LOADING

Type to search

Sekilas Warta Kelabu Nasional Bulan September

COLUMN FEATURED

Sekilas Warta Kelabu Nasional Bulan September

Naufal Malik 30/09/2019
Share

Ilustrasi oleh Pininta Taruli

*Tulisan ini dibuat pada dua waktu, 19 September dan 29 September dikarenakan hal-hal tertentu.

19 September 2019

Hari-hari yang berlalu tanpa artinya, sejak saya mendapat gelar sarjana Agustus lalu. Pada masa modern ini, lebih dilihat adalah kegigihan mencari penghidupan ketimbang berdasarkan kemampuan belaka. Menjadi pengangguran di rumah memiliki kebaikan dan keburukan.

Pada keburukannya terlebih dahulu, rasa-rasanya tidak enak di usia kepala dua ini masih diasuh oleh orang tua, terlebih orang tua sudah sangat berharap saya untuk bekerja. Akan tetapi, pada kebaikannya, banyak hal kosong yang dapat diisi kegiatan.

Meski kegiatan yang saya lakukan adalah menonton video YouTube dan bermain permainan komputer, akhir-akhir ini ada hal yang membuat saya terpikat. Kejadian-kejadian “nasional” yang terjadi pada September ini.

Sekilas, banyak hal yang terjadi di republik ini di bulan September. To name a few, bergabungnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat serta Paku Alaman ke dalam bagian NKRI, lahirnya musisi legendaris Iwan Fals, kematian Munir di udara, dan kecelakaan pesawat maskapai Mandala di Medan.

Untuk tahun ini, kejadian-kejadian yang perlu dijadikan sebagai buah bibir publik seantero negeri seperti masih tegangnya situasi di Papua, karhutla di Sumatera dan Kalimantan (berita rutin setiap tahunnya), serta polemik politik hukum yaitu mengenai KPK dan RKUHP.

Tulisan ini dibuat untuk memberikan kupasan kulit dari berbagai permasalahan tersebut yang selanjutnya saya harapkan anda mencari sendiri, dengan harapan tulisan ini menjadi pemicu untuk rasa ingin tahu anda.

Konflik Papua sepertinya harus dibuka dengan lagu dari ERK yang berjudul “Merdeka”. Menariknya, pulau besar di timur tersebut berada pada persimpangan jalan nasib bangsa. Satu jalan adalah menjadi manusia merdeka beserta konsekuensinya, sama seperti Bangsa Indonesia dulu ketika memisahkan diri dari monarki Belanda.

Adapun satu jalan lagi adalah untuk menjadi patriot Indonesia alias menjadi martir untuk kemakmuran bersama serta menaruh kepercayaan pada pemerintah pusat agar orang Papua dapat jaya di negerinya sendiri.

Sebagai bagian dari republik, sebenarnya sah-sah saja Papua menganggap bukan bagian dari Indonesia dengan alasan sederhana nan filosofis yaitu bahwa tidak adanya pemuda perwakilan Papua yang ikut Kongres Pemuda 2 untuk mengucap sumpah pemuda. Lagi-lagi pertanyaan yang sama seperti pada masa Trikora dulu, IRIAN (Ikut RI atau Nederland?).

Karhutla yang memang terjadi pada jadwalnya bukan berita baru, melainkan memang telah terjadi pada masa kolonial. Penyebabnya adalah musim kemarau, lahan yang kering, dan kebiasaan tradisional masyarakat sekitar yang membuka lahan dengan metode slash and burn.

Sialnya, di masa modern ini bukannya dicegah atau dihilangkan kebakaran tersebut, malahan tiga faktor tersebut menjadi empat faktor dengan tambahan kehadiran perusahaan kelapa sawit. Dan memang telah menjadi rahasia umum bahwa faktor keempat efeknya lebih dahsyat ketimbang tiga faktor awal digabung sekalipun.

Tapi ya santai saja kan, hutan masih banyak dan juga asapnya kan mengarah ke utara jadi Pulau Jawa tidak terkena (eh). Dan dunia seharusnya tidak menyalahkan pemerintah dan warga Indonesia saja (tapi memang pantas sih) atas kerusakan “paru-paru dunia ini”.

Kejahatan ini pun melibatkan andil-andil korporasi, baik asing maupun lokal, dalam upaya mencari keuntungan dengan merusak lingkungan. Jadi, coba kalian orang-orang londo atau inlander sok londo untuk mencari tahu perusahaan mana saja yang terlibat industri sawit di Sumatera dan Kalimantan. Memang banyak asap di sana, eh ERK lagi.

Terakhir adalah DPR yang seperti siswa kebut semalam dalam menyelesaikan tugasnya. Kesuksesan badan legislatif salah satunya dapat diukur dari berapa banyak produk hukum yang dikeluarkannya.

Lima tahun ini sepertinya mereka menghadapi perdebatan yang alot sehingga pada akhir masa jabatannya baru banyak mengesahkan RUU. Sialnya, RUU yang nantinya menjadi UU banyak bermasalah seperti revisi UU KPK, RKHUP untuk menggantikan KUHP, serta revisi UU Pemasyarakatan.

Reaksi dari publik adalah demonstrasi, terutama kemarin-kemarin pada saat seleksi capim KPK. Artinya, ada sebagian dari masyarakat yang menolak hal tersebut. Namun, bulan ini adalah bulan yang buruk bagi mereka dikarenakan pemimpin kita yang merakyat kemungkinan besar menyetujui keinginan wakil rakyat.

Tuduhan utamanya sih mahar politik atas kampanye kemarin. Lucunya, di saat seperti ini muncul ekonomi kreatif ala Indonesia, yaitu massa bayaran. Terlihat pemerintah berhasil membuka lapangan pekerjaan baru untuk menanggulangi kemiskinan. Seharusnya Mei lalu didengar coba lagu “Hijau” dari ERK.

Sebenarnya masih banyak perbincangan yang pantas menjadi masalah nasional seperti tumpahan minyak dari kilang di pantai Karawang, tingkat polusi di Jakarta, bencana-bencana alam yang kalah beritanya sama kelakuan badut Senayan, dan lain-lain yang tidak dapat dibahas (bahkan kulitnya saja) dalam satu artikel.

Maju terus bangsaku karena bulan depan pelantikan pemerintahan yang baru akan dilakukan (prediksi saya isinya itu-itu lagi). Maka dari itu, lagu penutup artikel ini yang pantas adalah “Mosi Tidak Percaya”, tentu dari ERK lagi.

29 September 2019

Benar saja, minggu ini akan kekal abadi dalam sejarah bangsa. Mobilisasi massa besar-besaran terjadi pada tanggal 23 dan 24, tentunya dipimpin oleh kaum terpelajar mahasiswa. Pada hari senin siang itu, saya sedang berada di kantin kampus saya dengan status sebagai orang asing.

Setelah menuntaskan hajat, tiba-tiba saya melihat poster kecil yang menempel pada asbak di meja, kata-kata sederhana yaitu “mosi tidak percaya”, “kosongkan kampus”, dan rentang waktu “23-24 September”. Seketika itu juga saya tertegun, berpikir keras bahwa roda telah bergerak.

Menjadi reaksioner atas tindakan konyol pemerintah dan legislatif, aliansi mahasiswa pun bergerak di berbagai kota di Indonesia. Malam pada hari itu, berita larut malam masih menayangkan mahasiswa yang bertahan di depan Gedung DPR, tentunya setelah merusak gerbangnya. Saya pun menyadari bahwa selasa besok akan menjadi momen bersejarah.

Disebut-sebut sebagai demo 98 jilid 2, demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh mahasiswa. Menariknya, latar belakang para mahasiswanya pun beragam, mulai dari veteran aktivis sampai apatis kecanduan permainan ponsel, dari raja diskusi sampai peziarah bar-bar malam, dari anak pengusaha sampai anak petani, dari universitas yang terkenal ahli unjuk rasa sampai universitas yang melarang mahasiswanya berujuk rasa (singkatnya Binus).

Semua bersatu, entah saling kenal atau sama visi, tetapi tujuannya adalah menuntut pemerintah untuk menggugurkan RUU yang dianggap “ngawur”, mengesahkan RUU perlindungan kekerasan seksual, menyelesaikan masalah karhutla, dan lain-lainnya.

Di hari yang sama pula, kerusuhan terjadi di Wamena yang seketika membuat internet di sana padam. Kenalan saya seorang loyalis pro pemerintah pun mengaku kalang kabut karena buzzer pemerintah kalah melawan aliansi di dunia maya. Publik pun terpukau melihatnya, baik generasi orba atau generasi baru-baru ini. Demo kemudian berubah rusuh yang berakhir dengan kekerasan dari aparat maupun demonstran.

Pada hari berikutnya, Rabu, muncul efek domino mob mentality yang menjangkit siswa-siswa rakyat miskin kota di ibukota. Sebut saja koalisi STM-SMA-SMK yang terafiliasi pada aksi 25 September 2019, kurang lebih tidak membawa hal yang baru karena sifatnya mendesak dan show of power atas kenakalan remaja yang dibiarkan pemerintah berlarut-larut.

Momen kerusuhan pun sangat dinanti, karena dengan terjadinya bentrokan dengan aparat, maka demonstran dapat menunjukkan posisi tawarnya yang tidak dapat berdiplomasi, tetapi hanya dapat berdebat dengan fisik saja.

Berikutnya di hari sabtu, sama saja mob mentality kelompok 212 yang merasa perlu menunjukkan eksistensinya sebagai kekuatan massa. Karya terbaik adalah karya yang ditiru oleh orang banyak, dalam hal ini demo yang dimotori mahasiswa pada tanggal 23-24 September dapat dikatakan berhasil karena ditiru oleh kelompok-kelompok lain.

Sesuai dengan tujuan tulisan di awal, sifat tulisan ini hanya mewartakan secara umum. Tidak ada analisis mendalam. Akan tetapi, dapat ditarik kesimpulan bahwa seminggu ini muncul kekuatan politik baru yaitu masyarakat sebagai reaksi dari buruknya kinerja pemerintahan periode 2014-2019.

Hari ini tanggal 30 September pun katanya akan ada demo lanjutan dari mahasiswa, kemungkinan dengan alasan tiga anggota demonstran yang meninggal karena rusuh dengan aparat. Entahlah apakah akan sesukses yang orisinilnya, biasanya sequel dapat mengecewakan.

Kalau boleh berpendapat, kenapa besok tidak sekalian saja memperingati gerakan itu loh yang dilakukan oleh partai terlarang itu…

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *