LOADING

Type to search

Mengenal Alter-Ego Christianto Ario ‘Anomalyst’ Melalui Kurosuke

INTERVIEW

Mengenal Alter-Ego Christianto Ario ‘Anomalyst’ Melalui Kurosuke

INCOTIVE 16/03/2018
Share

Reporter: Salwa Nadira A & Nabyl Rahardjo

Incotive mengobrol bersama salah satu musisi muda Indonesia yang baru-baru ini mengejutkan dunia maya dengan perilisan album solonya. Kami membahas hal-hal yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya tentang Kurosuke.

Christianto Ario mungkin lebih dikenal karena keterlibatannya di berbagai macam proyek musik. Dari Polka Wars hingga Mondo Gascaro, Ario pernah membantu menjadi session player nama-nama tersebut. Entah untuk bermain gitar atau pun mengisi keyboard dan piano di dalamnya. Ia juga dikenal sebagai frontman Anomalyst, sebuah band rock yang sempat mencuri perhatian di tahun 2017 lalu dengan album Segara-nya.

Jauh sebelum itu, di umurnya yang baru 3 tahun, Ario kecil sudah mengakrabkan dirinya dengan musik lewat bermain drum. Jiwa eksplorasinya yang terus tumbuh membuat dia tidak pernah terpaku pada satu jenis musik tertentu. Ini dibuktikan lewat peluncuran album solo perdananya. Muncul dengan nama Kurosuke, Ario menyajikkan sisi dirinya yang jauh berbeda dari apa yang ia lakukan sebelumnya di Anomalyst. Dilansir dari Instagram, album ini adalah album yang sangat personal bagi Ario,

“With music, I found a shelter, a place where thoughts and feelings – heartbreak night leads me to this record.”

Berangkat dari posting-an tersebut. Selasa dini hari, Incotive mencoba menghubungi Ario untuk berbincang-bincang mengenai proyek solo terbarunya, hal-hal yang belum publik ketahui tentang Kurosuke hingga cita-citanya menggarap album soundscape.

Incotive: Halo Ario. Se-random itukah lo membuat Kurosuke?

Ario: Se-random itu sih. Jadi gue abis main di Kemang sama Mondo [Gascaro]. Seperti biasa, gue sedang sedikit di bawah pengaruh alkohol dan gue lagi jenuh dengan kehidupan gue [saat itu]. Lalu pas bangun tidur langsung kebayang; kepikiran untuk bikin sesuatu. Orang pertama yang gue telfon itu, Dimas Martokoesoemo dan Bayu Perkasa, nanya, ‘Elo mau bantuin gue enggak? Gue kayaknya mau bikin album nih, dengan waktu seminggu dua minggu.’ Mereka pun gak tau ini album tentang apa, untuk apa dan gue pun gak punya ide seperti apa lagu dan albumnya. Cuma setelah gue punya ide dan mantap untuk bikin itu, gue belum punya waktu lagi untuk ngerjain. Jadi, itu kayaknya hari Kamis atau Jumat gitu dan gue baru ngerjain lagi di hari Minggu atau Senin dini harinya. Memang se-random itu. Jadi, emang enggak ada plan atau bayangan sama sekali.

Gue memerhatikan lagu-lagu di dalam album ini seperti ‘anthem for brokenhearted, ini memang dibuat sengaja?

Masalah “anthem for brokenhearted” secara gak langsung sebenarnya ini bukan proyek yang meant to be big. Sebenarnya gue gak ada ekspektasi dan gak mendesain ini untuk menjadi sebuah karya yang dimaksudkan untuk umum karena niat awalnya: gue butuh kegiatan di musik yang gak pake mikir, jujur apa adanya, dan langsung rilis. Bahkan, gue enggak berpikir orang-orang tahu itu gue. Lagu dan liriknya pun muncul semudah itu dan gak banyak mikirlah intinya. Semua liriknya itu berdasarkan kejadian nyata dan buah pikiran yang gue punya. Karena belakangan ini, selama 2017, gue lumayan susah tidur dan banyak hal-hal personal yang sebenarnya bukan 100% patah hati, sih. Isi albumnya itu lebih ke isi kepala dan perasaan gue di mana gue jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan. Secara tema gue gak mikirin juga, keluarnya seperti itu. Bukan karena setelah bikin proyek ini, ‘Oh, gue mau seperti ini nih [albumnya]”, enggak. Gak sengaja bikin “anthem for brokenhearted” sih. Cuma emang kayaknya manusia in general pasti bisa relate dengan jatuh cinta dan patah hati.

Ide awal tercetusnya Kurosuke yang nge-pop banget, padahal background lo sebelumnya adalah seorang frontman dari sebuah band rock bernama Anomalyst?

Iya, Anomalyst emang genrenya beda – sebenarnya gue gak tau Anomalyst genrenya apa – pun, buat gue, Anomalyst adalah band pop. Mungkin ini mundur banget kali ya kalau elo tanya kenapa bisa beda banget sama Anomalyst? Kalau lagu Anomalyst itu dicopot semua atributnya, hanya dengan gitar akustik dan vokal gue, lagu Kurosuke juga sama – dengan gitar dan vokal gue – itu lagu yang sama. Hal yang bikin beda banget di Anomalyst itu ada 4 orang, sementara di Kurosuke ini cuma gue sendiri. Gue yang main instrumennya semua sendiri.

Ada limitasi di situ. Jadi, outputnya sangat beda, lebih centre-nya ke gue dan, sangat wajar sih orang yang tahu gue dari Anomalyst merasa ini beda banget. Tapi, kalau orang yang sudah tahu gue sejak lama enggak sekaget itu karena mereka tahu gue bikin musik kayak gimana. Cuma memang secara teknis gue menghindari banyak gitar dan di sini [Kurosuke] gue lebih mengeluarkan sisi 80-an gue. Banyak pakai instrument yang sebelumnya tidak gue gunakan di Anomalyst. Jadi, ya emang ide awalnya gue cuma mau ngeluarin album sebagaimana keluarnya aja, sih.

Banyak yang bilang musik lo mirip Boy Pablo dan indie pop yang lagi hype belakangan ini, gimana pendapat lo?

Nah, masalah mirip indie pop zaman sekarang sejujurnya gue enggak tahu ya. Gue dengerin Boy Pablo dan sejenisnya juga. Tapi, gue awalnya gak sadar kalau itu satu benang merah. Lucunya lagi, banyak orang yang suka musik [indie pop] itu ngomong, ‘Eh, ini [lagu-lagu Kurosuke] mirip banget nih sama Boy Pablo, yang ini kayak Mac DeMarco, ini mirip Homeshake, dan lain sebagainya’ Cuma ada orang-orang dari generasi atas bilang ‘Ini kayak Tatsuro [Yamashita] nih, yang ini kayak Morissey nih.’ Ada juga generasi 2000-an yang bilang ini kayak Gorillaz dan musik-musik era itu.

Terus, apa reaksi lo?

Di satu sisi, gue senang mereka bisa relate dengan era sekarang. Kadang-kadang gue bikin lagu yang enggak di zamannya. Tapi, di sisi lain, gue juga bingung, kok, bisa mirip ya? Karena sejujurnya yang ngetren sekarang terlalu luas jadi gue gak bisa keep track dengan tren sekarang. Kalau ada yang ngerasa ini mirip siapa dan siapa, sah sah aja karena setelah gue merilis [Kurosuke], karya ini punya semua orang. Mau bilang mirip siapa aja, bagus, jelek, gue enggak masalah. Itu bentuk mereka bisa relate dengan karya gue jadi gue gak masalah. Lucu sih, gue gak ngira akan se-relatable dengan apa yang ngetren sekarang. Mungkin itu yang gue percaya, semua yang di seni, musik; itu isinya pengulangan semua. Jadi, secara gak langsung apa yang tren sekarang itu apa yang tren dulu juga.

Melihat antusiasme yang cukup tinggi, kepikiran untuk bikin rilisan fisiknya enggak?

Sejujurnya, gue enggak pingin. Proyek ini gak business-minded meskipun punya potensi. Gue belum kepikiran ke situ. Cuma ada satu alasan lagi mengapa gue gak bikin fisik: menurut gue budaya orang dalam mendengarkan lagu sudah berubah, digital service itu menjadi sumber utama orang dengerin musik. Gue yakin banyak yang gak setuju pasti, gue pun masih mengoleksi CD sampai sekarang. Tapi, untuk Kurosuke sendiri menurut gue kayaknya cukup dengan digital aja. Gue gak ingin jadiin proyek ini terlalu besar dan terlalu jauh. Kalau pun iya [rilisan fisik], pinginnya dalam format yang gak umum dan sifatnya merchandise. Bikin something yang uniqueout of the box, dan suka-suka banget gitu. Sejauh ini enggak ada kepikiran buat bikin fisik. Paling [official audio dan music video] masuk YouTube boleh sih.

Bicara soal pembuatan lagu, semua lirik di sini kan lo buat dalam kurun waktu 2 jam. Lagu tercepat yang lo buat (Jangan jawab “Awake” dan “Awaken” ya) dan yang menjadi favorit lo apa?

Nah, justru “Awake” dan “Awaken” paling lama bikinnya karena ternyata ngerekam soundscape di Antasari dini hari itu gak semudah yang gue kira ya, apalagi gue sambil nyetir. Itu lumayan lama, gue dapat 15 menit soundscape yang akhirnya gue potong jadi “Awake” dan “Awaken”. Lagu paling cepat selesai itu adalah “Intoxicated Calls” sama “Midnight”..yang paling gue suka karena punya cerita dan meaning paling dalem itu ‘Glitches’. Gue gak pernah nyangka gue bisa bikin lagu se-cheesy itu – yang sebenarnya norak berat – tapi, entah kenapa gue enggak merasa itu norak.

“Glitches” jadi salah satu lagu yang paling spesial buat gue karena itu menggambarkan patah hati dan jatuh cinta di saat yang bersamaan. Cuma favorit gue banget itu kayaknya ”Fantasy” deh. Di lagu itu, gue merasa berhasil bikin lagu sedingin itu dan se-dark itu tapi tetap indah: warm dan mengenyuhkan. Saat bikin lirik “Fantasy” itu gue senyum-senyum sendiri karena itu kayak lagu yang gue pingin banget; slow dance pakai lagu itu dan vokal gue di situ kayak John Lennon, jadi gue senang! [tertawa].

Ternyata “Awake dan Awaken itu terlama ya?

Iya, itu yang terlama. Cita-cita gue yang belum sampai itu untuk bikin album soundscape dan ambient. Gue pengin bikin kayak Brian Eno gitu, music for airport. Gue pengin bikin music for elevator. Musik yang elo dengarkan di lift.

Dalam wawancara Sunset Rollercoaster dengan salah satu media di Jakarta, mereka bilang [kalau ada kesempatan] ingin mengundang Kurosuke ke Taiwan. Ada kabar selanjutnya perihal ini?

Gue juga dikasih tau sama Argia ‘Noisewhore’. Senang banget sih. Wih, gila! Taiwan gitu. Sampai wawancara ini dilakukan belum ada kabar lebih lanjutnya, sih. Cuma kayak gitu sering terjadi dan gue gak mau berekspektasi juga. Gue gak mau berharap apa pun. Kalau sampe iya jadi ke Taiwan, gue harus mempersiapkan [makanan] dari sekarang karena gue susah makan. Waktu Sunset Rollercoaster main, gue sempat ngejar ke sana [Rossi Musik] sehabis main di Java Jazz cuma gak kekejar.

Penampilan Kurosuke di Rossi Musik (foto oleh Raditya Satyoputra)

Apakah Kurosuke ini akan jadi proyek satu album saja atau akan lo teruskan?

Gue enggak tahu. Kayaknya gue mau keep it spontaneous aja, keep it suprising. Soalnya gue bener-bener gak tahu. Bisa gue bikin album aja, bisa gue buat album dalam waktu 5 tahun lagi, atau bisa tiba-tiba bulan depan gue bikin album. Jadi emang sesuka-suka gue banget gitu. Di fase ini gue belum kepikiran sama sekali sih, dan bingung menghadapi yang lain juga jadi enggak mau jadi beban. Kalo diterusin kira-kira jeda waktu berapa lama itu lebih gak tahu lagi karena ada rasa takut di mana kalau gue bikin album lagi [Kurosuke] kayaknya enggak akan segitunya. Tapi di satu sisi, gue gak perlu takut juga karena proyek ini memang proyek suka-suka. Mungkin kalau memang sampai buat album lagi, gue akan mengajak beberapa teman musisi gue buat kolaborasi karena poin dari Kurosuke ini selain proyek suka-suka, gue sangat suka bikin lagu buat orang lain. Mungkin akan seperti itu bentuknya, mungkin juga enggak. Sampai akhirnya datang waktunya jadi ditunggu saja. Kalau sampai gak ada lagi ya berarti disyukuri aja. Jadi jawabannya adalah indefinitely, gue gak tahu.

Oke, pertanyaan terakhir! Jadi apakah Kurosuke itu beneran kependekan dari kuro susu, keju?

Jadi gue sebenernya gak punya nama Kurosuke sampai malem sebelum gue upload albumnya ke Spotify. Orang yang menyarankan itu [Kurosuke], Indisya, sahabat baik gue yang juga nyanyi di album ini. Dia ngambil Kurosuke dari Makuro Kurosuke, tokoh anime gitu yang gue juga gak tahu itu apa. Tapi Kurosuke itu akhirnya adalah Kuro (Kukus Roti), Susu, Keju, salah satu makanan paling ajaib dan paling enak yang ada di dunia bagi gue. Gue suka dengan analoginya: manis, gurih, dan lembut. Gue senang dengan Kurosuke karena pas dengan proyek ini.

*Wawancara ini telah disunting supaya lebih ringkas dan enak dibaca.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *