LOADING

Type to search

FOODWISE: Sunday Bowl Cereal Club, Trend dan Diferensiasi Produk

FEATURED SELECTION

FOODWISE: Sunday Bowl Cereal Club, Trend dan Diferensiasi Produk

INCOTIVE 26/01/2020
Share

Teks dan foto oleh Alfan Ahmad Atharik

I found a way to put my creative lens over a bowl of cereal and make it something that was fun, accessible, gettable, but still quirky, and feeding the creative spirit of whoever was eating it.

Penggemar Masterchef pasti mengenal Christina Tosi, juri yang membuat adem suasana yang menegangkan setelah Gordon Ramsay marah-marah. Juru masak yang memenangkan penghargaan James Beard Outstanding Pastry Chef  terkenal dengan keahliannya dalam mengolah dessert dan pastry.

The Milk Bar adalah kedai Tosi yang paling tersohor. Kedai ini mempunyai menu yang istimewa yang menggunakan sereal Corn Flakes dari Kellog hingga kuantitas pesanan ini semakin meningkat. Kellog menghubungi Tosi untuk berkolaborasi, Tosi meyakinkan Kellog untuk berani membuka kedai yang berfokus untuk menyajikan sajian sereal dan varian sejenis. Maka Christina Tosi dan Kellog membuka Sunday Bowl di Kota Bandung.

Bercanda, hehe. Christina Tosi dan Kellog membuka kedai sereal di New York selama 3 tahun terakhir dan berencana melakukan migrasi ke daerah Manhattan untuk tempat yang lebih luas. Harga 7 dolar amerika per mangkok tidak menyurutkan animo masyarakat The Big Apple untuk tetap mengonsumsi karya Tosi dan Kellog. Ternyata kedai sereal bisa sustain, di London pun sudah ada kedai yang serupa bernama Cereal Killer Café. Namanya norak ya?

Membuat panganan sereal menjadi lebih menyenangkan dilakukan juga oleh Sunday Bowl. Formula kesuksesan di Kellog’s Café seperti tempat yang catchy, variasi sereal dan topping diaplikasikan lagi di Bandung. Harga hingga 50 ribu rupiah per mangkok tidak menyurutkan animo masyarakat Flower City.

Pertanyaan besar yang sering saya lontarkan kepada rekan-rekan adalah “Apakah Sunday Bowl bisa sustain di pasar yang serba kopi dan boba?” Menurut saya sih akan tetap sustain, kunci dari tren kedepan adalah diferensiasi produk. Prove me wrong later.

Ready, Set, Unwrap.

Jam 12 saja sudah tutup, close order tepatnya. Beberapa cewek-cewek dan sedikit cowok masih ingin menunggu hingga jam 2. Saya sendiri sih ogah, karena arahan Pimred untuk mengulas kedai yang sedang trendi ini saya terpaksa menunggu di tempat lain dan mencatat nama saya di daftar tunggu.

Para pelayan seharusnya bisa lebih menginformasikan tentang konsep daftar tunggu per kloter ini, karena tidak semua tahu untuk menikmati semangkuk sereal diperlukan proses seperti umroh.

Beberapa menit saya dan rekan saya hanya linglung karena kondisi pintu yang ditutup dan tidak ada pelayan di kasir ataupun di luar kedai. Mayoritas konsumen yang menggunakan busana retro juga membuat saya ragu untuk menanyakan ke pelayan, malu juga jika saya bertanya,

“Mba, ini saya bisa masuk?”

“Saya beli juga, Mas.”

Setelah mengungsi di Nasi Ayam Penyet Mas Jo, kami kembali pukul 2 siang untuk menyantap sereal dari Sunday Bowl. Untung saja kami sudah mendaftarkan diri di daftar tunggu. Saat kami dating, antrian semakin berbondong-bondong.

Saat pertama masuk semua kursi sudah ditempati. Kami pun dipilihkan tempat duduk oleh pelayan. Wajar, tempat ini paling banyak diisi oleh 30 orang saja, karena spot outdoor sudah dialih fungsikan menjadi ruang tunggu.

Setelah kami mengantri di luar, di kasir pun mengantri juga. Antrian ini disebabkan karena konsep pesanan yang membuat konsumennya mengalami decision fatigue. Sudah harus disuruh memilih karir yang akan diambil, pacar yang harus ditinggalkan, kita juga harus memilih 2 dari belasan opsi sereal dan topping.

Di bagian ini kasir menjalankan tugasnya dengan baik. Penjelasan dan saran yang jelas meminimalisir kombinasi sereal yang ngaco. Hal yang perlu diperbaiki kedepannya adalah penyambutan konsumen yang mengantri di luar. Tidak sedikit calon pembeli yang pulang lagi karena tidak paham dengan konsep antriannya.

Sebenarnya saya sangat memaklumi animo masyarakat, khususnya animo generasi Z. Tempatnya memang seru abis, warna pastel yang membombardir pandangan mata akan otomatis membuat perasaan setiap pengunjungnya jadi riang.

Saat masuk ke kedai Televisi 49 inch yang dibungkus dengan tema retro merepresentasikan jukebox yang sering dijumpai pada diner klasik di Amerika Serikat. Bagi cewek-cewek ornamen di sini lucu sekali, bagi cowok-cowok ornamen di sini keren sekali.

Fenomena yang menarik di kedai ini adalah durasi dari kunjungan konsumen tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menit beberapa meja sudah kosong dan diisi penghuni baru. Tempat yang hareurin memang membuat pengalaman nongkrong menjadi tidak seru karena jika kita sedang menggunjing tentang selebgram ataupun diskusi tentang agama, bisa-bisa kita dilirik sama bangku sebelah.

Faktor sereal yang tidak bisa dinikmati pelan-pelan juga mempengaruhi durasi kunjungan. Jadi, jika bukan tempat nongkrong, Sunday Bowl adalah tempat nugas dong? Oh, jelas bukan. Bagaimana kita bisa nyaman untuk mengerjakan tugas kuliah untuk 3 jam kedepan jika ada tatapan sinis pengunjung lain yang sudah mengantri di luar sejak 45 menit yang lalu? Sunday Bowl benar-benar tempat untuk makan sereal lalu pulang. Paling banter pindah ke tempat ngopi.

Foodwise kali ini akan lebih berkutat tentang industri kuliner dan diferensiasi produk. Sejujurnya saya bingung jika harus mengulas sajiannya sendiri. Bagaimana caranya untuk mengulas sereal dan susu?

Sunday Bowl sendiri menurut saya memang lebih dari kedai yang menyajikan sereal dan susu, mereka mencoba merubah budaya dan cukup berhasil melakukannya. Seluruh umat manusia muda sedang menggandrungi kopi susu berbagai rasa dan cairan gula yang diberi sedikit susu dan selusin boba.

Apakah Sunday Bowl akan menaiki wahana yang sama dengan Xi Boba, Xing Fu Tang dan Janji Jiwa? Tidak! Mereka gamble untuk menjual panganan yang bahkan bukan panganan pokok di Indonesia. Apakah gamble ini berhasil? Ya lihat saja foto di atas, itu belum termasuk antrian yang di luar.

Anak muda dan hal yang trendi adalah hal yang mudah tetapi sulit ditebak. Mudahnya? Ya jika tren, tempatnya pasti ramai. Tempat instragammable, teman-teman yang status sosialnya berkumpul di tempat itu dan daerah yang mudah didatangi adalah formula standar untuk membuat tren.

Sulitnya? Formula ini sudah terlalu sering digunakan sehingga hal ini dirasa tidak cukup. Sekarang sudah memasuki awal 2020 dan saya beri tahu prediksi saya ke depan: Formula kunci untuk membuat tren kuliner di 2020 adalah DIFERENSIASI PRODUK!

Mendjamu misalnya sudah memulai lebih dulu, walaupun tidak seheboh Sunday Bowl. Mendjamu menunjukkan sedikit gemerlapnya, berjualan jamu, tempat instragammable, tempat yang mudah diakses dan beberapa teman yang followersnya di atas 5000 sudah berkunjung ke sana. Mendjamu dan Sunday Bowl siap menghadapi tren kuliner 2020 dan mereka akan sustain. That’s my bold prediction.

Jualan jamu sudah ada, sereal sudah ada. Saya sangat menunggu pedagang nasi uduk dengan konsep diner Amerika Serikat. Selain diferensiasi produk, konsep baru dari akulturasi budaya lokal dan internasional juga saya prediksi akan menjadi opsi menarik.

Fusion dish jika bisa dikemas dengan harga terjangkau dijamin ramai akan pengunjung seperti hari pertama Spongebob magang di Krusty Krab. Ah, saya bikin artikel baru soal ini deh nanti.

Where to Quest

 

Jalan kamuning yang agak sempit akan memperumit kalian untuk mencari tempat parkir. Lahan parkir hanya bisa ditempati 2 mobil LCGC dan beberapa motor mengharuskan kalian menempatkan kendaraan kalian di bahu Jalan Kamuning yang sudah sempit juga.

Mode transportasi ride hailing memang menjadi opsi terbaik untuk jaman sekarang. Menggunakan Grab Wheels juga menjadi opsi. Daripada muter-muter gak jelas, sebaiknya parkirkan skuter kalian dan coba cicipi sereal internasional dari Sunday Bowl, kalo gak ngantri itu juga.

Patokan mudah untuk opsi parkir adalah Taman Foto Bandung. Jika sudah menaruh kendaraan kalian di Taman Foto maka kalian bisa berjalan beberapa puluh langkah untuk berkunjung ke Sunday Bowl Cereal Club.

Tastebuds.

Desain menu yang memanjakan mata membuat pengunjung memerlukan waktu lama untuk memutuskan pesanan. Menu yang bisa dikustomisasi dengan keinginan pemesan pun menambah durasi untuk memesan, tetapi seperti yang pernah saya bilang pelayan cukup terampil dalam menunjukkan opsi yang terbaik.

Pengunjung akan ditawarkan opsi yang mengandung babi di awal, jadi kita bisa menolak lebih cepat dan mempersempit menu yang akan dipilih. Selanjutnya besar kemungkinan pengunjung akan ditanya preferensi rasa yang dia inginkan. Pelayan akan memberikan 2-3 opsi dan akhirnya keputusan akan lebih mudah diambil.

Untuk kalian yang tidak suka diwawancara dan ingin membuat kombinasi sendiripun tidak akan menjadi masalah. Cuma memang akan ada resiko kombinasi-kombinasi ngaco.

Langkah pertama, kita harus memilih kombinasi sereal yang akan disantap. Bisa Internasional dan lokal ataupun 2 sereal internasional. Produk Aseng memang sering dimahalin, bukti konkritnya adalah kombinasi 2 sereal internasional mencapai harga 50 ribu, belum lagi jika ingin menambah topping dan susu premium.

Kombinasi lengkap seperti itu akan membuat sereal di Sunday Bowl seharga dengan sereal rancangan Chrstina Tosi. Mohon maaf saya masih bisa mengambil keputusan logis untuk tidak menghabiskan 64 ribu rupiah untuk semangkuk sereal, saya pesan yang standar-standar saja.

Pesanan saya yang standar-standar saja adalah kombinasi sereal lokal dan internasional dengan susu karamel serta topping es krim vanila. Kombinasi Fruit Loops yang manis dan sedikit masam dengan Krave yang mengingatkan saya dengan sereal Gery di warung terdekat merupakan kombinasi yang cocok.

Es krim vanila dan susu karamel pun mencairkan dan mengahangatkan suasana dilidah saya. Saya agak kesulitan untuk mengulas semangkok sereal. Karena hal kacau apa yang bisa merusak rasa sereal yang sudah jelas mantap?

Ada hal kacau yang bisa merusak rasa sereal yang sudah sederhana ini, teman saya memesan kombinasi sereal, yogurt dan chocochips. Kombinasi yang aneh, sereal yang seharusnya renyah menjadi soggy karena yogurt yang langsung dicampur. Saran saya jika memesan topping yogurt sebaiknya hindari juga opsi sereal rasa coklat.

Saya tidak akan panjang lebar soal rasa, karena memang saya tidak berekspektasi apa-apa soal rasa. Jika ada yang bertanya apakah rasanya enak? Ya enak saja. Saya yakin orang orang yang berkunjung umumnya berlatar belakang pengalaman yang menarik, bukan soal rasa.

Secara garis besar, tempat ini cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Akan tetapi, karena konsep yang baru dan beberapa aspek seperti sistem antrian dan kualitas pelayanan yang belum terlalu baik membuat taraf menyenangkannya menjadi berkurang.

Peluang repetitive buyer pun sulit ditingkatkan jika Sunday Bowl masih memberi kualitas semacam ini. Pelayan yang lebih cekatan dan menyenangkan, serta sistem antrian yang lebih jelas perlu diterapkan secepatnya sebelum ada kompetitor yang akan mencuri konsumen. Membuka franchise juga merupakan opsi menarik untuk mengembangkan Sunday Bowl ketingkat yang lebih advance.

What to Expect.

Sunday Bowl cocok jika kalian ingin:

  1. Mencari cemilan manis bersama teman-teman.
  2. Membutuhkan konten untuk instastory.
  3. Ingin mencari tempat yang riang gembira untuk jiwa yang sedang gekap gulita,

Sunday Bowl tidak cocok jika kalian ingin:

  1. Mencari makanan murah dan mengenyangkan
  2. Mengerjakan tugas ataupun nongkrong
  3. Berkumpul lebih dari 10 orang
  4. Tidak sabaran.

Score.

Taste: 8.5/10

Place: 9.3/10

Price: 7/10

Ambience: 9/10

Service: 6.5/10

Foodwise Rating: 8.4/10

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *