LOADING

Type to search

Starry Night: Pengiring ‘Raun’ yang Sempurna dari Guernica Club

DAILY FEATURED

Starry Night: Pengiring ‘Raun’ yang Sempurna dari Guernica Club

Janji Syahzar 18/12/2020
Share

Selama masa pandemi, banyak dari kita yang berusaha mencari kegiatan yang menyenangkan. Entah itu menonton film, tv series, berkebun, atau membaca. Semua kegiatan di atas memiliki satu persamaan, yaitu minimnya kontak dengan orang lain. Memang, berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau sekedar nongkrong di kedai kopi sudah bukan pilihan lagi.

Saya pun menemukan kegemaran baru yang menurut saya masih meminimalisir kontak dengan orang lain, tetapi tetap dapat menghilangkan rasa jenuh setelah terkungkung di ruangan sempit yang sama berbulan-bulan. Kegemaran tersebut adalah berkendara. Kerap kali saya bangun pagi hanya untuk menyetir, berkeliling kota Bandung.

Di Sumatra, kegiatan ini disebut ‘raun-raun’ (selama masa perantauan saya di Bandung, kata ini jarang sekali terdengar.) Saya hanya berkeliling tanpa tujuan dan tanpa sekalipun membuka jendela mobil. Mendengar lagu-lagu rilisan baru, menikmati sinar matahari yang terkadang menembus embun pagi.

Selama kegiatan ‘raun’ ini, saya menemukan banyak lagu-lagu pengiring baru. Salah satu dari lagu yang paling berkesan adalah “Starry Night” oleh unit musik asal Jakarta, Guernica Club. Lagu ini dirilis pada 13 November 2020 lalu.

Mengutip dari rilisan pers, lagu ini bercerita tentang “perjalanan cinta seseorang kepada seseorang yang kini sudah menjauh dan ingin menghilangkan rasa sakitnya kehilangan orang tersebut melalui musik atau musical remedy.” Guernica Club sendiri terdiri atas empat personel; Kenisa sebagai vokalis, Fathur sebagai pemain bass, Raynaldo sebagai gitaris, dan Yosua sebagai pemain keyboard.

Menurut saya, lagu ini diproduksi dengan sangat baik oleh Yosua dan Raynaldo. Bagian introduksi lagu ini saja sudah berhasil menetapkan suasana menyenangkan bagi pendengar. Permainan bass bersama ketukan drum kokoh mengunci groove. Bagian hook lagu ini pun terdengar seperti dialog antar personel. Gitar, vokal, drum, dan keys balas-membalas, saling mengisi kekosongan.

Adanya dialog musikal ini membuat “Starry Night” terdengar kaya, groovy, dan jauh dari kesan membosankan. Menjelang penghujung lagu, ada hal yang menarik. Bagian solo alat tiup yang diiringi gitar mengantarkan pendengar ke akhir listening experience-nya. Bagian ini menjadi hal yang paling saya suka dari lagu ini.

Sekilas, “Starry Night” terdengar seperti lagu Pop 2020-an lainnya yang cenderung mengambil kiblat dari genre 80’s Disco. Nuansa Disco lagu ini memang terdengar kental berkat pemilihan suara keyboard, drum, dan penulisan bass yang groovy. Tidak hanya itu, melodi vokal yang catchy juga Disco banget. Akan tetapi, Guernica Club tetap berhasil memberikan sesuatu yang unik.

Kocokan gitar yang diwarnai modulasi dan reverb malah menyumbangkan nuansa Bedroom Pop. Paduan dua aspek ini sukses memperkenalkan Guernica Club dengan cara yang begitu ceria. Mengingat bahwa “Starry Night” merupakan single debut dari Guernica Club, saya jadi tidak sabar menantikan karya-karya mereka selanjutnya. Meskipun berjudul “Starry Night,” lagu ini berhasil menjadi pengiring ‘raun’ pagi yang sempurna.

Tags:
Janji Syahzar

Mencoba menjadi penikmat musik yang apresiatif. Produser dan pemain bas Dream Coterie.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *