LOADING

Type to search

“Ambiguity” Karya Fuzzy, I Menggambarkan Dunia Pasca-Apokalips

DAILY FEATURED

“Ambiguity” Karya Fuzzy, I Menggambarkan Dunia Pasca-Apokalips

Janji Syahzar 11/04/2020
Share

“Beauty is in the eye of the beholder.”

Kalimat di atas sering saya ingat dalam upaya menjadi penikmat karya seni yang apresiatif. Saat mendengarkan karya terbaru Fuzzy, I yang dirilis 27 Maret lalu, kalimat ini pun harus saya ulangi berkali-kali. Memang, saya tidak pernah nyaman mendengarkan musik beraliran Neo-Punk. Meski begitu, ada beberapa aspek yang mendorong saya untuk terus mendengarkan lagu berjudul “Ambiguity” ini.

Perpindahan tiap bagian yang terdengar kasar malah menambah kesan enerjik. Selain itu, ketiadaan transisi yang halus antar bagian membuat lagu ini terdengar dinamis. Di bagian tengah, dinamika menurun tenang. Petikan gitar dan ketukan simbal menemani vokal yang sayup. Meski berlangsung pendek, bagian tersebut berhasil menjauhkan kesan monoton dari lagu ini. Kembalinya dentakan drum pun lalu membuka solo gitar yang menyalak garang. Secara keseluruhan, pengalaman mendengarkan lagu ini cukup menyenangkan. “Ambiguity” sendiri mencoba menggambarkan suasana dunia pasca-apokalips yang ada di bayangan sang vokalis, Egi Hisni.

“Laughing at death. Fatigue. Hungry and cold. Happy in chaos. Study the fear. Doom attribute. We were just warned”.

Sayang sekali, eksekusi vokal tidak dilakukan sebaik penulisan bait di atas. Berkat pelafalan yang kental dengan aksen Indonesia, lirik yang ditulis sedemikian serius malah terdengar seperti lelucon buruk. Yah, mungkin tidak seburuk itu karena saya sukses dibuat tertawa di beberapa bagian. Untung saja efek vokal, distorsi gitar, dan suara drum yang berat menghentak menutupi sebagian besar artikulasi vokal. Sayangnya lirik yang sudah ditulis dengan baik tadi justru kehilangan maknanya.

Selain lirik, penggambaran dunia pasca-apokalips juga dibantu oleh artwork oleh Nix Powell. Artwork ini mencoba menggambarkan bumi yang sudah hancur dengan bentuk tangan sebagai perumpamaan, bahwa tangan manusia sudah tidak layak untuk menyentuh dunia. Setelah melakukan riset singkat, saya menemukan kemungkinan bahwa Nix Powell adalah nama alias dari sang vokalis sendiri.

Terlepas dari buruknya eksekusi lirik, saya sangat menghargai upaya penyampaian pesan yang menyeluruh ini. Lagipula, dinamika lagu yang enerjik cukup berhasil menghibur. Saya yang tidak terbiasa mendengarkan aliran Neo-Punk pun tetap dapat menikmatinya. Lewat “Ambiguity,” Fuzzy, I sukses melepas kepenatan saya di masa karantina karena Corona ini. Semoga saja album yang akan dirilis di kemudian hari memiliki dampak positif yang serupa tanpa terdengar seperti sebuah parodi.

Tags:
Janji Syahzar

Mencoba menjadi penikmat musik yang apresiatif. Produser dan pemain bas Dream Coterie.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *