LOADING

Type to search

Women’s March Bandung: Usaha Persatuan Perempuan Bandung Melawan Patriarki

SELECTION

Women’s March Bandung: Usaha Persatuan Perempuan Bandung Melawan Patriarki

INCOTIVE 07/03/2018
Share

Teks: Rizqia Pramadhani
Foto: Women’s March Bandung

Women’s March Bandung merupakan salah satu dari tiga belas gelaran parade yang tergabung dalam Women’s March Indonesia, yang diadakan pada tanggal 4 Maret 2018. Women’s March Bandung serentak dilaksanakan dengan Women’s March di kota-kota lain seperti Surabaya, Bali, dan Lampung – menyusul Women’s March di kota Jakarta, Sumba, Salatiga, dan Kupang yang sudah dilaksanakan sehari sebelumnya pada tanggal 3 Maret 2018. Dengan mengusung grand issue “Ketidaksetaraan Gender”, Women’s March Bandung mengangkat lima isu besar kesetaraan gender yaitu perkawinan anak, kekerasan terhadap perempuan, diskriminasi terhadap perempuan, pekerja perempuan dan human trafficking, dan perluasan pasal zina dalam RKUHP.

Dimulai dari titik kumpul di Eduplex Dago ditengah keriuhan Car Free Day, marchers dikumpulkan sementara dan bernyanyi bersama – menyerukan yel-yel dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional seperti Halo-Halo Bandung dan Indonesia Pusaka yang diganti liriknya untuk menyesuaikan dengan tuntutan Women’s March. Selain itu juga, marchers yang ingin menyuarakan opininya dan menjelaskan isi papan tuntutannya juga berorasi sambil menunggu rapihnya barikade. Salah satu marcher yang menyuarakan opininya adalah seorang ibu dari Solidaritas Dago Elos, menjelaskan papan tuntutannya yang bertuliskan “Tanah Untuk Rakyat”. Makna dibalik papan tuntutannya adalah kritik terhadap Pemerintah Kota Bandung yang dianggap “setan tanah” oleh masyarakat Dago Elos karena telah melakukan penggusuran pemukiman rakyat. Isu penggusuran pemukiman rakyat berhubungan dengan kesejahteraan perempuan miskin kota yang – tentu saja – memiliki hak untuk tinggal di ruang hidup yang layak.

Marchers mulai berjalan dari Car Free Day Dago menuju Dukomsel sambil menyerukan yel-yel dan menyanyikan lagu pada jam 08:45 WIB, dan begitu marchers tiba di depan Dukomsel, mereka membentuk formasi melingkar yang memblokade jalan untuk memperjelas statement mereka supaya terlihat kepada masyarakat umum yang lewat disekitar Jl. Dago dan Jl. Sulanjana. Tidak hanya membentuk blokade jalan, marchers juga berorasi untuk mempertegas tuntutan mereka.

Marching berlanjut menuju Gedung Sate dan massa semakin banyak yang bergabung dalam barikade

Setelah blokade jalan dan orasi, marching berlanjut menuju Gedung Sate dan massa semakin banyak yang bergabung dalam barikade. Selama marching dari Dukomsel dan Gedung Sate, dibacakan juga Press Release Women’s March Bandung yang berisikan lima isu besar dan lima bentuk penindasan pada perempuan yang menjadi concern utama Women’s March Bandung. Tidak terpengaruh oleh teriknya matahari pagi Bandung, marchers tetap semangat menyuarakan aspirasinya.

Marchers tiba di Gedung Sate pada pukul 10:15 WIB, dan berkumpul dalam formasi menghadap Jl. Diponegoro. Aksi Women’s March Bandung dilanjutkan dengan orasi-orasi dari berbagai komunitas studi gender, komunitas disabilitas, solidaritas aksi pembela rakyat, dan orasi-orasi dari pihak individu. Selain orasi juga performance art dari Besti Rahul Asmoro ikut memeriahkan aksi. Women’s March Bandung ditutup dengan penampilan tarian One Billion Rising.

Women’s March Bandung memperbolehkan siapapun ikut marching; tidak memandang umur, gender, kelas sosial, orientasi seksual, atau apapun kategorinya sebagai bukti bahwa Women’s March Bandung adalah kegiatan yang inklusif dan interseksional – bahwa isu-isu gender adalah isu kita semua.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *