LOADING

Type to search

Zaman Tanpa Talenta, Atau Hanya Malas?

COLUMN

Zaman Tanpa Talenta, Atau Hanya Malas?

Share

Ah, 2016, tahun dimana legenda musik Lemmy Kilmister, David Bowie, dan Prince meninggal dunia. Mereka bertiga membawakan sesuatu yang signifikan untuk sejarah permusikan. Lemmy dengan band nya, Motorhead, ikut berpengaruh dalam pembentukan musik metal di tahun 80’an. David bowie dengan ratusan hits-nya dan beragam persona nya menginspirasi banyak musisi, pelukis, dan aktor hingga masa ini. Dan Prince, seorang artis yang selalu bisa mempesona kita dengan stage gimmick-nya dan talenta nya dalam bernyanyi dan bermain gitar.

Tetapi kematian mereka bertiga membawakan sesuatu yang buruk juga, sebuah efek samping, yang merusak jiwa dan otak penelusur internet. Ya… mereka adalah anak-anak edgy. Untuk pembaca yang cukup beruntung tidak pernah bertemu dengan mereka, mereka adalah anak-anak berpikiran dangkal yang selalu menyebarkan kanker berbentuk komen. Komen yang dikeluarkan juga beragam. Ada yang klasik seperti “My generation sucks, today’s music is crap”, lalu ada yang menyombongkan diri, merasa diri mereka unik dengan komen “ I’m 12 years old and I listen to Pink Floyd”, bahkan ada juga yang menjatuhkan nama lain seperti “ God, please give us back John Lennon and take Justin Bieber”.

Walaupun komentar-komentar ini biasa dikeluarkan oleh anak-anak di dunia barat, bukan berarti penyakit ini tidak ada di Indonesia juga. Oh tidak, justru Indonesia mempunyai jenis yang lebih edgy. Yaitu komentar “Musik Indonesia alay, ngga bermutu. Gua lebih suka musik luar negri”. Bahkan jika kalian buka Youtube dan cari lagu Indonesia apa aja, komentar seperti ini akan pasti keluar. Komentar ini, dan juga komentar seseorang curhat tentang kenangan dengan mantan nya mendengarkan lagu ini dimana ratusan ribu pendengar lain nya mungkin tidak akan peduli.

Tapi apakah benar zaman sekarang tidak ada musik yang bagus? Apakah benar sudah tidak ada lagi yang namanya talenta di industri musik? Apakah benar bahwa tidak ada lagi yang namanya… seni?

Simple fact: lagu catchy, penyanyi rupawan, tren, dan seks selalu menjual. Empat hal itu adalah apa yang selalu kita nikmati di layar kita, karena secara umum itulah yang paling banyak diminati. Sebuah lagu tidak perlu mempunyai lirik yang intelektual dan musik yang kompleks agar menjual, karena yang dibutuhkan hanya empat hal emas itu. Dan itu bukan pengetahuan baru, tidak. Pengetahuan itu sudah lama ada di industri musik.

Sebagai contoh, lagu “Watch Me ( Whip/Nae Nae )” oleh Silento merupakan lagu paling menyebalkan di tahun 2015. The song sounds more like a dance tutorial then a song. Ia menggunakan teori catchy dan tren untuk bisa mencapai kesuksesan. Tetapi ini bukan hal baru, karena pada tahun 1995 lagu “Macarena” oleh Los del Rio muncul dengan nadanya yang juga catchy dan joget-nya yang menular. Lagu itu menjadi sebuah tren di dunia pada tahun 90’an, sama seperti lagu Silento pada tahun 2015.

Lalu pada umumnya, anak-anak edgy ini adalah penyembah musik rock klasik seperti Led Zeppelin, Pink Floyd, Jimi Hendrix hingga Nirvana, Oasis, dan Radiohead. Band yang melukis dengan gitar dan drum sebagai kuas mereka. Secara fakta memang band-band ini mempunyai banyak hits yang berkualitas tinggi, dan mereka sudah memberi banyak pengaruh kepada dunia musik. Anggap lah mereka tuhan yang membentuk musik zaman ini sedemekian rupa. Wajar bila anak-anak ini mencintai Pink Floyd dan Radiohead hingga mereka mengatakan musik generasi saat ini tidak sebagus jaman mereka terkenal.

Tapi apa mereka tahu bahwa pada tahun 2014 Pink Floyd mengeluarkan album baru dan terakhir mereka, “The Endless River”, sedangkan 2016 ini Radiohead mengeluarkan album baru berjudul “A Moon Shaped Pool”? Musik yang dibuat oleh “tuhan” mereka dalam lingkup waktu yang cukup baru. Dan tetap mereka komentar bahwa musik zaman ini tidak berkualitas?

Jadi, balik ke inti kita. Tidak, musik zaman ini tidak jelek, dan musik zaman dahulu tidak semuanya bagus. Karna di setiap zaman akan selalu ada musik yang bagus dan selalu ada musik yang jelek. Disaat lagu “How Soon Is Now” oleh The Smiths rilis, ada lagu seperti “We Built This City” oleh Starship. Disaat lagu “Scar Tissue” oleh RHCP keluar, lagu seperti “Thong Song” oleh Sisqo muncul di radio. Disaat LCD Soundsystem rilis lagu “Daft Punk Is Playing At My House”, ada “My Humps” oleh Black Eyed Peas. Dan terakhir, disaat “Lonely Boy” oleh The Black Keys muncul dan menang di Grammys, di TV ada Pitbull.

Walaupun tidak mudah menemukan musik yang bagus, banyak media yang khusus dibuat untuk mengenalkan musik baru kepada penggunanya. Website seperti Reverbnation untuk penggila indie yang ingin mendengarkan musik belum terdengar oleh telinga manapun, Soundcloud untuk para music producer amatir dan semi-pro, Youtube dengan kelengkapannya dan algoritme pencarian videonya, dan Spotify dengan playlist-nya dan kemudahan browsingnya

Atau, stay tune di Incotive karena kita selalu membuat playlist mingguan dengan tema yang berbeda-beda di setiap minggunya.

In conclusion, musik tidak pernah bagus hanya di satu zaman. Musik akan selalu ada yang bagus dan akan selalu ada yang kurang bagus. Kata-kata seperti “My generation’s music suck” sudah kita buktikan salah. Ingatlah bahwa talenta akan selalu ada, tergantung kita mau usaha untuk mencarinya atau tidak.

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *