LOADING

Type to search

Widelanes Festival: Sebuah Kekecewaan Berujung Pengalaman Pertunjukan yang Memuaskan

EVENT FEATURED

Widelanes Festival: Sebuah Kekecewaan Berujung Pengalaman Pertunjukan yang Memuaskan

Ferdin Maulana 03/09/2018
Share

Foto oleh Larissa Atmawati

Setelah sebelumnya mengadakan “Beats on a Boat” 28 April lalu, Widelanes Music and Arts Festival kembali diadakan hari Sabtu, 1 September di Livespace lot 8, SCBD, Jakarta. Mild High Club (MHC) yang gagal tampil April lalu itu akhirnya menginjakan kaki kali pertamanya di Jakarta. Tidak hanya MHC, Band electronic pop asal Britania Raya, Kero Kero Bonito juga kembali meramaikan panggung Jakarta setelah dua tahun yang lalu tampil di Kemang. Tidak hanya band Internasional, band-band lokal seperti Naif dan Goodnight Electric juga ikut meramaikan malam minggu di SCBD.

Sabtu kemarin, panitia Widelanes terlihat sangat ketat dan tegas mengenai masalah waktu. Semua artis yang hadir tampil sesuai rundown yang sudah dipublikasi lewat akun instagram resmi @widelanesfestival. Pintu venue dan ticket box dibuka untuk umum pukul 14:30. Basboi, rapper muda kebanggaan Jatinangor dan Bandung membuka panggung yang kala itu baru berisi panitia dan juga media, dilanjut dengan band-band indie lokal yaitu SMSR dan Pijar. Performa ketiga musisi tersebut cukup baik dan didukung pula dengan produksi sound dan backline yang luar biasa, namun sayang sepertinya crowd Jakarta tidak begitu menyukai matahari atau mungkin kemacetan membuat para crowd ini melewatkan aksi luar biasa musisi-musisi lokal yang tampil.

Setelah penampilan band pop alternatif asal Kota Medan, Pijar, venue diheningkan sejenak untuk break magrib. Oh, here they come! Selepas magrib Livespace akhirnya terlihat lebih alive dengan mulai berdatangannya para pengunjung. Kali ini, giliran unit Indie pop asal Jakarta, Reality Club beserta jagoan mereka kittendust aka Fathia Izzati memanaskan kembali stage yang mendingin akibat break.

Setelah Reality Club, giliran Goodnight Electric untuk menggoyang venue yang mulai ramai dengan lagu-lagu synthpop mereka seperti “Am i Robot” & “Teenage Love”. Setelah digoyang-goyang, stage dan venue yang mulai panas, kembali dipanaskan dengan kehadiran David dan kawan-kawan. Naif seperti biasa tampil energetik dan juga crowd yang tidak berhenti sing-along. Lagu-lagu andalan Naif seperti “Aku Rela” dan ASOYGEBOY! “Mobil Balap” tidak lupa dibawakan untuk menghibur para pengunjung sembari menjadi appetizer yang menyegarkan untuk menyambut hidangan utama malam itu, Mild High Club “Band apa itu namanya? Yang kaya nama rokok” gurau David.

Penonton semakin membeludak dan penuh sambutan saat grup Psychedelic pop asal negeri Paman Sam yang dipiloti Alexander Brettin aka Mild High Club dan band-nya naik ke atas panggung. Ada hal yang menarik kala itu, Alex mengeluarkan pocket camera-nya dan memfoto crowd yang hadir. “Beautiful!” Ucapnya “This is my first time in Jakarta” serentak membuat pengunjung bersorak-sorai. MHC membawakan lagu-lagu dari album andalan mereka “Skiptracing” seperti “Homage” dan juga lagu-lagu dari album sebelumnya “Timeline” seperti “Widowpane”.

Pengunjung yang hadir saat itu tampak tidak ingin melewatkan momen ini, “Anjir gue gatau liriknya, nananana~” sempat terdengar beberapa kali di kuping saya dan sakin semangatnya bahkan melodi gitarnya pun tidak lupa untuk dilantunkan. Selain itu, ada kejadian yang menarik di tengah pertunjukan, pengunjung yang kepanasan dan juga MHC dikagetkan dengan semburan asap AC otomatis. Saat waktunya MHC hendak mengundurkan diri dari stage, para penonton sigap untuk melakukan encore “WE WANT MORE!” yang membuat Alex dan kawan-kawan kembali ke atas penggung untuk membawakan lagu “Everybody Loves The Sunshine”. “I feel so happy, we love you guys!” Ucap Alex.

Setelah penampilan MHC, ada suatu fenomena ironis yang tidak luput dari penglihatan setiap orang yang hadir di venue. Hampir sekitar setengah pengunjung yang menonton MHC memutuskan untuk pulang, seakan malam itu adalah konser tunggal MHC, padahal di backstage Kero Kero Bonito sedang bersiap-siap.

Tiba juga saatnya Sarah Midori Perry dan kedua partnernya untuk menghibur pengunjung. Kero Kero Bonito tampil layaknya dessert yang manis nan lezat untuk menutup malam minggu di Widelanes Festival. Penampilan Sarah yang unik dan juga kawaii ditambah dengan properti seperti boneka flamingo dan telefon genggam pink membuat stage act mereka sangat asik untuk ditonton. Lagu-lagu seperti “Flamingo” dan “Trampoline” sukses membuat crowd berjoget sambil tersenyum.

Widelanes Music and Arts Festival sukses membuat pengunjung yang sebelumnya kecewa akibat MHC yang gagal tampil bulan April lalu serta publikasi yang kurang matang, menjadi sangat terhibur dan merasa puas malam itu. Visual motion Graphic yang disajikan oleh CNVRT juga merupakan salah satu elemen penting dalam memaksimalkan pengalaman menonton pertunjukan yang memuaskan. Good work Widelanes Festival Team!

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *