LOADING

Type to search

Birama Intimate Menjadi Konser yang Berkesan Menutup Tahun 2019

EVENT FEATURED

Birama Intimate Menjadi Konser yang Berkesan Menutup Tahun 2019

Share

Foto oleh Valentinus Marchelle

Menjelang berakhirnya tahun 2019, banyak sekali pengalaman manis maupun pahit yang telah kita lalui selama satu tahun penuh. Rasanya perlu memupuk memori-memori indah untuk menutup tahun 2019 agar terus nyaman dikenang. Salah satunya dengan cara menyambangi pagelaran gigs di sekitar. Pada tahun ini banyak sekali konser dan gigs berkonsep “intim” yang umumnya diadakan oleh skena arus pinggir dalam skala kecil. Namun, pada hari Sabtu lalu (21/12) Birama Live ikut mengusung acara berkonsep intimate, tetapi dengan ribuan pengunjung. Acara tersebut bertajuk Birama Intimate Vol. 1 yang diadakan di Dago Tea House, Bandung. Ya, konser intim dengan ribuan orang, bisa anda bayangkan seberapa intim?

Pada hari Sabtu (21/12) sekitar pukul tiga, saya bersiap untuk segera menuju Dago Tea House. Cuaca Bandung yang sedang tidak bersahabat saat itu pun menunjukan sikapnya. Langit perlahan tertutup awan-awan abu gelap dan suara gemuruh mulai terdengar. Ini pasti pertanda buruk, pikir saya. Benar saja, sesampainya saya di lokasi, hujan langsung dengan deras menerjam. Saya yang hanya punya waktu lima detik sebelum basah kuyup, harus memutuskan untuk berteduh di venue atau melipir ke kedai kopi yang berjarak sekitar sepuluh meter.

Saya akhirnya memutuskan untuk meneduh di kedai kopi karena hujan terlihat akan awet. Bisa nunggu santai sembari ngopi, pikir saya. Saat saya menuju kasir untuk memesan kopi, alangkah terkejutnya saya ternyata hujan sudah berhenti. Saya pun mengurungkan niat saya untuk memesan dan langsung menuju lokasi Birama Intimate Vol. 1 itu diadakan. Saat sampai di venue, saya bertemu dengan Gunawan, Project Director dari Birama Intimate. Saat saya menanyakan soal pawang hujan, beliau hanya tertawa. Ya, pada tahun ini Birama Intimate adalah acara dengan pawang hujan terbaik se-Bandung.

Acara berlangsung tepat waktu, hal yang sangat langka untuk acara di Bandung. Pada pukul setengah 4, The Panturas sudah meramaikan panggung meskipun lebih banyak pengunjung yang duduk tersebar. Menuju waktu magrib, Tiara Effendy dan Loner Lunar secara bergantian mengisi panggung. Loner Lunar bermain dengan cukup rapih dan percaya diri dibanding tahun lalu, jam terbang akhirnya berbicara.

Setelah Magrib, jumlah pengunjung semakin melambung dan memenuhi area berdiri di depan panggung. Mereka rupanya sudah tidak sabar menonton The Schuberts, atau sekedar menjaga tempat ternyaman untuk menonton Hindia. The Schuberts akhirnya live setelah merilis album terbaru mereka. Layaknya band yang sudah lama tidak manggung, The Schuberts sangat terlihat gugup. Akan tetapi, penampilan mereka tetap menghibur.

Setelah The Schuberts, atmosfir sekitar panggung mulai gaduh. Ribuan penonton yang semakin padat memenuhi lokasi jadi saling berdesakan. Pengunjung layaknya para kafir yang berebut lokasi terdepan untuk menyambut kedatangan Dajjal. Siapa lagi yang mereka tunggu kalo bukan Hindia yang baru kedua kalinya tampil di Bandung. Panitia terlihat kewalahan mengarahkan penonton untuk mundur dan tidak mepet dengan stage. Hindia dan Lomba Sihir terlihat enggan memulai pertunjukan sebelum para fanatik tersebut memberi jarak dengan panggung.

Konser yang mengusung tema intimate dengan ribuan pengunjung ini akhirnya menggigit para panitia. Mereka kurang mampu mengatur ribuan pengunjung yang haus Hindia. Absennya barikade di sekitar panggunglah yang menjadi sumber masalah akan tetapi tema intimate sudah tentu mengharamkan barikade. Acara akhirnya terpaksa ngaret 15 menit karena menunggu penonton memberi jarak yang cukup masuk akal untuk keamanan para penampil.

Hindia dan Lomba Sihir membawakan penuh satu album “Menari Dengan Bayangan” dan penonton sudah tidak mengejutkan lagi sangat antusias dalam bernyanyi dan bergoyang. Hindia tampil dengan semangat timbal balik antar penampil dengan penonton yang luar biasa. Sayangnya, tidak sedikit cewe-cewe gemes yang memilih pulang setelah Hindia sehingga melewatkan band tier legendaris, Efek Rumah Kaca yang menutup acara Birama Intimate Vol. 1 dengan apik.

Birama Intimate penuh dengan catatan. Pada sisi positif, Birama berhasil menggaet pawang hujan serta menejemen waktu terbaik di Bandung. Selain itu, hal yang membuat saya terkejut adalah ramainya jumlah pengunjung yang datang. Menjadi mengejutkan karena publikasi online yang dilakukan Birama tidak megah dan engagement-nya pun standar. Tiga hari sebelum acara, saya dibocorkan oleh sesama teman media bahwa tiket baru terjual 500 dari target 1.500. Akan tetapi kenyataan di lapangan jauh melampaui target tersebut.

Pada sisi negatif, sebaik apapun persiapan dan pertunjukan para artis malam itu, penampilan mereka tidak dapat teramplifikasi dengan baik oleh karena masalah teknis sound yang tidak main-main. Output sound sering sekali bermasalah pada ground atau perlistrikan sehingga sering sekali mengeluarkan noise dan suara pecah yang sangat mengganggu. Saya ingat menonton Hindia dan Loner Lunar di tempat lain dan sound mereka terdengar sepuluh kali lebih baik dibanding saat Birama Intimate.

Selain masalah sound, Tim Birama Live seharusnya mengerti apa itu konsep intimate dan menyesuaikan konsep tersebut dengan implementasinya. Jika memang fokus pada konsep tersebut, skala pengunjung seharusnya dikurangi dan mencari venue yang lebih sesuai. Kesalahan ini terbukti saat kejadian Hindia, penonton fanatik, dan absennya barikade.

Terlepas dari seluruh kritik dan saran, Birama Intimate Vol.1 berhasil menjadi memori yang berkesan untuk menutup tahun 2019 dan saya rasa semua yang hadir saat itu pun setuju. Terima kasih dan ditunggu acara selanjutnya!

Tags:
Ferdin Maulana Ichsan

Penulis dan Editor Incotive sejak 2016. Manager dari band Dream Coterie. Pernah berkontribusi dalam Spasial, Norrm, Whiteboard Journal, dan PVL Records.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *