LOADING

Type to search

Aku & Semesta: Rima EJA Soal Hidup yang Lantang Bersuara

FEATURED SELECTION

Aku & Semesta: Rima EJA Soal Hidup yang Lantang Bersuara

INCOTIVE 28/07/2020
Share

Teks oleh Husna Rahman Fauzi

Kalau ditanya soal Surabaya, saya hanya bisa menjelaskan beberapa hal. Pertama ada Bonek dan Persebaya Surabaya, suporter tim sepakbola yang telah dianggap saudara oleh saya sendiri. Kedua, album Dosa, Kota, Dan Kenangan milik Silampukau yang aduhai syahdu, brengsek dan menggambarkan Surabaya dengan apik. Terakhir, video bu Risma yang mendadak jadi polisi lalu lintas.

Menyoal hip-hop, ibu kota Jawa Timur ini punya skena yang cukup menarik untuk dibahas. Hip-hop head mana yang nggak tahu Xcalibour dan Pasukan Records? Saya kira sedikit orang yang tidak mengenal nama-nama yang saya sebutkan tadi.

Masih di masa lalu, tak seperti sepakbola, di skena hip-hop, konon katanya tensi antara Bandung dan Surabaya cukup panas. Perseteruan legendaris tersebut terekam dalam lagu Semiotika Rajatega milik Homicide.

Tapi di sini saya tak akan membahas soal masa lalu. Saya akan membahas talenta-talenta baru yang muncul dari Surabaya terkhusus Pasukan Records. Sama seperti Grimlock dari Bandung dan Hellhouse dari Yogyakarta, Pasukan Records adalah label independen yang jadi wadah bagi mereka rapper Surabaya yang ingin bersuara lewat hip-hop.

Di awal tahun 2020, Pasukan Records merilis album bertajuk Aku & Semesta milik EJA. Buat kamu yang nggak mengenal EJA, tenang, saya juga demikian. Saat saya mendengar album berisi 8 track ini saya bisa menyimpulkan bahwa suara EJA lebih keras dan lantang dari dua rapper adu wordplay cringe di YouTube beberapa waktu lalu

Album milik EJA menjadi album ke-empat yang saya dengar setelah di tahun 2020, 9051 milik Randslam, Morbid Funk-nya Bars of Death dan terakhir Soul Plane Mario Zwingkle. Sama seperti album-album itu, Aku & Semesta sangat bagus dengan caranya sendiri. Saya tidak menyesal mendengar semua track dalam album ini berulang-ulang.

Secara keseluruhan, Aku & Semesta bercerita soal kontemplasi EJA dengan kehidupan yang ia jalani. Dari mulai bicara soal kota Surabaya, kisah perjuangannya dalam musik, cinta dan yang paling magis adalah pemikiran dan pandangan EJA tentang semesta.

Semua lagu dibalut dengan sentuhan G-Funk lembut, menyenangkan dan easy listening. Flow, candence, rima EJA juga amat konsisten dan cukup beragam dalam album ini. Jujur saja, hal yang paling keren dari album ini adalah kejujuran lirik yang ditulis. EJA seperti nggak ragu menghamburkan kata yang telah ia rancang.

Lagu favorit saya dalam album ini adalah Waktu dan Aku dan Semesta. Yang paling utama dan membuat saya suka dengan lagu tersebut adalah cara EJA merangkum dan menggambarkan kondisi anak muda hari ini dalam sebuah lagu rap sebegitu padatnya. Dari dua lagu itu saja saya bisa merasakan EJA nggak sedikitpun memaksakan liriknya. “Waktu kan merubah jalanku, yes im sure, waktu kan berputar”.

Dengan adanya album ini EJA membuktikan bahwa rap tak perlu flow kekinian atau lirik sok savage untuk membuat pendengar tercengang. Cukup dengan tumpahan rasa dan kejujuran pada lirik maka biarkan orang mengatakan apa yang sebenarnya mereka rasakan saat mendengar.

Saya hanya kecewa pada cover album ini saja. Terlalu narsistik dan nggak menggambarkan apa yang sebenarnya EJA katakan. Jika cover album diganti dan EJA berencana untuk merilis album ini secara fisik, 100% saya akan membelinya.

Dan kalau saya ditanya soal Surabaya, kini saya punya jawaban tambahan. Surabaya adalah kota tempat dimana seorang rapper mencoba bersuara dengan lantang dan percaya bahwa pada dasarnya manusia memang seharusnya saling menyemangati dan peduli. Aku & Semesta layak untuk disimak oleh seluruh hip-hop tanah air.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *