LOADING

Type to search

Colby Covington Sebagai Bukti Pentingnya Kontroversi dalam Industri

COLUMN FEATURED

Colby Covington Sebagai Bukti Pentingnya Kontroversi dalam Industri

Andi Basro 16/10/2020
Share

Ilustrasi oleh Rafii Mulya

Kontroversi menjadi suatu alat yang efektif untuk mendapatkan keuntungan dalam dunia MMA. Petarung-petarung seperti Conor Mcgregor dan Chael Sonnen jago menarik perhatian masyarakat baik dengan cara negatif maupun positif. Inti dari dari strategi tersebut adalah membuat orang menyaksikan pertarungan mereka.

Tujuan itu bisa dicapai dengan dua cara, menjadi atlet yang dicintai semua orang atau benar-benar dibenci. Jangan pernah menjadi orang yang berada di tengah, karena tidak akan ada yang peduli apakah kau menang atau kalah. Ya, memang kejam jika kita berasumsi bahwa performa maksimal saja sudah cukup. Tapi, suka atau tidak, olahraga adalah suatu komoditas. Salah satu petarung MMA yang menjadi manifestasi naratif tersebut adalah Colby Covington.

Colby Covington adalah seorang pegulat yang berasal dari Clovis, California. Tak lama setelah lulus, pegulat yang handal pada zaman kuliah ini direkrut oleh American Top Team, sasana yang berbasis di Miami, Florida. Colby mulai fokus menjadi atlet MMA profesional dengan rekor 5-0 sebelum masuk UFC. Colby menjalankan debutnya di UFC pada tahun 2014 dan memenangkan 8 dari 9 fight sejak itu.

Sudah terlihat sangat jelas bahwa dia adalah seseorang yang pekerja keras dan sangat humble. Namun, matchmaker UFC, Sean Shelby, tidak menggemari sifat dan gaya bermainnya. Sean memutuskan untuk memecat Colby setelah melawan title contender Demian Maia di Brazil, mengabaikan bahwa Colby memiliki four fight win streak. Setelah mendengar berita tersebut, pemilik American Top Team, Dan Lambert, memberitahu Colby untuk mengubah dirinya.

Perubahan yang dilakukan Colby tidak sesuai dengan ekspektasi Dan Lambert. Setelah mendominasi Maia, Colby mengambil mikrofon lalu berteriak; “Brazil, you’re a dump! All you filthy animals suck.”. Walau bisa dibilang xenophobic atau rasis, kalimat itu menyelamatkan karir UFC Colby Covington.

Mau tidak mau kontrak Colby diperpanjang. UFC tidak akan melewati kesempatan menghasilkan cuan dari kontroversi yang telah dibuat. Tak lama kemudian dia melanjutkan transformasinya menjadi sosok yang anti-PC (politically correct), anti-woke, dan di atas itu semua mempublikasikan dukungannya untuk presiden Donald Trump.

Dalam era di mana banyak orang tidak berani mengambil sikap yang telah disebutkan di atas karena takut di-cancel atau menerima kebencian secara umum, Colby justru merangkul kebencian yang didapatkannya. Karakteristik Colby membuatnya menjadi figur yang membuahkan polarisasi.

Dunia MMA menjadi terpecah belah. Ada kubu yang benar-benar mencintainya dan ada yang sangat membencinya. Jika kalian pernah mendengar sosok yang seperti itu atau terdengar familiar, kalian tidak salah. Memang familiar, karena gimmick Colby didasari oleh perilaku dan sikap Donald Trump.

Ada banyak persamaan yang dimiliki oleh Trump dan Colby. Mereka sama-sama suka memberikan oposisinya nama julukan yang harus diakui lumayan lucu. Bisa dilihat dari bagaimana Trump mengejek Hillary Clinton, “Crooked Hillary”, begitu juga dengan Colby menjuluki Marty “Fakenewsman”. Itu hanya satu dari berbagai macam julukan yang mereka buat. Lelucon seperti itu levelnya setara dengan lelucon anak SD, tapi selama efektif untuk mendapatkan perhatian, kenapa tidak.

Colby Covington menganggap dirinya sebagai playboy dan menyebut haters dirinya sebagai “nerds and virgins”. Selain menjadi playboy, dia menambahkan komentar-komentar penampilan fisik wanita yang menurut dia jelek. Aspek dari karakter dia memiliki korelasi dengan sikap Donald Trump terhadap wanita, namun dilanjutkan oleh Colby ke level yang lebih tinggi. Colby seringkali membayar wanita-wanita seksi untuk merekam video promosionalnya di instagram. Mereka juga datang ketika dia ada obligasi pers.

Congor Colby dan Trump berhasil menguntungkan diri mereka dalam bidang masing-masing. Colby berhasil menyelamatkan karirnya dan pada ujungnya bertarung untung sabuk welter UFC. Donald Trump mencapai tujuannya menjadi presiden Amerika Serikat. Walau mereka mencapai impian, bukan berarti tanpa konsekuensi.

Citra publik Trump dan Colby tidak positif. Oleh karena itu, performa mereka seringkali terabaikan. Orang-orang seringkali melupakan betapa hebatnya Colby sebagai petarung. Cardio dan pressure-nya secara objektif merupakan salah satu yang paling bagus di UFC, ditambah dengan kemampuan gulat yang sangat tinggi. Dia juga memiliki peran besar yang signifikan dalam pendapatan atensi dari pemerintah. Colby adalah petarung MMA pertama yang diundang ke Gedung Putih.

Simbolisme tersebut sangat besar untuk rekognisi olahraga MMA secara umum. Begitu juga dengan Trump. Tidak mungkin seorang presiden yang menjabat selama empat tahun tidak pernah membentuk kebijakan yang bagus. Donald Trump juga merupakan salah satu kontributor penting dalam pertumbuhan MMA, terutama UFC.

Pada tahun-tahun awal UFC terbentuk, tidak ada venue yang ingin menerima acara-acara mereka. Saat itu Trump memiliki sejumlah lokasi di Atlantic City. Dua dari venue tersebut menjadi tuan rumah bagi acara UFC di saat-saat yang krusial. Jika Trump tidak mengizinkan, mungkin masa depan MMA akan terlihat berbeda. Itulah beberapa contoh sisi positif Covington dan Trump, tapi seringkali terlupakan atau diabaikan karena kejenakaan mereka.

(Colby dan Donald Trump dalam White House, sumber: @ColbyCovMMA, Twitter)

Dampak yang diberikan oleh Colby dan Trump telah memecah belah dunia masing-masing. Oleh karena itu, mereka seringkali dibilang figur yang mempolarisasikan. Komunitas MMA terbagi menjadi dua; mereka yang mencintai Colby dan yang membencinya.

Begitu pula dengan Trump, hanya saja dalam skala yang lebih besar. Mereka yang lelah dengan political correctness dan woke bisa melihat daya tarik kedua orang tersebut. Keduanya sama-sama mengkritik gerakan Black Lives Matter dan juga atlet-atlet yang menolak untuk bertanding karena kasus-kasus pembunuhan warga kulit hitam yang dilaksanakan oleh polisi akhir-akhir ini.

Pandangan ini mencapai puncaknya pada saat Colby Covington bertarung melawan Tyron Woodley pada tanggal 20 September. Laga ini bukan hanya pertarungan antara dua orang dalam kandang baku hantam, tapi juga perbenturan ideologi. Tyron Woodley pada saat konferensi pers menjawab pertanyaan dengan jargon “Black Lives Matter”, sedangkan Colby mendeskripsikan fight ini sebagai kapitalisme (Colby) melawan komunisme (Woodley). dengan asumsi Colby terinspirasi oleh kritikan orang-orang kanan yang menyebut BLM sebagai organisasi Marxists, ditambah pengakuan dari salah satu pemimpin mereka sendiri.

Colby mendominasi Woodley selama empat ronde sebelum mendapat kemenangan TKO yang diakibatkan oleh patahnya rusuk Woodley. Ketika waktunya untuk wawancara pasca pertandingan, Colby mendedikasikan kemenangannya untuk polisi, pemadam kebakaran dan juga militer ditambah dengan ujaran,

“You keep us safe, not these woke athletes. I’m sick of these woke athletes and these spineless cowards like LeBron James.”.

Suka atau tidak suka dengan Colby, kredit sepenuhnya harus diberikan kepada UFC karena merekalah yang menciptakan ‘monster’ ini, dan tidak ada tanda bahwa dia akan ngerem kontroversi dalam gimmicknya. Akan menarik melihat Colby suatu hari menjadi juara welter UFC. Pertanyaan jika itu terjadi adalah, dengan perhatian dan promosi yang didapatkan oleh seorang champion, apakah dia akan meninggalkan gimmick tersebut?

Terlepas dari itu semua, untuk sekarang kita masih harus melihat Colby dengan topi MAGA mengatakan hal-hal yang tidak politically correct demi mendapatkan atensi.

Tags:
Andi Basro

Poser HC yang berusaha mengedukasi soal musik tanpa memiliki kemampuan bermusik.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *