LOADING

Type to search

Penawar Rindu di masa Pandemi dari Voxxes, Pink Light Dawn

DAILY FEATURED

Penawar Rindu di masa Pandemi dari Voxxes, Pink Light Dawn

Abyan Hanif 23/06/2020
Share

Sudah kurang lebih tiga bulan kita berdiam diri di rumah akibat dari pandemi covid-19 yang merajalela di berbagai daerah. Selama tiga bulan itu juga mempengaruhi kebiasaan maupun aktivitas kita sehari-hari, bahkan kurangnya aktivitas sosial yang kita lakukan justru mengganggu tubuh dan pikiran, seperti kejenuhan yang membuat kita malas untuk melakukan sesuatu.

Sebagai seorang penikmat musik, saya juga cukup terganggu dengan pandemi ini, dimana biasanya hampir setiap hari saya dapat nongkrong bersama teman sambil membicarakan musik yang kita sukai, mendengarkan lagu bersama-sama, hingga menonton konser yang setidaknya selalu digelar sekali dalam sebulan.

Setiap minggu tadinya selalu ada musisi-musisi yang merilis karya baru dan menunggu untuk diulas di incotive selalu membuat kebutuhan musik saya terpenuhi. Terhitung, mungkin sudah dua bulan lamanya saya tidak mendengarkan lagu rilisan terbaru. Akhirnya setelah sekian lama, saya berkesempatan untuk mendengarkan musik anyar lagi dan musik tersebut adalah “Pink Light Dawn”, single terbaru dari Voxxes.

Dalam masa pandemi ini tidak mengurungkan Voxxes untuk merilis karya terbaru mereka yang diberi judul “Pink Light Dawn” pada 6 Juni lalu. Menurut rilisan pers dari Voxxes, penamaan “Pink Light Dawn” berasal dari suasana dini hari ketika lagu tersebut dibuat.

Single ini berangkat dari pengalaman pribadi Zhafari sang vokalis ketika terjadi konflik batin dalam dirinya ketika mengakhiri sebuah hubungan. Konflik yang terjadi pada diri Zhafari pada sekitaran adzan subuh membuat lagu ini lahir dan “Pink Light Dawn” menjadi judul yang dipilih karena merepresentasikan suasana langit dan hatinya pada saat itu.

Berbeda dengan rilisan-rilisan sebelumnya, nuansa pop lebih ditonjolkan pada single terbaru ini dimana pada rilisan “A Flight To North Pole” terdapat sedikit sekali sentuhan ngawangngawang psikedelia dengan reverb lusuh dan tremolo pada gitarnya.

Saya pertama mendengarkan “Pink Light Dawn” melalui klip video, dimana langsung terasa suasana tahun 60-an karena gaya video hitam putih dan fesyen pakaian yang dikenakan para pemeran dalam video. Hal ini membuat saya bingung karena tidak ada kesan “jadul” pada lagunya; baik dari komposisi, sound, maupun liriknya. Dari detik pertama hingga menit ke empat, saya hanya fokus memperhatikan sang aktris yang bernama Putri Gloria karena lebih menarik menurut saya.

Pada lagunya, kesan pop memang lebih menonjol jika dibandingkan dengan rilisan karya Voxxes yang sebelumnya. Ketukan drum monoton, gitar yang memblok progresi akordnya dan vokal dari Zhafari sukses memenuhi ruang suara pada lagu ini yang membuat kesan popnya sangat kental.

Bagian favorit saya adalah lead gitar dengan palm muting-nya ditambah delay dan reverb yang semakin membuat lagu ini terkesan menarik. Penggalan lirik ‘Wake me up when it’s over’ juga seakan menegaskan bahwa mengakhiri sebuah hubungan merupakan hal yang sulit untuk dihadapi, sesuai dengan konsep “Pink Light Dawn”.

Secara keseluruhan, rilisan terbaru dari Voxxes yang mudah untuk didengarkan mampu membuat para penikmat musik di luar sana terhibur selama melewati masa-masa menjenuhkan di rumah. Selain itu, penggalan lirik yang sudah disebutkan di atas tadi juga dapat dikaitkan dengan fenomena pandemi akhir-akhir ini.

Akhir kata, terima kasih Voxxes yang sudah memberikan warna baru dalam situasi yang menjenuhkan ini. Semoga rilisan ini dapat menjadi momentum bagi musisi-musisi lain untuk lebih berani berkarya di tengah masa sulit ini.

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *