LOADING

Type to search

Banting Setir Massal: Robot Ga Nyeni

COLUMN FEATURED

Banting Setir Massal: Robot Ga Nyeni

INCOTIVE 02/06/2018
Share

Teks: Arbha Witarsa
Ilustrasi: Adam Noor Iman

Mari kita berkhayal!!! Seratus tahun dari sekarang, lebih tepatnya tahun 2100, apa yang akan terjadi? KIAMAT? (jangan dong artikelnya jadi selesai sampai sini saja hahaha). Mungkin banyak hal yang terbayangkan oleh kita. Meledaknya populasi manusia, semakin pintarnya artificial intelligence, atau terbentuknya galactic civilization? Wow, banyak kemungkinan hebat yang terjadi. Namun, artikel ini hanya akan memfokuskan diri pada kemungkinan semakin majunya perkembangan teknologi, khususnya artificial intelligence (robot). Apa yang akan terjadi apabila dalam 100 tahun mendatang teknologi semakin maju dan menggantikan peran – peran manusia dalam pekerjaan sehari – hari? Bagaimana keberlangsungan hidup manusia dapat berubah?

There would be fewer and fewer jobs that robots cannot do better” -Elon Musk

Kenapa memprediksi masa depan? Karena seru gitu (hahaha). Pasti kalian juga pernah membayangkan bagaimana masa depan kita nanti. Selain untuk hiburan semata, memprediksi masa depan menjadi penting untuk memotivasi kita untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sebagai contoh dalam penelitian Walter Mischel yang dikenal dengan sebutan “Marshmallow Test” yang meneliti bagaimana seseorang yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang dapat meningkatkan pengendalian diri seseorang dalam membuat keputusan. Maka dari itu memprediksi masa depan menjadi penting untuk dilakukan. Penting ngga penting sih tapi ya sekali-kali harus lah. Bukan berarti jadi rajin tanya-tanya ke mbah dukun, cenayang, atau Alm. Mama Lauren ya.

Dalam skenario masa depan dimana teknologi menjadi sangat maju, teknologi mulai menggantikan pekerjaan manusia. Kemungkinan besar pada 100 tahun mendatang AI mampu melakukan hampir seluruh pekerjaan manusia pada saat ini, bahkan lebih baik dari manusia sendiri. Hal ini diperkirakan dapat menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran, tidak hanya di satu Negara, melainkan secara global. Elon Musk, CEO Tesla, produsen kendaraan listrik dan penyimpanan energi terkemuka di dunia, dilaporkan telah mengatakan bahwa AI adalah ancaman bagi peradaban manusia. Selain itu beliau juga berkata “there would be fewer and fewer jobs that robots cannot do better”. Bayangkan seorang tokoh besar dalam industri teknologi yang menganggap dunia ini seperti film “The Matrix” beranggapan hal tersebut benar-benar akan terjadi di masa depan nanti.

Ternyata oh ternyata, perdebatan mengenai hal ini tidak hanya terjadi pada zaman sekarang. Hampir satu abad yang lalu, tepatnya akhir 1920-an hingga awal 1930-an perdebatan ini sudah terjadi di “Negara Paman Sam”. Di saat kita masih memperjuangkan kemerdekaan kita dari kolonialisasi “KOMPENI”, para buruh di Amerika Serikat telah dilanda kegelisahan. Mereka dihantui oleh kenyataan bahwa mesin-mesin otomatis mulai menggantikan pekerjaan mereka, khususnya pada bidang pertanian dan manufaktur skala besar. Hal ini ditunjukan oleh terbitnya sebuah kolom artikel yang berjudul “Labor V.S Machine: an Employment Puzzle” pada surat kabar The New York Times pada tanggal 1 Juni 1930.

Tidak hanya itu, Pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an kegelisahan ini semakin meningkat bersamaan dengan munculnya teknologi baru yang disebut komputer. Sebagai contoh, seperti dalam film “Hidden Figures” yang menunjukan bahwa ada sebuah divisi dalam institusi NASA yang bekerja sebagai human computer, yang berisi para ahli matematika, dan menghadapi resiko tergantikan pekerjaannya oleh machine computer yang saat itu diproduksi oleh perusahaan The International Business Machine (IBM). Fenomena ketakutan akan kehilangan lapangan pekerjaan ini juga ditunjukan oleh terbitnya sebuah kolom artikel yang berjudul “President Ranks Automation First as Job Challenge” pada surat kabar The New York Times tanggal 15 Februari 1962.

Beberapa bukti di atas menunjukan bahwa dalam sejarahnya perkembangan teknologi akan selalu berdampak pada kuantitas lapangan pekerjaan. Tidak menutup kemungkinan bahwa di masa depan nanti di saat teknologi semakin maju dan sangat mutakhir akan terjadi peningkatan jumlah pengangguran. Peningkatan jumlah pengangguran ini dapat menyebabkan depresi berskala global. Depresi yang saya maksud adalah depresi secara emosional. Bayangkan mayoritas populasi bumi mengalami depresi? Kemarahan di sana sini, salah dikit ngamuk, nengok dikit ngamuk, gabut? Ngamuk (hahaha), dan psikolog laris manis nih kayanya.

Nyatanya perkembangan teknologi ini tidak akan berpengaruh terhadap jumlah pekerjaan manusia ini sendiri. Seiring berjalannya waktu di saat teknologi baru muncul, akan bermunculan pula pekerjaan-pekerjaan baru, mau itu dalam industri yang diciptakan oleh teknologi baru, ataupun dari jumlah permintaan pasar baru yang muncul dari dampak meningkatnya produktivitas yang dihasilkan teknologi baru itu sendiri. Sebagai contoh, disaat komputer muncul, muncul pula pekerjaan baru di bidang manufaktur komputer itu sendiri. Selain itu muncul juga pedagang-pedagang komputer, suku cadang komputer, ahli reparasi komputer, dan lain lain. Namun apa yang terjadi apabila seluruh pekerjaan kita dapat digantikan oleh teknologi seperti robot?

Kemungkinan robot menggantikan seluruh pekerjaan manusia sangat mungkin terjadi. Namun robot sendiri adalah ciptaan manusia yang dirancang untuk terus belajar untuk menekuni satu pekerjaan hingga dia menjadi sangat ahli, bahkan melebihi manusia.

“Tapi mas, gimana kalo robot bisa menciptakan robot lain?”

Tenang, kalo sampe robot bisa bikin robot (inception, robot bikin robot hahaha), robot itu sendiri pada dasarnya adalah mesin yang dirancang hanya untuk menyelesaikan tugasnya saja. Jadi apabila ada robot bisa bikin robot, manusia akan tetap memegang kendali atas aktivitas robot itu sendiri. Pembeda robot dan manusia adalah kreativitas, tanpa kreativitas robot tidak akan bisa berimajinasi. Mereka tidak akan bisa membayangkan sesuatu di luar tugas mereka. Mereka benar-benar sesuatu yang diciptakan untuk satu tujuan, dan tujuannya pun merupakan tujuan yang diciptakan penciptanya yaitu manusia.

“Terus sangkut paut sama seni apa mas? Kan judul artikelnya udah bawa bawa seni tuh”

Sangkut pautnya sama seni? Klik bait doang itu mah judulnya. Engga deng, jadi gini…

Konsep pekerjaan yang biasa kita tau adalah untuk mencari uang (jadi antek-antek kapitalis, hahaha), tapi sebenarnya ada beberapa hal yang kita lupakan tentang konsep pekerjaan ini sendiri. Kita juga bekerja untuk mencari kepuasan, mengasah kreativitas, dan mencari makna dan tujuan dari hidup kita sendiri. Apabila diselaraskan dengan skenario masa depan yang saya ceritakan di atas, konsep manusia dan robot merupakan evolusi dari konsep budak dan majikannya. Aristoteles pernah mengatakan “The life of the mind is only open to rich people. Anyone who has actually earn money to live is a slave”, dan para filsuf pertama beranggapan bahwa hidup untuk mengejar uang dan mahakarya yang agung sangatlah tidak mungkin. Namun konsep manusia dan robot ini dapat merubah paradigma seperti itu 180 derajat, bahwa dengan bantuan robot manusia dapat menciptakan mahakarya yang agung dan juga menghasilkan uang. Hal ini pun sebenarnya telah terjadi pada zaman renaisance, di saat Michelangelo diberi pekerjaan oleh Paus Julius kedua di tahun 1508 untuk melukis plafon Sistine Chapel. Dia diberi kebebasan untuk merancang sesuai keinginan dia dan diberi komisi yang besar pula. Dia menghasilkan mahakarya yang agung dan menghasilkan uang yang banyak. Akan tetapi hal-hal seperti ini mulai hilang setelah revolusi industri hingga sekarang, dan mungkin manusia akan memiliki kebebasan dalam berkarya kembali di masa depan nanti, dengan bantuan teknologi.

The life of the mind is only open to rich people. Anyone who has actually earn money to live is a slave” -Aristotle

Perubahan pekerjaan manusia seperti di atas akan membuat suatu fenomena dalam ruang lingkup seni di masa depan. Di saat manusia sudah meninggalkan pekerjaan fisik dan menekuni pekerjaan intelektual, seni dan kebudayaan akan menjadi komoditas utama manusia. Setiap negara akan dibedakan melalui kesenian dan kebudayaannya, bukan dari seberapa kaya atau miskin negara itu. Setiap negara akan kembali berlomba lomba dalam kompetisi kebudayaan, dan seniman, dari bidang apapun akan lebih dihargai oleh masyarakat. Mengapa bisa terjadi? Manusia sudah memiliki waktu untuk lebih sadar akan hal-hal yang hari ini diabaikan, karena di masa depan pekerjaan mereka sudah tergantikan oleh teknologi yang mengurangi waktu mereka untuk bekerja. Hal di atas ini dapat meningkatkan angka permintaan dalam industri seni, dan dengan tingginya permintaan maka akan meningkat pula jumlah manusia yang bekerja sebagai seniman, mau itu musisi, sutradara, pelukis, penari, game designer, dan sebagainya. Manusia akan bekerja untuk mengejar kepuasan, mencari makna, dan mencapai tujuan mereka sendiri, bukan hanya uang.

Hal-hal seperti di atas semuanya bisa menjadi kenyataan apabila manusia mau bekerja keras untuk masa depan, untuk meningkatkan pendidikan, untuk kedamaian, untuk persatuan manusia itu sendiri, bukan cuman mau duitnya aja, bukan harus kerja bakti ga dibayar juga ko (hahaha). Khususnya orang Indonesia ya, berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, budaya literasi kedua terendah di dunia loh. PR banget tuh buat masa depan, masa mau di masa depan Indonesia doang yang ga maju? Gamau kan? Makanya IQRA!!

Sampai sini aja ya. Intinya tulisan ini cuman prediksi. Bukan prediksi ahli, tapi prediksi saya, yang mungkin di masa depan jadi ahli. Semoga dapat bermanfaat bagi semua yang baca ya. Jangan lupa main tik tok ya, biar kaya orang-orang karoke sebelah. Hidup masa depan!!!

Oh iya lupa,

Buat adek adek yang mau jadi seniman nggak dibolehin sama mamanya jangan lupa bilang,

“MAH, ADEK MAH MANUSIA MASA DEPAN!!!”

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *