LOADING

Type to search

EP Milieu: Pendekatan SMSR Menghadapi Kenyataan Kehidupan

DAILY FEATURED

EP Milieu: Pendekatan SMSR Menghadapi Kenyataan Kehidupan

Defta Ananta 18/06/2019
Share

“SMSR mengambil pendekatan yang tidak terlalu muluk-muluk, eksplorasi sound mereka terbungkus dalam balutan musik yang sederhana untuk mengeluarkan warna musiknya”

Pada Bulan Suci Ramadhan lalu, industri musik kedatangan satu pemain baru asal Jakarta. Sebelumnya pemain baru ini lebih dulu menginjakan kaki dalam belantara scene musik dengan melepas dua single pada tahun 2017 dan 2018 silam. Mereka menamakan diri SMSR, yang merupakan akronim dari kata Samsara.

Samsara adalah istilah dari paham Buddhisme tentang siklus kehidupan. Saya berpikir nama yang mereka ambil cukup megah dan dalam sekali maknanya. Oleh karena itu saya memiliki pandangan kritis, apakah mereka berhasil memanifestasikan dalamnya makna kata Samsara ke dalam karya-karyanya?

Sebagai perkenalan, SMSR merupakan grup band yang berangkat dari latar belakang yang sama, dan memiliki ikatan perkawanan sejak usia belia. Bagi yang belum familiar, SMSR digawangi oleh Rerez (synthesizer, keyboards, vocals), Ardana (guitar), Arya (guitar, vocals), Reygi (bass) and Widan (drums). Lima sekawan ini baru saja melahirkan anak pertamanya yang berupa mini album/EP berjudul ‘Milieu’ pada bulan Mei 2019.

Profil SMSR

Dilansir dari siaran pers yang Incotive terima, EP “Milieu” ini bercerita tentang kejadian sehari-hari yang dialami oleh masing-masing personil dalam kehidupan. Ya, dalam kata yang lebih elegannya sebuah soundtrack yang merepresentasikan kejadian duniawi dalam sudut pandang orang pertama.

“Terdapat beberapa momentum-momentum dalam hidup kita semua yang diingat, seperti saat ada moment kita kehilangan kawan dekat, dan percintaan sehingga lagu-lagu kita adalah hal-hal yang memang kita alami sendiri”, ucap salah satu personil SMSR mengenai EP “Milieu”.

Secara musikalitas, SMSR mengusung genre Space Age Pop/Rock. Saya mengira ini adalah nama yang lebih edgy dibanding secara terang-terangan mengusung genre Psychedelic Pop/Rock. Apapun alasannya yang paling penting SMSR sudah memiliki penanda identitas yang membedakan dirinya dengan grup musik lainnya dalam belantara scene musik ini.

Setelah mengetahui informasi dasar mengenai SMSR mari kita telaah satu-persatu lagu yang ada dalam EP ‘Milieu’ ini. Seperti yang dikatakan oleh salah satu personilnya, EP ini mengangkat tema mengenai the mundane aspect in our daily lives, sebuah tema yang seringkali dianggap seksi bagi remaja-remaja yang sedang bertransisi menjadi manusia young adult.

Saya setuju bahwa sebenarnya banyak pendekatan yang bisa digunakan dalam menyajikan sebuah cerita tentang kejadian-kejadian yang sangat mundane atau duniawi pada suatu karya musik. Sekarang pertanyaanya adalah pendekatan atau sudut pandang apa yang dipilih oleh kawan-kawan SMSR dalam bercerita mengenai momentum-momentum yang terjadi dalam hidup mereka sebagai lima sekawan.

EP ini dibuka oleh lagu berjudul “00”, Sebuah lagu instrumental berdurasi 6 menit. Untuk sebuah lagu pembuka, bagi saya lagu 00″ adalah sebuah pijakan yang kuat dalam menegaskan gagasan Space Age Pop/Rock dalam karya mereka. Entah mengapa lagu ini kental dengan nuansa Modern arabic, hal ini dikarenakan saya mendengar ada lick minor yang relatif serupa dengan musik pembuka pada film Aladdin. Catatan saya tidak terlalu banyak untuk lagu ini, kecuali pada pola ritmik yang repetitif nan tipikal serta pemilihan porsi permainan apregiator synthesizer yang membanjiri lagu tersebut.

Setelah 6 menit mendengar eksplorasi suara ala SMSR, lagu berjudul Fallacy” menyeruak ke telinga saya. Lagi-lagi lagu ini masih didominasi oleh melodi minor yang menjadi warna utama. Saya merasa bahwa memang nada-nada minor adalah cara yang paling masuk akal dalam mengekspos emosi kelelahan dalam menghadapi realita duniawi yang dipenuhi dengan kekeliruan, kebingungan dan lainnya.

Masih dalam formulasi yang sama apregiator synthesizer memiliki peran yang besar dalam memberikan tekstur pada lagu tersebut, akan tetapi pada lagu “Fallacy” ini kesan musik alternatif lebih mendominasi dibanding warna musik Space Age yang disajikan pada lagu pembuka.

Saya percaya bahwa lagu ini memiliki pesan tentang adanya kecenderungan yang keliru pada manusia dalam memaknai kehidupan. Sayangnya saya tidak bisa mendapatkan pesan yang disajikan lewat liriknya, entah karena kemampuan bahasa inggris saya yang lemah atau karena ada unsur kesengajaan dari sound design pada bagian vokal yang membuat artikulasi liriknya menjadi sangat obscure.

Kemudian dilanjut pada lagu yang berjudul It Could Be Wind Whispers in My Ears”, lagu ini menarik karena disajikan dalam dua bagian yang terpisah. Dibuka oleh riff bass dan ritme khas musik rock n roll, lagu ini terasa lebih berdinamika dan berhasil membuat saya menganggukan kepala beberapa kali. Bagian pertama ditutup oleh noise pad dan bagi saya hal ini memberikan kesan yang nanggung.

Pada bagian berikutnya, petikan gitar yang dibalut dalam nuansa rock balada ala era 70an menjadi pembuka bagian kedua. Seakan dibawa dalam suatu perjalanan melintasi bukit terjal, bagian pertama menggambarkan tanjakan yang berliku sehingga pengemudi harus menancap pedal gas, sedangkan bagian kedua adalah ketika kita mencapai titik turunan nan santai namun hal ini seakan menjadi hal yang sangat mudah ditebak. Akan tetapi saya menyayangkan pilihan untuk membagi lagu ini ke dalam dua bagian.

Akan semakin menjadi bentuk perjalanan yang utuh apabila tidak dibagi kedalam dua bagian, apabila kita refleksikan kembali pada tema EP ini, Ilustrasi bagian pertama yang saya gunakan menggambarkan fase yang secara langsung berkaitan dengan ilustrasi bagian kedua. Keutuhan lagu selama 7 menit ini sama seperti hidup, jika kita mendambakan kebahagiaan maka kita juga harus bersiap menghadapi kesedihan di waktu yang hampir bersamaan.

Dalam kata lain kita tidak bisa hanya berfokus pada satu aspek dengan mengabaikan relasinya dengan aspek lain. Atau mungkin pilihan ini adalah stategi cerdik kawan-kawan SMSR dalam mengakali streamcount dan algoritma dalam layanan streaming service karena jujur semakin kesini durasi lagu yang di-publish pada platform tersebut jarang sekali ada yang menyentuh minimal 5 menit lebih. Singkatnya semakin pendek lagu, semakin besar profit yang tergambar pada angka streamcount.

Terakhir adalah single yang dirilis pada 2018 lalu, “Why Too Soon”. Saya sudah lebih dulu mendengar lagu ini karena telah dirilis sebagai single sebelumnya, dan lagu ini lagi-lagi lebih terasa nuansa alternatifnya dibandingkan dengan label space age pop/rock yang mereka usung sebagai identitas.

Saya cukup tersentuh dengan cerita di balik lagu ini, mereka mencoba menyajikan perspektif anak muda dalam menyikapi hubungan antara kematian dan kehidupan, terutama apabila menyangkut teman terdekat. Sulit rasanya bagi saya untuk bisa mengelaborasi perasaan, sikap, cara pandang, dan lainnya mengenai hal tersebut hanya ke dalam satu lagu berdurasi 4 menit.  Kematian dan kehidupan merupakan hal yang terlampau kompleks.

Lewat single ini SMSR menyajikan pendekatan yang lebih sederhana dan tidak melebih-lebihkan sehingga tidak terdengar pretensius melalui pengemasan yang cukup easy listening. Mereka terlihat lebih memilih untuk menyikapi kepergian temannya dalam perspektif keduniawian dengan mencoba berfokus pada kisah-kisah menyenangkan selama mereka menghabiskan waktu bersama dan tidak tenggelam dalam kelamnya gagasan tentang kematian.

Secara keseluruhan EP ‘Milieu’ dari SMSR adalah rilisan yang wajib untuk disimak. Mengapa? Pendekatan yang tidak terlalu muluk-muluk pada tema kompleks yang menjadi ide EP “Milieu”, hingga eksplorasi sound yang mereka lakukan terbungkus dalam balutan musik yang sederhana tanpa adanya teknik musikal yang ribet untuk mengeluarkan warna musiknya.

Hal yang disayangkan bagi saya, SMSR masih belum bisa untuk dikatakan dewasa dalam bermusik. Hal tersebut bukan tanpa alasan, kecenderungan untuk hanya bergantung pada synthesizer sebagi pemberi warna utama dalam musik hingga penggunaan pola ritme yang repetitif mungkin akan meninggalkan kesan yang monoton di telinga audiens. Di luar argumen tersebut, EP “Milieu” berhasil memberikan sebuah penegasan eksistensi yang kuat serta senjata bagi lima sekawan ini untuk bisa survive dalam petualangan mengarungi belantara scene industri musik Indonesia.

Tags:
Defta Ananta

Terkadang jadi musisi dan terkadang jadi penulis di Incotive. Tapi yang pasti, masih jadi pemuda yang sering mempertanyakan banyak hal.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *