LOADING

Type to search

FOODWISE: Kedai Bakso Tersohor yang Tersembunyi, RM Linggarjati

FEATURED SELECTION

FOODWISE: Kedai Bakso Tersohor yang Tersembunyi, RM Linggarjati

INCOTIVE 22/06/2019
Share

Teks dan foto oleh Alfan Ahmad Atharik

“Sejak saya kecil nyoba makan mie baso di sini , rasanya ga berubah sampai sekarang”

Ulasan RM. Linggarjati di Internet umumnya dari pengulas makanan yang sudah dewasa, saya belum melihat anak muda yang memberi ulasan tentang kedai bakso legendaris ini. Nanti akan saya jelaskan beberapa faktor kenapa jarang ada anak muda yang me-review atau bahkan mendatangi RM Linggarjati, tapi untuk pembaca Incotive akan saya bahas kedai bakso ini dari perspektif generasi muda.

Henie Herliani menuliskan di pergikuliner.com bahwa dari sejak beliau kecil, rasa mie basonya tidak berubah. Sungguh sulit terbayangkan rasa yang Bu Heni rasakan pada masa kecil, apalagi di foto profil sudah ada swafoto dengan anak dan suami, sudah lama sekali ya. Insight yang kita dapatkan dari ulasan ini adalah RM Linggarjati sangat menjaga konsistensi cita rasa sejak dulu kala.

Ada alasannya mengapa banyak yang memuji konsistensi dari rasa yang dihasilkan RM Linggarjati, karena memang kedai bakso ini sudah berdiri sejak zaman ayah bahkan kakek kita. Wajar saja banyak pujian dari berbagai generasi, akan tetapi generasi kita sayangnya memang tidak banyak yang gemar bermain di daerah alun-alun bukan?

Bulan Ramadhan kemarin saya terbawa rasa penasaran dengan kedai bakso yang eksis sejak tahun 1950-an ini. Saya memutuskan untuk mencoba yamin bakso untuk membatalkan puasa saya. Baiknya kalian membeli sebungkus gorengan dulu untuk membatalkan puasa, saya pribadi agak nanggung jika buka puasa tidak ada yang krenyes-krenyes hehe.

Ready, Set, Unwrap.

Kesan pertama saat datang ke Mie Bakso Linggarjati adalah hareurin dan vintage, tanpa perlu diberi tahu kita bisa merasakan bahwa kedai bakso ini cukup senior. Saat pertama masuk kami langsung disambut oleh pelayan, “Untuk berapa orang?” ucap pelayan yang menggunakan baju bernada sama dengan warna dinding. Setelah saya memberitahukan kuantitas pelanggan, sang pelayan langsung mengecek meja, kami diminta untuk menunggu karena memang tempatnya sedang ramai.

20 detik kemudian pelayan tersebut kembali dan mengantar kami ke meja yang berada di pojok ruangan, kursinya nyaman, kecap dan saus sambal di dalam botol minuman ringan tertata dengan rapi. Saya langsung memesan Yamin Baso Pangsit Babat dan Es Alpukat yang katanya lezat.

Setelah memesan saya coba mengambil gambar, saat memotret dapur, bapak paruh baya yang berada di belakang meja kasir bertanya “Foto untuk apa mas?”, saya menjelaskan maksud saya dan berbincang ringan dengan Pak Kenken. Pak Kenken adalah kasir sekaligus pemilik generasi kedua dari Mie Bakso Linggarjati. Ia bercerita bahwa kedainya sudah berdiri sejak 1950-an, informasi dari Pak Kenken ini terbukti karena RM Linggarjati memang tempat makan ibu saya saat muda dulu, Mungkin Dilan dan Milea pun pernah mencicipi Kedai Bakso dekat Alun-alun Bandung ini.

Tidak lama kemudian saat saya kembali ke meja di pojokkan, pesanan kami sudah tersaji. Yaminnya sangat good looking dan tidak terlalu berminyak. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya, tapi saya yakin rasanya mantap.

Where to Quest.

Perut saya semakin mengaum karena pukul 17.40 saya masih terjebak macet di depan ITC Kebon Kelapa, berbuka puasa di daerah Alun-alun memang tidak boleh mendadak, macetnya keterlaluan.

Saya tiba pukul 18.20, Jalan Balonggede sendiri hanya memiliki satu akses apabila kalian menggunakan mobil. Kalian harus melewati Jalan Dewi Sartika yang macetnya minta ampun karena ibu-ibu yang sedang belanja bulanan di Yogya Kepatihan, lalu ke Jalan Dalem Kaum yang ramai dengan wisatawan dan akhirnya belok kanan di jalan mungil bernama Jalan Balong Gede, di situ terpampang papan nama RM Linggarjati di atas kedai.

Mencari tempat parkir akan menjadi tugas yang agak sulit, saya cukup beruntung mendapatkan tempat parkir. Untuk mobil sendiri mungkin hanya cukup 4 mobil di jalan yang sempit dan ramai ini. Saya anjurkan menggunakan kendaraan roda dua jika ingin mencicipi bakso legendaris di Bandung ini.

Tastebuds.

Kembali membahas Yamin yang good looking, Yamin di sini porsinya cukup mengenyangkan. Kuah bakso terlihat bening suci, saya prediksi rasanya tidak akan terlalu dalam, akan tetapi pasti akan nikmat jika diseruput.

Saya yang sudah kelaparan ingin segera mencicipi Yamin Linggarjati. Pada suapan pertama, rasanya tidak sesuai ekspektasi, untuk yamin sendiri teksturnya kenyal sebagaimana mestinya, rasanya enak tapi tidak ada yang istimewa. Untuk kuahnya sendiri memang agak beda, rasanya gurih dan masih terasa kaldu ayam yang menendang di belakang. Yamin ini sangat kalem kalo dari segi rasa, kelebihannya ada pada porsinya. Babat yang disajikan di mangkuk sangat banyak, disebut sop babat pun saya tidak akan keberatan. Makan di sini dijamin kenyang deh.

Menu yang istimewa adalah Es Alpukatnya, rasanya tidak sama dengan yang lain. Gumpalan alpukatnya cukup menyenangkan untuk dikonsumsi. Keunikan Es Alpukat Linggarjati sebenarnya sederhana, alih-alih menggunakan susu kental manis, di sini es alpukatnya menggunakan gula aren.

Analisis saya tentang alasan Kedai Bakso Linggarjati ini konsisten dan terus diminati konsumennya karena konsistensi rasa dan promosi mouth to mouth dari pelanggan setianya sejak zaman dulu. Bagi remaja yang memang lebih menggemari makanan yang kaya akan rasa mungkin tidak menemukan keistimewaan dari Yamin yang kalem ini, tapi bagi beberapa orang yang menyukainya, Yamin ini memang istimewa. Konsumennya datang dari berbagai generasi, pelayannya saja ada yang terlihat dari umur 20 tahun sampai 60 tahun.

“Saya Pemilik kedua di sini, saya melanjutkan ayah saya yang berjualan sejak 1950”

Cerita agak lucu ada saat saya membayar ke kasir, saya membawa Rp.100.000 dengan asumsi harga untuk 2 mangkuk yamin dan es alpukat sekitar Rp.70.000 lebih, layaknya harga bakso. Lalu saat di kasir saya diberikan tagihan dengan tulisan tangan, ternyata harganya Rp.146.000. Pantas saja saya tidak melihat wajah wajah mahasiswa disini, 150 ribu bisa makan 3 hari bagi budget people seperti anda dan saya.

Taste: 7.0/10

Place: 8.5/10

Price: 6/10

Ambience: 9/10

Service: 8.7/10

Foodwise Rating: 7.84/10

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *