LOADING

Type to search

Film Joker: Ketika Aktor Menjiwai Seni Peran

FEATURED SELECTION

Film Joker: Ketika Aktor Menjiwai Seni Peran

INCOTIVE 10/10/2019
Share

Teks oleh Husna Rahman Fauzi
Ilustrasi oleh Nuraulia Mugniza

Saya adalah orang yang teratur saat melakukan suatu aktivitas. Hari ini menonton film Seven Samurai, seminggu ke depan harus merampungkan buku Fyodor Dostoevsky dan lain sebagainya. Seperti biasanya, hari Senin adalah hari yang spesial untuk saya, sebab saya sudah berencana untuk menonton film berdua dengan kekasih. Namun hari Kamis, tiba-tiba saja Bapak Pimred mengirim saya sebuah pesan singkat, meminta saya untuk menulis review film teranyar garapan Todd Philips, yakni Joker.

Dengan semangat nonton film gratis ditambah rasa haus akan film-film berkualitas, setelah saya disuguhi film Warkop DKI yang buruk dan Gundala yang tidak matang, saya akhirnya berangkat hari Jumat (4/10) ke salah satu bioskop di kota Bandung.

Yang ada dalam kepala saya tentang Joker, tentu saja suguhan film berkualitas sebab sebelum film ini dirilis resmi, Joker mendapatkan respon positif dari kritikus dan pecinta film setelah diputar di festival-festival bergengsi di dunia. Bahkan,di Venice film Festival, Joker mendapat delapan menit standing ovation dari penonton yang hadir saat itu. Kritikus film Geoffrey Macnab menyebut bahwa Joker adalah film yang sangat kuat dan orisinil dan Joaquin Phoenix memerankan karakter Joker dengan epik.

Selain ekspektasi yang telah saya sebut di atas, saat mendengar Joker, otak saya secara otomatis memilah-milah kenangan dan berhasil mengingat satu nama; Heath Ledger. Mungkin banyak orang yang bersepakat bahwa debut Joker di layar lebar dimainkan secara sempurna oleh Heath Legder dalam film The Dark Knight garapan Christopher Nolan.

Karena alasan tersebut, Heath Ledger menjadi semacam standar Joker versi layar lebar. Maka di film-film selanjutnya yang menampilkan supervillain ini, seperti halnya Jared Letto dalam film Suicide Squad dapat dimaklumi kualitas akting bututnya sebab ada kesulitan tersendiri memerankan tokoh Joker ditambah “Standar Ledger” tadi.

Keberanian dan nyali yang besar dimiliki oleh Warner Bros dan Todd Philips untuk mengangkat kisah Joker secara penuh selama 2 jam 2 menit. Tantangan dalam menggarap film ini tentu saja terletak pada kualitas aktor yang memerankan serta penggambaran suasana dan alur cerita.

Dari pengamatan saya Todd Philips dengan apik dapat meramu keseluruhan isi film dengan rapih. Kekuatan film ini terletak pada kualitas sinematografi dan kualitas akting. Bahkan dapat dikatakan kualitas sinematografinya kelas wahid. Pengambilan gambar dan tone serta warna yang ditampilkan dapat membangun suasana dari scene ke scene. Selain itu, storyline yang fresh membuat kita dilemparkan kembali pada ingatan saat menonton film-film yang mengusik psikologis penonton.

Dari segi storyline saya kira tidak ada celah untuk saya mengomentari ini. Untuk perbandingan, menonton Joker mengingatkan saya pada film Taxi Driver, Magnum-Opus-nya Martin Scorsese yang dicampur dengan konfilk yang dihadirkan film drama dalam Raging Bull.

Spekulasi saya, cerita Arthur Fleck ini mirip dengan cerita karakter Travis Bickle, supir taksi dalam film Taxi Driver. Travis Bickle diperankan oleh Robert De Niro yang juga memerankan tokoh penting dalam film Joker. Saya kira hal ini cukup menggelikan karena Robert De Niro sepertinya bernostalgia tentang masa mudanya dahulu.

Yang membuat Joker berbeda dengan Taxi Driver adalah masalah cara bercerita saja. Maksudnya, dalam Taxi Driver, kegilaan Travis Bickle tidak dijelaskan secara gamblang oleh Scorsese dan menguap begitu saja, membuat perdebatan dan kebingungan bahkan kegelisahan penonton setelah keluar pintu bioskop. Bahkan setelah menonton film Taxi Driver, tidak akan ada satu garis tegas seperti “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”.

Kendati demikian, Joker bukanlah film yang jelek. Penuturan cerita yang membawa kita pada muara kebenaran juga baik bagi penonton. Penonton tidak akan dibuat bingung pada akhirnya. Ya, setelah menonton kita sebagai penonton dapat memilah-milah mana realitas, mana delusi yang hanya ada dalam kepala Arthur Fleck. Bahkan formula ini dapat memberi kita pengalaman menonton yang lebih beragam karena kita selalu disuguhkan plot twist yang tiba-tiba atau bahkan tidak ada twist sama sekali, dan ini yang membuat penonton gregetan.

Joker adalah film yang mengutamakan penguatan karakter, maka kualitas pengambilan gambar mesti benar-benar diperhatikan. Film ini banyak menggunakan teknik close up untuk menguatkan pembangunan karakter. Teknik close up akan terlihat sempurna jika aktor memainkan bagiannya dengan baik. Joaquin Phoenix melakukan hal menakjubkan dalam memerankan Arthur Fleck. Tapi entah mengapa menurut saya kurang saat memerankan Joker.

Musabab segi cerita dalam film ini bercerita tentang asal muasal Joker yang tidak mengikuti versi komik membuat film ini terlihat fresh dan otentik. Hal ini disebabkan oleh akting Phoenix yang total. Cara tertawa, gestur, tarian, ekspresi-ekspresi mikro yang tak terduga benar-benar keluar dan membuat ini menakjubkan. Saya rasa semua penonton film ini terhanyut melihat kisah hidup Joker yang dibangun dalam film ini. pesakitan, menyedihkan, lemah dan kengerian dalam satu paket.

Namun sampai di situ saja. Menurut hemat saya, Joaquin benar-benar butut dalam memerankan Joker, lagi-lagi karena Standar Ledger. Maksudnya, jika diperhatikan, menit-menit akhir, tokoh Joker dimunculkan. Dimana Arthur Fleck yang tertawa, lemah dan pesakitan hilang digantikan oleh Psikopat haus darah bernama Joker.

Adegan butut Phoenix memerankan Joker terlihat dalam adegan Talkshow Murray. Adegan itu dengan panjang memberi panggung bagi Joker untuk memberi tausyiah pada penonton. Joker bersumpah serapah selama lima menit dengan gaya bicara laki-laki yang biasa ditemui di salon-salon yang dimana Joker tidak memiliki logat demikian. Adegan tersebut sedikit membuat saya kecewa namun secara keseluruhan Joaquin Phoenix cukup oke memerankan Joker dan sangat menakjubkan memerankan Arthur Fleck.

Saya kira tidak berlebihan film ini mendapatkan delapan menit standing ovation dan mendapatkan Golden Lion di Venice Film Festival. Yang semestinya terjadi di kemudian hari adalah berita tentang Joker dan Joaquin Phoenix mendapat piala Oscar.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *