LOADING

Type to search

Urban Farming: Menjadi Petani untuk Diri Kita Sendiri di Tengah Perkotaan

COLUMN FEATURED

Urban Farming: Menjadi Petani untuk Diri Kita Sendiri di Tengah Perkotaan

Siti Adela 03/08/2018
Share

Ilustrasi oleh Mutiara Fakhrani

Sebelum membaca lebih jauh, hendaknya penulis perlu memasang sedikit disclaimer terlebih dahulu. Bukan bermaksud suudzon, karena buat apa yeu ‘hehe’. Satu hal yang perlu kita ketahui bersama: penulis yakin bahwa hampir semua pembaca (notabene penduduk kota) yang kebetulan tengah mampir ke artikel ini TIDAK berpikir untuk belajar bercocok tanam. Seringnya tidak masuk dalam urutan skala prioritas. Mungkin, ada beberapa walaupun masih bisa dihitung jari.

Mungkin pula ada yang bertanya, “buat apasih gue belajar menanam? Diri sendiri aja masih susah banget diurusin, boro-boro berkebon”. Dimana penulis masih bisa mendengarkan sayup-sayup tanda setuju dari pembaca sekalian. Hal tersebut dirasa wajar-wajar saja, karena dari kecil sudah terbiasa memperoleh apapun yang dikonsumsi secara instan. Kata instan sendiri memang terkenal melekat dengan gaya hidup khas perkotaan yang serba ingin efektif dan efisien di waktu yang singkat.

Namun, tidak ada yang menyangka bahwa sebenarnya masih ada yang peduli untuk mengubah cara pandang tersebut…. di perkotaan. Betul, di daerah yang notabene terbiasa dengan gaya hidup instan. Bagaimana bisa belajar berkebun kalau halaman rumah saja tidak cukup? Memang sempat?

Baru-baru ini, istilah dan praktik “urban farming, lalu ada juga “permaculture yang tengah naik daun di sejumlah kota besar. Banyak definisi yang membawahi istilah urban farming sendiri, tetapi singkatnya adalah praktik mengembangkan dan memproduksi bahan makanan di tempat yang padat penduduk, seperti perkotaan. Dikutip dari situs Greensgrow, urban farming menjadi salah satu cara untuk meningkatkan akses pada bahan makanan yang diolah secara lokal, juga sebagai sarana edukasi pada publik. Bagaimana bahan makanan bisa tercipta, tumbuh besar, dan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

“Mungkin paling sederhana nya ya sekadar meningkatkan awareness untuk lebih peduli dengan lingkungan”

Seperti yang dilakukan oleh teman-teman dari Kebun Kumara. Terletak di daerah Situ Gintung, Tangerang Selatan, lahan ini khusus diperuntukkan untuk siapapun yang tertarik belajar berkebun dengan prinsip permaculture. Saat ini, Kebun Kumara rajin menggelar berbagai workshop berupa pelatihan menanam setiap minggunya. Semua diajarkan dari nol agar sebisa mungkin penjelasan mudah dipahami. Lalu, apa yang mendorong orang-orang untuk main ke Kebun?

“Mungkin paling sederhana nya ya sekadar meningkatkan awareness untuk lebih peduli dengan lingkungan,” ujar Dhira Narayana, salah satu pendiri dari Kebun Kumara. “Banyak juga yang sambil bawa anak kesini karena gak mau anaknya hanya bermain gadget. Harus ada aktivitas bercengkrama dengan alam.”

Seiring dengan berjalannya waktu, visinya semakin lama semakin berubah. Dari yang tadinya hanya membuat workshop, sekarang merambah ke berjualan hasil produksi. Hal tersebut dijalankan melalui penjualan salad segar yang bisa diantar langsung ke rumah pelanggan. Dalam waktu dekat, Kebun Kumara akan terus mengembangkan prototype agar orang juga bisa bisa berkebun di lingkungan rumah masing-masing. Teknik ini disebut dengan decentralized urban farming (pertanian lahan-lahan kecil) yang dianggap mampu menularkan kebiasaan baik berkebun di rumah. Dengan memanfaatkan ruang yang ada, khas luas rumah perkotaan, asal tahu triknya pun maka jadilah!

Saya bertanya kepada Ara, salah satu anggota yang telah aktif berpartisipasi mengembangkan sisi edukasi dari Kebun Kumara. Ia mengaku bahwa selama ini pemahamannya tentang alam belum kuat. “Pada dasarnya aku memang suka alam, makanya aku suka travelling ke tempat tempat seperti gunung dan pantai untuk cari-cari pemandangan. Selama ini aku cuma sebatas menikmati dan paham secara konsep bahwa alam memang harus dijaga, itu saja. Tapi ketika aku ke Kebun Kumara,  aku jadi sadar kalau selama ini kok kayaknya kita take nature for granted. Sebagai individu, kita bisa juga lho berpartisipasi untuk jaga alam”.

Melalui Kebun Kumara, Ara mengaku bahwa pemahaman “menjaga alam” jauh lebih  meningkat. Menurutnya, program-program yang ada selalu disesuaikan dengan konsep yang diajarkan sehingga mudah untuk diterapkan kembali.

Ia juga menceritakan pengalaman menanamnya yang seringkali tidak semulus benang sutra alias banyak lika liku. “Pernah awal-awal aku mencoba nanem bunga matahari di loteng, tetapi baru tumbuh empat hari tiba-tiba hilang, gak ada bekasnya sama sekali. Aku pikir dimakan bekicot atau hewan lainnya. Jadi aku pindahin deh ke halaman.” ujar Ara dengan geli. Untungnya sekarang Ara bisa happy karena bunga mataharinya akhirnya tumbuh. Tanaman rosella dan kacang hijaunya juga sudah panen. Kini ia tengah mempraktekkan ecobrick (sampah plastik yang dipadatkan di dalam botol) dan rajin menanam berbagai jenis tanaman.

Ketika ditanya apakah Ara merasa optimis mempertahankan kebiasaan ini sampai beberapa tahun ke depan, ia mengiyakan dengan semangat. Bahkan ada rencana untuk mencoba menanam tanaman yang bisa dikonsumsi. “Biar gak jadi konsumen terus.” ucap Ara dengan mantap. Apa yang Kebun Kumara telah lakukan adalah salah satu cara untuk kembali berpikir dan bersyukur. Memikirkan tentang proses alamiah yang telah Ibu Pertiwi berikan bagi makhluk di dalamnya sekaligus mengajarkan untuk tetap bersyukur. Untuk pembaca yang tinggal di sekitar Jakarta, Kebun Kumara ini bisa jadi salah satu solusi yang bagus untuk dicoba. Bagi pembaca lain yang tinggal di kota besar lainnya dan punya tempat serupa, mari saling membantu dengan share nama tempatnya di kolom komentar. Sampai jumpa di edisi Organic Living berikutnya!

Tags:

You Might also Like

1 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *