LOADING

Type to search

Tren Hidup Organik: Milyaran Peluang dibalik Obralan Manfaat

COLUMN FEATURED

Tren Hidup Organik: Milyaran Peluang dibalik Obralan Manfaat

Siti Adela 25/10/2018
Share

Ilustrasi oleh Mutiara Fakhrani

“Apakah motif dari rencana terkait menyehatkan umat manusia, bisa dipandang sebagai gimmick bisnis semata?”

Organik kini, organik lagi, organik kemudian.

Tak terhitung berapa kali kata ‘organik’ melambung eksistensinya secara bertahap di media sosial. Dari yang tadinya sepi peminat, kini dipuja beramai-ramai. Merasa tidak terkena euphoria ‘organik’? Mari melihat-lihat sejenak sambil menyusuri beberapa tren terbaru.

Pertama, cobalah tanya saudara, teman, atau pacar perempuan anda. Umumnya, mereka sudah lebih familiar akan serangkaian produk kecantikan berbasis organik. Bahan baku yang dipakai pun rasanya kurang dikenal di Indonesia; seperti argan dan rosehip, tetapi seiring dengan berjalannya waktu semakin diakui keberadaannya. Barang yang dijual pun rata-rata sama dan diklaim dapat memberikan manfaat tertentu (yang sama pula). Otomatis harga menjadi aspek yang diperhitungkan.

Saya berani bertaruh bahwa untuk pertama kalinya, lini skincare organik perlahan mampu menggeser popularitas make up yang selama ini secara visual jauh lebih menarik. Sebuah kenyataan yang revolusioner mengingat (kebanyakan) perempuan Indonesia lebih suka menghabiskan waktu dan uangnya untuk bersolek ketimbang merawat diri. Kini, hal yang terjadi justru sebaliknya.

Ada lagi hal lain yang cukup digandrungi oleh masyarakat perkotaan: diet sehat menggunakan prinsip organik. Kini sudah banyak catering yang menyediakan paket sehat untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam. Praktis, diet ini menjadi solusi termudah untuk masyarakat metropolitan yang selalu sibuk tetapi ingin tetap fit. Akhirnya muncul prinsip baru dalam variasi kuliner perkotaan: hidup sehat itu gak ribet!

Tetapi yang patut digarisbawahi adalah, apakah kita benar-benar membutuhkan panduan A sampai Z untuk makan? Bukankah sayur-mayur relatif mudah didapatkan di pasar, sehingga tidak harus menggunakan jasa catering? Dan kalau ternyata mengolah lauk menjadi hidangan berkalori rendah, seharusnya semua sudah OK dong? Ternyata pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab secepat kejapan mata.

Ada permintaan, ada penawaran. Prinsip saklek itu juga turut berlaku pada kedua fenomena di atas. Entah siapa yang memulainya, tetapi tren ini mulai berlaku sejak pertengahan tahun 2015 yang kala itu bermulai dari bisnis catering sehat. Dua tahun kemudian skincare organik menyusul, meskipun beberapa brand sudah mengusung misi organik jauh sebelum tren ini dimulai. Salah satunya adalah brand asal Bali, Sensatia Botanicals, yang sudah berdiri sejak tahun 2000 sebagai feel good profit-sharing company dan terus berjalan hingga kini.

Alasan skincare kian diminati adalah komposisinya yang alami. Hampir seluruh produknya tidak menggunakan bahan kimia tambahan seperti SLS (sodium laureth sulfate) yang berfungsi sebagai deterjen, alkohol maupun paraben. Meski natural, bukan berarti produsen tidak 100% absen menggunakan bahan kimia. Dalam praktiknya Sensatia Botanicals masih menggunakan komponen kimiawi seperti citric acid dan decyl glucoside meskipun secara keseluruhan produknya aman digunakan dan beresiko rendah, sekitar 84%.

Karena minim unsur kimiawi berbahaya, manfaat yang diperoleh pun menjadi maksimal. Intinya benar-benar melindungi konsumen dari resiko berbahaya. Terutama untuk para ibu yang tengah mengandung karena juga harus memastikan keselamatan bayi melalui produk-produk non-kimiawi. Berdasarkan polling Instagram yang dijalankan oleh penulis, 80% konsumen merasa puas dengan klaim produknya. Kecenderungan untuk repurchase pun semakin tinggi.

Tentunya semua usaha mulia tersebut dihargai dengan biaya yang tidak sedikit. Beberapa orang mungkin akan bertanya-tanya akan perihal satu botol serum berukuran 10 ml saja bisa menembus harga 150 ribu lebih. Belum lagi dengan rangkaian perawatan lainnya yang kalau dihitung-hitung juga tidak murah.

Padahal, sebenarnya bisa saja melakukan perawatan yang bahan bakunya berasal dari dapur sendiri. Produk masker misalnya, bisa disiasati dengan mencomot beberapa bahan masakan seperti kunyit, tomat, maupun madu. Ketiga bahan tersebut dimodifikasi sesuai kebutuhan. Jauh lebih hemat, bukan? Lalu kenapa tetap doyan membeli?

Hal yang sama juga berlaku pada diet catering organik. Kalau kita bisa membeli bahan bakunya sendiri dengan harga yang jauh lebih murah, mengapa kita mau repot-repot investasi untuk berlangganan catering (harganya lebih mahal pula?). Padahal bahan bakunya juga rata-rata sama persis.

Saya menghimpun dua jawaban yang paling sering dikemukakan oleh masyarakat metropolitan perihal ini:

  1. Manfaat produk organik terbukti ampuh.
  2. Males bikin segala sesuatunya sendiri.

Kesimpulan yang bisa ditarik: meskipun sudah ada kesadaran untuk hidup sesuai dengan kaidah alam, tetapi sifat ‘ingin instan’ terus mengalir dalam diri masing-masing. Bak gayung bersambut, ada saja yang bersedia mewadahi keinginan tersebut.

Selintas sektor ini terlihat begitu menjanjikan. Memang benar, bila diukur dari segi sustainability alias keberlanjutannya. Pola yang seringkali diterapkan adalah pengadaan kerjasama proyek dengan masyarakat setempat sehingga akan tercipta supply chain management yang terus berjalan. Dengan begitu, sebenarnya produk organik tidak perlu takut kehabisan bahan baku karena pada akhirnya lahan akan terus digarap untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu, bahan baku alami juga cenderung lebih sustainable ketimbang harus menggunakan bahan kimia. Secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kualitas si bahan baku untuk terus memenuhi standar.

Sebuah bisnis akan dianggap sustainable bila mampu meminimalisir efek negatif yang berpotensi bisa mencemari lingkungan. Selain itu, ia juga tidak boleh melupakan hak-hak sosial sembari menciptakan profit. Pokoknya harus manusiawi. Itulah sebabnya bisnis organik seringkali menitikberatkan pada interaksi humanum yang mendalam. Interaksi tersebut dibutuhkan untuk membangun kepercayaan antara mitra kerja dan pemilik produk. Pola ini paling cocok untuk diterapkan di daerah masyarakat pedesaan yang masih menjunjung tinggi hubungan kekeluargaan. (I’m talking about more employment!)

Lalu mengapa barang-barang organik cenderung lebih mahal ketimbang barang konvensional yang lebih mudah diperoleh? Tak lain dan tak bukan adalah prosesnya yang rumit. Untuk produk kecantikan dan pangan, biasanya terletak di bagian formulasi dan komposisi. Perlu diingat bahwa produk organik tidak menggunakan bahan-bahan pestisida atau hormon untuk tanamannya, sehingga butuh waktu lebih lama untuk menunggu mereka tumbuh dengan selamat dan sehat. Tidak apa-apa menunggu, yang penting konsumen sehat~ Sebagai bayarannya tentu saja dihargai dengan nilai yang lebih tinggi. Time is money, man.

Menjalankan bisnis organik memang bukan perkara mudah. Suatu keharusan utama untuk menunggu sertifikasi produk yang prosesnya tidak sebentar agar produknya layak jual dan aman dikonsumsi. Terkadang si owner tidak bisa berlaku terlalu jauh selain memasarkan produk ke kalangan terbatas atau tidak melakukan apa-apa sama sekali. Lalu, beberapa brand ternyata merupakan home industry yang masih menggunakan tenaga manual, sehingga hasilnya jauh tidak efektif apabila menggunakan mesin. Tapi mereka percaya bahwa hasil kerja mesin tidak selalu bagus, masih percaya tradisional.

Di balik semua itu, bisnis ini akan menuai hasil yang unggul apabila dikelola dengan serius. Sangat mungkin akan mendapatkan pelanggan yang betah karena sektor skincare dan pangan membutuhkan konsistensi yang bulat.

Jadi, apakah motif dari rencana terkait menyehatkan umat yang mampu saja bisa dipandang salah satunya sebagai bisnis semata? Tentu saja karena jaman sekarang semua dibisnisin.  Asal ada permintaan, maka bisnis organik akan selalu hidup.

Bagaimana dengan kamu? Tertarik untuk mencoba peruntungan di dunia organik?

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *