LOADING

Type to search

Bersama Fox Fort Mengutuk Para Bajingan Jalanan dengan “Laga-Laga”

DAILY FEATURED

Bersama Fox Fort Mengutuk Para Bajingan Jalanan dengan “Laga-Laga”

Abyan Hanif 13/08/2020
Share

Raungan knalpot motor matic modif-an ala kadarnya, petantang-petenteng layaknya anak Julius Caesar, menerjang jalanan berlubang nan sempit secepat kilat tanpa pelindung kepala berstandar nasional, dengan beberapa atraksi sirkus berdiri di atas jok motor. Ditambah keras kepalanya para pengguna jalan yang menggunakan jurus “lho, saya kan mau ke situ doang dikit mas, gapapa lah” dan selalu merasa paling benar, walaupun sudah jelas 300% dia yang salah.

Belum lagi penggunaan sirine mobil yang tidak sesuai, seperti iring-iringan mobil mewah pejabat coro maupun konvoi klub mobil yang tidak penting, asal bermodal stiker aparat atau klub mobil seakan cukup untuk bertindak seenaknya di jalan. Fenomena tersebut tentu bukan hal yang asing bagi kalian yang menghabiskan setengah waktu hidup dengan nangkring bersama teman di tepian jalan.

Jika kalian merasa jengkel dengan fenomena-fenomena di atas, percaya lah kalian tidak sendirian. Setidaknya ada saya dan Fox Fort yang sependapat dengan kalian. Tepat 24 Juli kemarin, Fox Fort yang merupakan grup band rock asal Bandung merilis single kedua mereka yang berjudul “Laga Laga”, setelah sebelumnya merilis “Hilang Masa” pada bulan April kemarin.

“Laga Laga” terasa tidak terlalu jauh berbeda dari single terdahulu Fox Fort, “Hilang Masa” sebab menurut rilisan pers, kedua single tersebut diproyeksikan untuk menjadi materi dari debut album Fox Fort yang rencananya akan terbit tahun ini. Sentuhan grunge dan rock dekade 90an kental terasa pada “Laga Laga” dengan sedikit tekstur heavy ala-ala stoner rock dan desert rock pada bagian akhirnya.

Struktur lagu yang rigid dan tabuhan drum monoton yang didominasi oleh riff-riff power chord pada gitarnya merupakan penanda bahwa Fox Fort terpengaruh band-band rock 90an. Lagi-lagi mengutip dari rilisan pers-nya, “Laga Laga” bercerita tentang pengalaman Arga (mantan vokalis) dan Valdyan (Gitaris) ketika terlibat adu mulut dengan pengendara motor lain yang melanggar aturan lalu lintas.

Didorong oleh kekesalan tersebut, lahir lah “Laga Laga” dengan beratnya riff gitar dan raungan vokal yang melambangkan kekesalan terpendam Arga dan Valdyan yang sedikit ditahan pada bagian dengan gitar bertremolo-nya. Gabungan kekesalan Arga dan Valdyan yang dituangkan melalui “Laga Laga” dengan bebunyian yang sedemikian rupa menjadikan sebuah perpaduan yang sangat tepat sekali. Namun dalam menentukan mana yang bagus dan tidak dalam musik rock, sangat sulit tanpa melihat performa mereka secara langsung.

Sejauh ini Fox Fort sudah cukup keren, tinggal menonton mereka secara langsung untuk melihat attitude dan performa mereka ketika live untuk membuat mereka menjadi lebih keren. Nyawa dari musik rock ada pada attitude dan performa sebuah band. Semoga saja pandemi ini lekas berakhir dan Fox Fort bisa manggung di Bandung, agar tulisan ini segera saya revisi dari “cukup keren” menjadi “keren”.

Tags:
Abyan Hanif

Lahir di kota Kembang. Penulis amatiran. Full-time nankring, Part-time kuliah. Sporty abis. Bobotoh.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *