LOADING

Type to search

Merubah Pandangan atas Absurditas dan Keindahan melalui Pertunjukan Seni Butoh

FEATURED INTERVIEW SELECTION

Merubah Pandangan atas Absurditas dan Keindahan melalui Pertunjukan Seni Butoh

Share

Foto oleh Rafii Mulya

Menjelang sore hari di dalam taman hutan, pria itu terlihat beberapa kali mengernyitkan wajahnya seakan berusaha untuk mengerti apa yang sedang ia saksikan. Ia nampak kebingungan, terdapat ruang di antara bibir atas dan bibir bawahnya. Pria itu juga terlihat beberapa kali melirik ponsel pintarnya untuk memastikan bahwa ia tidak salah tempat.

Di depan pria itu terdapat kerumunan orang, mungkin sekitar dua puluh orang. Mereka menari dengan gerakan yang tidak manusiawi dan berdandan serba putih—dari ujung rambut hingga ujung jempol kakinya. Dengan ragu-ragu ia menghampiri seorang pria tua keturunan Jepang yang ia duga sebagai dalang dari semua kegilaan yang ia saksikan. Setelah bertegur sapa dan memperkenalkan diri, pria itu dengan gelisah bertanya kepada pria tua tadi “Apa itu Butoh?”

Pria tersebut adalah salah satu reporter dari koran ternama di Bandung. Sang Pria Tua keturunan Jepang itu bernama Katsura Kan, seorang Master Butoh. Jika kalian tidak akrab dengan nama “Butoh”, kalian pasti akan merasakan hal yang kurang lebih sama dengan Si Reporter. Bagaimana tidak? Suasana di sana benar-benar mistik—Hutan rimbun dan sekelompok orang berdandan aneh yang bergerak layaknya keserupan.

Saya yang juga menyaksikan hal tersebut bedanya sudah tidak kaget lagi. Sebelum kesana, saya sudah lebih dahulu diperkenalkan dengan Butoh oleh Sasqia, salah satu pengurus acara dari Fat Velvet. Sasqia menceritakan ada pertunjukan seni avant-garde dari Jepang yang sering disebut sebagai “Dance of the Death”. Mendengar julukan tersebut saya pun mulai takut, tapi sekaligus tertarik. Pertunjukan seni tari itu bernama Butoh.

Butoh mulai eksis setelah Perang Dunia ke-dua yang lahir sebagai respon protes atas banyaknya generasi muda yang meninggal karena perang. Akan tetapi, saat itu belum resmi dinamakan Butoh. Nama Butoh baru menjadi resmi pada tahun 1959, saat pendirinya Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno mempersembahkan pertunjukan debut kolaborasi mereka. Pertunjukan tersebut membuat para audiens ngeri sehingga mereka pergi meninggalkan pertunjukan. Secara etimologi, nama ‘Butoh’ diadopsi dari bahasa Tiongkok yang artinya ritual.

Butoh memiliki dua esensi, yaitu Tubuh dan Ruang. Menurut Hijikata, konsep Butoh meliputi kematian dan bagaimana melihat kematian sebagai keindahan. Konsep Butoh juga sangat erat dengan budaya Zen Buddhism yang berkembang di Jepang. Butoh tidak memiliki filosofi tertentu yang mendasarinya. Hijikata dalam salah satu wawancara mengatakan bahwa filosofi akan muncul setelah Butoh. Selain itu, konsep yang paling dasar dari Butoh adalah melihat keindahan dalam hal yang teraneh sekalipun.

Pada hari Sabtu, hari pertama di bulan Februari, tiga komunitas seni; Fat Velvet, Jendela Ide, dan Dalemwangi Art Space berkolaborasi mengadakan pertunjukan Butoh langsung oleh Sang Master, Katsura Kan. Pertunjukan tersebut berlangsung di Dalemwangi Art Space. Pertunjukan ini dimulai pukul 8 malam, lengkap dengan aroma dupa dan lilin-lilin yang mengelilingi penonton.

Kali pertama saya melihat Butoh melalui video salah satu pertunjukan Butoh yang Sasqia perlihatkan pada saya. Saat menonton, yang saya rasakan adalah bingung sekaligus ngeri. Rasanya seperti menonton video-video yang ada di deep web. Saya awalnya menyembunyikan semua kebingungan saya dengan pretensius mengatakan “Wah menarik sih!”, meski saat Sasqia fokus menonton video tersebut, saya mengernyitkan dahi beberapa kali mencoba mengerti.

Pertunjukan di Dalemwangi tidak hanya menampilkan Katsura Kan. Seluruh peserta yang mengikuti workshop Butoh di Taman Hutan Raya sebelumnya juga ikut menampilkan Butoh mereka. Pada awal pertunjukan, lagi-lagi saya kebingungan. Akan tetapi, kebingungan saya kali ini berbeda. Saya tidak lagi merasa takut, meski bau dupa secara perlahan menyelinap ke dalam rongga hidung saya dan musik-musik noise pengiring yang membuat bulu kuduk merinding.

Kala itu, saya justru merasa takjub, emosional dan spirituil (entahlah, saya pun tidak bisa mendefinisikan spirituil.) Pertunjukan berlangsung dengan sangat memikat—satu penampil butoh nampak kayang menuruni tangga. Kemudian, satu penampil lagi mengenakan topeng handcrafted dengan konsep post-apocalyptic dystopia. Lalu, tiga penampil lainnya mencekik diri mereka sendiri dengan kantong plastik transparan hingga berembun karena nafas mereka sendiri.

Setelah para peserta menampilkan Butohnya, turunlah Sang Master dari tangga. Katsura Kan menapakkan kakinya dengan kaku, perlahan dan presisi. Atmosfir yang ia bawa terasa sangat intens dan memenuhi ruang. Beliau memberikan kesan karismatik yang luar biasa. Dinamika gerakan yang ia tampilkan sangat menakjubkan, lentur dan atletis. Tubuhnya kadang seperti bulu yang terbawa angin, kadang pula seperti barbel yang ditarik gravitasi.

Saat acara berlangsung, saya beberapa kali melihat sekeliling, memperhatikan raut wajah penonton. Sebagian dari mereka terlihat bingung ketakutan dan sebagian lainnya mencoba mengerti apa yang sedang terjadi atau cerita apa yang coba disampaikan oleh penampil. Sayang sekali menurut beberapa penampil dan Katsura Kan sendiri, tidak ada cerita atau pesan yang coba disampaikan. Gerakan Butoh berpaku pada eksplorasi tubuh dan ruang, bukan pada narasi maupun pesan.

Acara mencapai puncaknya saat empat penampil turun secara bersamaan, lalu menari abstrak dengan sinkron. Katsura Kan nampak duduk pada sebuah bangku kayu di sudut panggung, seakan sedang menilai penampilan muridnya. Penampilan berakhir saat ambience lagu yang mencekam berubah menjadi lagu Jazz yang ceria, dan seluruh lampu menyala ke arah panggung di mana semua penampil berbaris horizontal, lalu mengucapkan terima kasih pada penonton.

Interview Katsura Kan

Sehari sebelum pertunjukkan saya dan rekan saya mengunjungi Dalemwangi Art Space dengan harapan bisa mengobrol dengan Katsura Kan. Sasqia dan teman-teman menyambut kami dengan hangat dan mempertemukan kami dengan beliau. Saat kami datang, sedang diadakan uchiage atau perayaan selesainya workshop yang diadakan di Taman Hutan Raya.

Katsura Kan saat itu sedang duduk santai menikmati beer dingin dan menyemil kacang garing. Kali pertama bertatap wajah, Kan memiliki raut wajah yang sangat serius, tipikal stereo-type pria dewasa Jepang yang terkesan dingin. Akan tetapi, saat kami mengobrol, beliau ternyata sangat ramah dan murah tawa. Kami mengobrol tentang banyak hal mulai dari Butoh, seni, sejarah, sampai Indonesia.

Incotive: Anda pernah melakukan riset selama puluhan tahun di Indonesia, adakah budaya atau seni dari Indonesia yang mempengaruhi karya anda?

Katsura Kan: Pada tahun 1980 saya datang ke Indonesia, saya melihat karya seni yang sangat berbeda di sini. Saya terkesima melihat kemampuan multi-tasking orang Indonesia—ada boneka (wayang) yang menari diiringi musik. Di Jepang, musik hanyalah musik dan tari hanyalah tari. Saya terkejut melihat Dalang yang berimprovisasi berinteraksi dengan penonton. Di negara Asia lain, mereka tidak peduli dengan seni tradisional dan menyimpannya di Musium. Saat saya datang ke sini (Indonesia) semua bergerak cepat dan bersamaan. Saya sangat mengapresiasi sistem dan perkembangan di sini. Dalam konteks sejarah, Indonesia sangat beruntung. Saat kolonialisme, Belanda tidak memaksakan kristenisasi. Di negara koloni lain, para penjajah memaksa kristenisasi dan menghancurkan budaya lokal. Belanda malah membiarkan budaya lokal seperti berjalannya sekolah wayang.

I: Kami melihat kesamaan gerakan Butoh dengan seni bela diri Silat, apakah anda terinspirasi?

K: Seni bela diri di Asia sangat mirip. Ada semacam sinkronisasi budaya. Gerakan Butoh lebih ‘membumi’ dibanding seni tari lain yang banyak fokus pada lompatan. Saat tahun 1980 saya ke Solo dan Jogjakarta, saya melihat banyak penari Indonesia yang sudah ‘membumi’ (Kuda-kuda) seperti Butoh, bahkan lebih kuat.

I: Butoh terfokus pada tubuh dan ruang, apa arti tubuh dan ruang bagi anda?

K: Seni pertunjukan Jepang bertumpu pada Noh Theater sekitar abad ke-14 yang terinspirasi dari Zen Buddhism dan mengedepankan simplisitas. Di jepang, konsep tarian dibagi menjadi Mao (*saya tidak tahu bagaimana menulisnya) dan Odoru. Mao bergerak karena lingkungan bukan intensi (improvisasi). Sedangkan, Odoru bergerak melompat dan banyak fokus pada energi (teknik). Terkait tubuh dan ruang kami memiliki sejarah sejak Noh Theater yang merupakan pertunjukan seni yang membawa atmosfir (ruang), saya pun sama.

I: Kami mendengar bahwa pertunjukan Butoh tidak mau membuat penonton terhibur, lalu dampak apa yang coba diberikan oleh Butoh?

K: Banyak seniman yang ingin memberi dampak pada karya mereka, dan itu berarti bukan Butoh. Dibanding ‘apa’ mungkin pertanyaannya ‘bagaimana’. Butoh membawa tabu ke atas panggung. Hijikata pernah mempersembahkan tarian Butoh berjudul “Kinjinki” yang bercerita tentang homoseksualitas. Tari itu memperlihatkan dua orang lelaki telanjang dan melakukan sesuatu yang aneh. Meskipun menjadi skandal, hal tersebut berhasil memberi dampak yang kuat. Setelah Perang dunia ke-dua banyak gerakan avant-garde di Jepang dan Butoh mencoba membawa gerakan revolusioner dalam seni tari.

I: Anda pergi mengelilingi dunia mengajar Butoh, hal apa yang anda pelajari saat mengelilingi dunia?

K: Saya tidak mengajar Butoh. Kami tidak tahu apa itu Butoh. Saya bekerja dengan banyak Master Butoh dan mereka berkata “kami tidak bisa mengajarkan Butoh, yang kami lakukan hanya bergerak aneh dan orang menyebutnya Butoh.” Butoh itu tentang bagaimana menemukan tarianmu sendiri. Saya hanya berbagi pengalaman dan ide. Orang-orang bisa menginterpretasikan itu dan dengan tubuh mereka menemukan tari mereka sendiri. Butoh tidak memiliki teknik tertentu.

I: Adakah koneksi antara gerakan Dadaisme dengan butoh?

K: Dadaisme jauh lebih tua. Dada dan Butoh sama-sama lahir sebagai respon terhadap perang dunia dimana jutaan generasi muda mati dan itu menjadi shock yang luar biasa. Mereka sangat marah dan ingin menghancurkan, lalu membuat sesuatu (dekonstruksi). Surealisme kemudian hadir dan sangat berpengaruh pada Butoh. Butoh terinspirasi dari “Tibetan Book of The Death” yang menceritakan saat sesorang mati, jiwa mereka berkelana selama beberapa minggu. Lalu, jiwa itu akan pergi ke nirwana atau reinkarnasi. Buku itu banyak terpengaruh oleh pemikiran Sigmun Freud dan Carl Jung tentang spiritualitas di dalam manusia yang memberikan mereka imajinasi baru. Surealisme sampai sekarang masih berlanjut dan belum usai.

I: Apa yang anda pikirkan dan rasakan selama di Bandung

K: Saya lebih sering ke Solo dan Jogja, saat saya kesini karena infrastruktur yang masih kental dengan kolonialisme, saya bertanya-tanya apakah ini di Indonesia? Di Bandung, orang-orangnya lebih terbuka dan fleksibel. Dibanding kota lain (Solo dan Jogja), Bandung lebih mudah menerima Butoh. Saya merasa beruntung bisa kemari. Di sini sangat mudah berkomunikasi dan bertukar ide.

Setelah wawancara dengan Katsura Kan, mengobrol dengan teman-teman seniman yang mempelajari Butoh, dan menyaksikan penampilan Butoh secara langsung, banyak hal yang bisa kita pelajari. Salah satunya adalah tidak menghabiskan waktu untuk selalu mencari makna di balik sesuatu. Butoh mengajak kita untuk mengasah cara kita me-’rasa’ agar menjadi manusia seutuhnya. Butoh hadir untuk menawarkan perspektif lain dalam melihat keindahan, bahkan di dalam hal yang paling aneh dan mengerikan sekalipun.

Tags:
Ferdin Maulana Ichsan

Penulis dan Editor Incotive sejak 2016. Manager dari band Dream Coterie. Pernah berkontribusi dalam Spasial, Norrm, Whiteboard Journal, dan PVL Records.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *