam mejaku berbunyi di dalam keheningan malam yang sunyi. Tiba-tiba “Bowo…” APA!?1?!1?!? “Bowo ganteng banget!” ALAMAK! Siapa itu Bowo? Begitulah aplikasi Tik Tok dan nama Bowo muncul dalam kehidupanku melalui explore Instagram. Ngehe memang algoritma digital, kataku. Aku perhatikan bagaimana Bowo mengingatkanku akan masa kecilku, ingin tenar, naif dan penuh percaya diri. “MATI AJA LO BOWO DAN ANAK-ANAK TIK-TOK K*NT*L”, “HAHAHA BOWO JELEK TERNYATA ITEM!” Ya Allah, apa yang kamu harapkan dari anak berumur 13 tahun? Siapa kamu untuk menentukan siapa yang hidup atau mati?

Sekarang, kita masuk dalam suatu permasalahan masyarakat internet atau yang lebih akrab disapa netizen. Meet and greet mahal dan cerita sedih soal keluarga miskin yang anaknya gamau sekolah kalo ga ketemu muser. Premis masalah ini coba kita analisa siapa pelaku utamanya? Bocah Tik Tok? Internet? Netizen? Kita coba mulai mengkaji, apa yang dapat dikatakan salah atau benar? Ya, moral dan generalisasi sosial. Kita kembali pada kalimat yang sering dibawa oleh anak-anak edgy, konstruksi sosial.

Mari kita telaah premis “Meet and greet mahal”, oke masalah mahal itu soal nominal, daya beli. Seberapa cukupkah kondisi finansial anda dengan kebutuhan dan keinginan? Simpel, kalo itu kemahalan gausah maksa Jendral! Coba cari alternatif meet and greet yang lebih sesuai dengan dompet anda. “Masalahnya, si anak maksa orang tua buat bayarin meet and greet?” Oke, pernah denger cerita Malin Kundang? Orang tuanya ngajarin apa sampe anaknya bisa mengancam? Aku tidak yakin sampai di sini kalian paham, untuk mempermudah aku ingin bilang bahwa kita bisa berdebat sepanjang hari untuk menentukan siapa yang salah. Namun, siapa kita untuk menentukan yang salah dan yang benar?

“A smaller, almost ridiculous  type, a herd animal. Something eager to please, sickly, and mediocre” -Friedrich Nietzsche

Pertanyaan di atas membawa kita pada topik utama artikel ini. Apa yang ingin aku sampaikan? Ya, Herd mentality. Konsep herd pertama kali digagas oleh filsuf Jerman Friedrich Nietzsche. Konsep ini berfungsi untuk mendiferensiasi manusia herd dengan higher being. “A smaller, almost ridiculous  type, a herd animal. Something eager to please, sickly, and mediocre” Kalimat ini ditulis Nietzsche dalam buku Beyond Good and Evil. Mudahnya dalam buku tersebut Nietzsche menandakan herd sebagai mayoritas masyarakat yang mentalnya penuh dengan rasa iri, dengki dan hanya ikut-ikutan, mudah dikembalakan. Hohoho terdengar familiar? Tentu, mayoritas kita adalah herd, termasuk saya yang ikut-ikutan bikin artikel soal Tik Tok. Konsep Herd Mentality merupakan salah satu kajian psikolog sosial perancis, Gabriel Tarde dan Gustave Le Bon. Oh, bagi kalian para penggemar studi psikologi, konsep ini juga dipelajari oleh Sigmun Freud dalam buku Instinct of the Herd in Peace and War. Studi para psikolog mengenai herd, kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan oleh Nietzsche.

Lantas apakah relevansi herd mentality dengan isu Tik Tok? Dalam artikel ini saya menggaris bawahi respon netizen. Kalian akrab dengan istilah “Stop making idiot people famous?” Istilah ini merupakan kritik terhadap perilaku masyarakat di dunia media sosial. Istilah tersebut juga sering digunakan pada kasus seperti Bowo, bahkan dalam skala masyarakat netizen internasional. Pertanyaan yang muncul dari istilah ini adalah “Siapa yang membuat ‘idiot’ people famous?” Ya betul, kita para netizen. Sesimpel kalian mengikuti isu ini, membagikan, bahkan menghina, maka kalian telah berkontribusi dalam proses marketing tradisional atau lebih gilanya lagi proses digital algorithms. “Idiot people” ini menjadi focus keywords sehingga mahluk seperti Bowo bisa muncul dalam laman explore Instagram atau Instagram Story saya. Perilaku netizen inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab poster meet and greet muser Karawang seharga ratusan ribu bisa dijamah banyak anak kurang mampu.

Perilaku netizen apa yang telah berkontribusi dalam ketenaran Bowo? Menghina, mengkritik, cyber bullying, menjadikannya meme. Apa yang menyebabkan perilaku ini? Kita ikut-ikutan menghina Bowo karena isu ini telah menjadi pop-culture/mainstream yang ramai dibahas orang-orang. Kita ingin terlihat informatif dan up-to-date, kita menyangkal bahwa kita juga pernah alay pada masanya. Perilaku inilah yang disebut dengan herd mentality. Lalu apakah hukum kausalitas atau sebab-akibat yang kita dapatkan? Ibunya Bowo menangis di TV? Atau Tik Tok sempat diblokir Kemenkominfo? Lantas apakabar sosial media lain? Memblokir Tik Tok menurut artikel karya Arif Utama di Voxpop itu tidak berfaedah, dan menurut saya apa yang banyak orang lakukan terkait isu ini juga sama tidak berfaedahnya. Oh, tunggu ada satu hal yang kita dapat dari fenomena ini! Yaitu mengerikannya kumpulan herd. Ingat kasus Twitter soal persekusi pelaku komik LGBT di Indonesia akhir-akhir ini? Ya, sangat mengerikan bukan? Belum lagi bicara soal fungsi Instagram question? MAYGAD!

“Great Minds Discuss Ideas; Average Minds Discuss Events; Small Minds Discuss People” -Henry Thomas Buckle

Sebelum mengakhiri artikel opini yang sama tidak berfaedahnya (semoga berfaedah), pernah dengar “Great Minds Discuss Ideas; Average Minds Discuss Events; Small Minds Discuss People”? Bukan, bukan quotes Socrates. Kalimat itu pertama kali keluar dari mulut seorang akademisi sejarah, Henry Thomas Buckle. Nah, berdasarkan quotes tersebut bisa tebak aku, kamu, kita, kalian, mereka berada dimana? Samlekum.

Tags:

You Might also Like

1 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *