LOADING

Type to search

Diskusi Sore dengan Dhira Narayana, Budaya Ganja di Indonesia

FEATURED INTERVIEW

Diskusi Sore dengan Dhira Narayana, Budaya Ganja di Indonesia

INCOTIVE 29/06/2018
Share

Teks dan foto oleh Vio Basro

Dari Bob Marley, Band rock psychedelic, sampai ibu guru kita memberi suatu pelabelan kepada ganja dengan istilah “tanaman setan”, kita semua familiar dengan tanaman ganja dan stigma dalam masyarakat terhadap tanaman tersebut. Ganja di Indonesia adalah topik yang kontroversial untuk dibahas, ada yang bilang tanaman ganja sangat bermanfaat bagi industri dan medis, ada juga yang berkata bahwa tanaman tersebut membuat kita kecanduan dan meningkatkan kriminalitas. Kita bisa berargumen sepanjang hari mengenai ganja, tapi kita tidak bisa membantah bahwa tanaman ganja memiliki dampak terhadap budaya dalam masyarakat kita. Saya ingin tahu seberapa signifikan budaya ganja di Indonesia. Selain itu, saya juga ingin tahu argumen mengapa ganja harus dilegalkan dan sejauh apa perkembangan legalisasi ganja di Indonesia. Oleh karena itu, saya datang ke Rumah Hijau LGN untuk berdiskusi dengan Ketua LGN (Lingkar Ganja Nusantara) Dhira Narayana.

“Setan punya tugas menghasut manusia, terus ada manusia yang terhasut. Yang salah yang menghasut atau yang dihasut? Begitu juga dengan ganja, yang salah yang melakukan pembodohan atau yang dibodohi?”

LGN dan tanaman Ganja

Alasan di balik Dhira Narayana yang fokus pada advokasi tanaman ganja, simple karena tanaman ganja ada di Indonesia “Tanaman ganja ini udah kadung ada, awal nya saya tidak punya niat, cuman karena ada jalan hidup yang mengarahkan saya ke situ, ya sudah saya jalani”. Secara medis, menurut penelitian WHO (World Health Organisation) ganja dapat membantu depresi, PTSD (Post Traumatic Disorder), Adiksi terhadap narkotika kimia, kanker, diabetes dan masih banyak lagi. Masih ingat kasus Fidelis? Selain itu ada tanaman ganja jenis hemp yang dapat menjadi bahan dasar meja, baju, sepatu dan apapun. Jadi bisa dibilang ganja adalah tanaman yang sangat serbaguna dan variatif. Menurut Dhira, ganja masih ilegal walaupun memiliki banyak manfaat di bidang industri dan medis karena masyarakat Indonesia yang sedang dibodohi dan mau dibodohi. Yang bermasalah bukan sistem yang membodohi tapi mengapa orang Indonesia mau dibodohi.

Dhira mengatakan “Setan punya tugas menghasut manusia, terus ada manusia yang terhasut. Yang salah yang menghasut atau yang dihasut? Begitu juga dengan ganja, yang salah yang melakukan pembodohan atau yang dibodohi?” Dhira memberikan analogi yang baru terhadap legalisasi tanaman ganja, jadi pada dasarnya fakta tentang ganja sudah ada tapi masyarakat Indonesia masih buang muka dan mau dibodohi terhadap fakta-fakta oleh sistem yang ada. Dhira menganalogikan orang-orang yang dibodohi oleh sistem ini sebagai orang-orang yang sedang tertidur, dan bagaimana kita membangunkan orang-orang yang sedang tidur? Orang-orang yang sudah bangun harus membangunkan orang-orang yang sedang tidur, jadi orang-orang yang sudah paham soal ganja seharusnya mengedukasi orang-orang yang masih dibodohi. Apakah sudah banyak orang yang bangun? “Kalo itu saya gak tau, masalahnya orang bangun ada yang udah bangun tapi di kamar dan diam doang, ada juga yang bangun lalu keluar bekerja”.

Menurut Dhira kita harus bangun tapi kita tidak bisa hanya diam, kita harus beraksi dan bekerja, jadi hal-hal kecil dari memakai kaos mengenai ganja atau memberikan informasi mengenai ganja saat nongkrong pun akan memiliki pengaruh. Apakah Indonesia siap menghadapi legalisasi ganja? “INDONESIA SIAP, kita itu sebagai bangsa sangat fleksibel. Orang-orang kampung itu lebih siap menghadapi perubahan dibandingkan orang-orang kota, saat saya berdiskusi dengan orang-orang di Bantul, menurut mereka aneh ganja itu ilegal. Orang-orang kota aja yang ribet, kalo ngomongin ganja selalu ada tapi-nya (ganja tuh baik tapi..), tapi semua hal juga ada tapi-nya, gula juga ada tapi-nya begitu juga dengan garam” Kami juga berdiskusi mengenai ganja sintetis yang sangat populer di kalangan anak muda, tanggapan Dhira hanya “Intinya itu bukan ganja, jadi saya tidak mengerti soal sintetis itu”.

“Ganja ini sesuatu yang luar biasa, tapi segala hal bisa menjadi luar biasa jika kita mencari tahu filosofi-nya. Kita bisa mencari tahu filosofi di balik kaos atau filosofi di balik jari-jari, itu juga bisa menjadi sesuatu yang luar biasa”

Sejarah dan Budaya

Dari informasi yang saya dapat dari Dhira, dalam sejarah Indonesia ada penggunaan ganja. Kita bisa lihat di Aceh buat masak, Maluku ada di buku-buku Belanda, di Jawa kita bisa liat pada anatomi keris, kitab-kitab herbal juga ada dan di agama hindu juga ada karena kita dulu peradaban hindu yang besar. Tinggal kita saja yang harus membuktikan. Dhira sangat menggemari Bob Marley. Pada awalnya karena saat dia “giting”, lagu-lagu Bob Marley sangat enak untuk didengarkan. Namun, setelah Dhira memerhatikan lirik lagu-lagu Bob Marley, lirik Bob Marley tidak hanya menyentuh isu-isu sosial tapi lirik-lirik Bob Marley sangat spiritual. “Saya tidak tahu yang mana muncul duluan dari Bob Marley, spiritualitas baru ganja atau sebaliknya. Seperti ayam dan telur”.

Dhira melihat budaya adalah hasil pemikiran manusia dan manusia adalah manifestasi dari tuhan, Kita secara umum melihat manusia horizontal, namun spiritualitas tidak melihat manusia sebagai horizontal. Menurut spiritualitas dari manusia berasal dari atas, turun ke bawah lalu naik keatas lagi. “Ganja itu di satu sisi membuat orang high, high dari bawah ke atas. Jadi dia bisa membuat manusia semakin dekat hubungan nya kepada yang di atas. Badan-nya masih di bawah tapi kesadarannya sudah meningkat” Menurut Dhira kita sebagai manusia jangan berhenti sampai high saja, karena kita harus mencapai “the highest”. Agama juga kebudayaan, jadi agama adalah kebudayaan yang membantu kita mencapai “the highest”, selama ganja bisa mendekatkan kita dengan “the highest” Dhira akan mengikuti dan mempelajari.

Di dalam pop culture ganja dibilang rekreasi karena bisa membebaskan kita dari realita, kita miskin kita lupa, kita capek kita lupa dan kita senang pun kita bisa berbagi. Menurut dia orang-orang yang sudah kenal dengan ganja sangat beruntung. Dalam bidang medis ada jenis ganja CBD dan dalam industri ada hemp, menurut Dhira jika ada sesuatu yang baru pasti akan menguntungkan, contoh-nya seperti Go-jek. Jika kita membuat sesuatu yang baru dan menguntungkan, kita akan jadi pioneer. “Ganja ini sesuatu yang luar biasa, tapi segala hal bisa menjadi luar biasa jika kita mencari tahu filosofi-nya. Kita bisa mencari tahu filosofi di balik kaos atau filosofi di balik jari-jari, itu juga bisa menjadi sesuatu yang luar biasa” Ungkap Dhira yang menutup diskusi kami sore itu.

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *