LOADING

Type to search

Warna Baru dalam Permusikan Bandung, Copacetic Sound: Silent-concert yang Menawan

EVENT FEATURED

Warna Baru dalam Permusikan Bandung, Copacetic Sound: Silent-concert yang Menawan

Abyan Hanif 09/04/2019
Share

Foto oleh Larissa Atmawati

Dunia selalu mengalami perkembangan teknologi yang sangat pesat, dimulai dari revolusi industri pertama ketika mesin uap pertama kali ditemukan oleh James Watt dan diaplikasikan dalam berbagai jenis produk dan pabrik hingga beberapa tahun ke belakang istilah revolusi industri 4.0 digaungkan ketika teknologi internet, robot dan jaringan nirkabel mengambil alih kendali di berbagai bidang.

Dunia musik juga tidak luput terkena imbas dari inovasi-inovasi tersebut. Salah satunya adalah Silent-concert atau Silent-disco dimana dalam sebuah konser musik output yang dihasilkan dari performer tidak disalurkan melalui sistem speaker konvensional, akan tetapi ditransmisikan melalui headphone nirkabel yang digunakan oleh para audience.

Jika kalian merasa silent-concert merupakan hal yang tidak efisien dan boros biaya karena harus menyediakan headphone untuk setiap pengunjung-nya, percaya lah kita satu pemikiran. Hingga pada hari Sabtu, 6 April 2019 kemarin saya berkesempatan menghadiri silent-concert pertama di Bandung yang bertajuk “Copacetic Sound”, acara yang diselenggarakan secara kolektif dan disponsori oleh Super Generation.

Ketika pertama memasuki rooftop Moxy Hotel dimana Copacetic Sound digelar, saya belum merasakan vibes yang berbeda jika dibandingkan dengan gigs musik pada umumnya. Namun, perbedaan mulai terasa ketika kami memasuki venue dan dibagikan sebuah headphone nirkabel. Keunikan lain selain dilibatkannya headphone sebagai media penyalur suara adalah tata letak panggung yang tidak seperti konser musik pada umumnya. Alih-alih menggunakan layout panggung sewajarnya dimana audience yang selalu berhadapan langsung dengan performer, Copacetic Sound mencoba menggunakan tata letak panggung yang terfragmentasi seperti showcase album The Adams di Jakarta beberapa bulan lalu.

Komposisi panggung yang terlihat lebih seperti sebuah pameran seni dari pada konser musik, dimana pemain drum, vokalis, gitaris, pemain bass, dan pemain keyboard berdiri di atas platform  berbentuk kotak dan menempati posisi yang letaknya dipisahkan oleh celah untuk dilalui oleh para tamu hadirin, sehingga membuat penonton bebas berkeliaran entah karena ingin melihat efek gitar yang digunakan secara lebih dekat atau sekedar melihat punggung belakang dari sang gitaris ketika sedang solo gitar, menjadi tambahan empat poin untuk rasa penasaran saya yang semakin lama semakin bertambah.

Beberapa waktu berselang, Rock n Roll Mafia yang di-plot sebagai artis pembuka silent-concert pertama di Bandung ini sudah berada di atas panggung atau tepatnya di atas platform masing-masing, bersiap untuk memainkan lagu pertama mereka. Rasa penasaran saya akhirnya terbayarkan ketika RNRM memainkan lagu pertama pada setlist mereka malam ini, ditambah lagi dengan tata lampu laser hijau ala-ala film sci-fi yang di operasikan oleh tim Convert yang sedikit mengingatkan saya kepada Markus Horison, Malaysia, dan Final AFF Cup 2010.

RNRM bermain selama sekitar satu jam setengah, dimana setelah itu dilanjutkan dengan ‘turun minum’ selama sekitar 15 menit. Acara dilanjutkan dengan penampilan dari Midnight Runners, duo-disco/funk yang mengisi panggung selama kurang lebih satu jam dan menjadi performer terakhir di Copacetic Sound kali ini. Akan tetapi, selang beberapa saat ketika Midnight Runner memainkan lagu mereka, banyak pengunjung lain sudah merasa bosan dan memutuskan lebih baik nangkring di luar ruangan.

Hal tersebut terjadi bukan karena musik yang mereka mainkan, melainkan tidak adanya sesuatu yang ‘wah’ pada penampilan Midnight Runners kala itu. Tidak ada bedanya dengan mendengar lagu di rumah menggunakan headphone, atau gelaran silent-disco pada umumnya di klub malam Jakarta seperti yang digambarkan dalam film Jakarta Undercover (2017). Aksi Midnight Runners malam itu tidak mampu menyusul overwhelming-nya konsep dan pertunjukan yang disajikan RNRM sebelumnya, sehingga Midnight Runners terasa hanya sebagai pelengkap atau pemanis saja untuk menutup acara.

Secara garis besar Copacetic Sound mampu menghadirkan suasana yang baru nan unik di kancah permusikan Kota Bandung, dengan inovasi-inovasi baru dan mungkin masih asing di kalangan penikmat musik kota kembang. Namun agak sedikit disayangkan dengan kualitas sound yang dihasilkan menurut saya masih kurang akibat perpindahan dari drum pad electric ke drum set biasa dengan suara snare yang kurang nyaring dan kick yang ‘mendem’. Namun secara keseluruhan acara Copacetic Sound sangat menawan karena lebih berfokus kepada memberikan pengalaman menonton pertunjukan musik yang segar, khususnya untuk penonton di Bandung yang datang merasakan langsung. Empat jempol untuk acara Copacetic Sound.

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *