LOADING

Type to search

Tahun Penuh Kejutan, Denyut Skena Pinggiran Layak Disimak!

COLUMN FEATURED

Tahun Penuh Kejutan, Denyut Skena Pinggiran Layak Disimak!

INCOTIVE 17/08/2020
Share

Teks oleh Rama Mulyana
Ilustrasi oleh Pininta Taruli

2020 memang tahun kembar yang penuh kejut. Dengan munculnya pandemik sialan, roda kehidupan menjadi pincang di pelbagai sektor, seperti di lini kesehatan-sosial-ekonomi bahkan mungkin perlu dikatakan semua sektor juga terdampak. Namun, dalam tulisan ini saya tidak membahas COVID-19 yang menjengkelkan itu, paling tidak saya menawarkan sepucuk berita segar dari kawan-kawan skena pinggiran. Bermukim di titik nol; antara Kabupaten Sukabumi dengan Kabupaten Bogor, Cicurug – Cigombong (Selanjutnya saya menyebut; Jalur Tengkorak) dan patut diakui, pergerakkan di kawasan ini perlu kita simak.

Di awal hingga pertengahan tahun ini, Jalur Tengkorak tak habis-habisnya ‘ditampar’ oleh para penggiat band yang menawarkan rilisan-rilisan terbaru mereka. Dimulai dari pendatang baru sebagai solois kasar; MAZZ, yang merilis demo perkenalannya via digital beserta format fisiknya berupa CD pada Januari silam. Dalam demonya tersebut, MAZZ mencoba merangkum fenomena khas Jalur Tengkorak. Dari peristiwa tawuran pelajar hingga sengkarutnya zona merah ini, akibat bertebarannya proyek-proyek besar dan kemacetan yang semakin darurat. Semua isu tersebut terbungkus dengan lugas dan kasar ke dalam lima nomor andalan MAZZ.

Kemudian kejutan lainnya disusul oleh kuartet Punk/ Thrashcore, Power Of Resistance a.k.a PxOxR, dengan merilis EP perdananya bertajuk Earth Destruction secara digital dan fisik yang dinaungi oleh label rekaman asal Malang, Tarung Records di awal Mei lalu. Melalui EP Earth Destruction, PxOxR mencoba membungkus kritikannya terkait isu lingkungan alam, dan dari nama EP-nya pun sudah kelihatan kemana maksud PxOxR.

Selanjutnya ledakan lain muncul dari orang lama, yakni unit Noise Sugarkane. Melalui label asal Bogor, Hujan Rekords! Terhitung April lalu, Sugarkane merilis singleSick” dengan format video, yang dilayangkan via kanal YouTube Hujan Rekords! Momentum perilisan tersebut menjelma semacam kabar, bahwa mereka telah mengakhiri masa rehatnya sekaligus memberi tanda, kembalinya Dilla dengan mengisi departemen yang sama; Vokal yang sempat ditinggalkannya.

Tidak berhenti di Sugarkane, sambaran lain datang dari mereka; kugiran Cheotic/Dark Hardcore, KNIFE. Pertengahan Juli kemarin, gerombolan gelap ini tak mau kalah dan menyerang secara bertubi-tubi. Diawali dengan melayangkan single bertajuk “Senyap”, dalam jangka waktu yang berdekatan, mereka melanjutkan hajat dengan merilis single keduanya “Suffer”. Kedua single tersebut dikeluarkan sebagai penyambut EP perdananya bertajuk Wrath. Pun di waktu yang percis dengan perilisan single kedua, KNIFE menuntaskan agenda hajatnya dengan menelurkan EP Wrath secara fisik, yang dinaungi oleh Sudden Death Records, label asal Bogor.

Sejak melewati hajatnya MAZZ hingga KNIFE, rasanya saya tidak menemukan lagi gerak-gerik dari band lainnya di sepanjang Jalur Tengkorak ini. Tapi setidaknya dengan kabar demi kabar yang berjatuhan dari sederet rilisan band di atas tadi, rasanya terbilang cukup untuk melepas penat saya akibat masa karantina. Menurut saya, sederetan rilisan tadi layak untuk diberi aplaus! Dan tidak berlebihan juga jika saya anggap sebagai suplemen yang meningkatkan dopamin dalam tubuh.

Percis seperti yang saya katakan di awal, 2020 memang tahun penuh kejutan. Khususnya di khasanah permusikan Jalur Tengkorak. Meski terhambat oleh situasi yang sulit ini, paling tidak berita di atas menjadi semacam momentum; sebagai bentuk ikhtiar kawan-kawan Jalur Tengkorak yang kembali memantik api dan berhasil menunjukkan kepada khalayak bahwa skena arus bawah tanah di sini masih berdenyut dan layak untuk kalian simak!

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *