LOADING

Type to search

Kabar Musisi Independen dalam Swakarantina di balik Ramainya Konser Daring

FEATURED SELECTION

Kabar Musisi Independen dalam Swakarantina di balik Ramainya Konser Daring

Share

Ilustrasi oleh Pininta Taruli

Suatu pagi di hari Minggu, seorang anak muda mengambil gitar akustiknya, lalu memainkan beberapa chord di pekarangan rumah. Saat bermain, ia menemukan progresi chord yang terdengar enak di telinga. Si anak muda menjadi tidak sabar untuk segera memperdengarkan temuannya ke rekan satu bandnya di studio nanti sore. Ia segera mengambil ponsel pintarnya untuk merekam progresi chord yang baru ia temukan. Ketika ingin menekan gambar recorder, notif berita seketika muncul di layar ponsel pintarnya. Berita tersebut menginformasikan bahwa suatu pandemi telah menyerang dunia sehingga semua orang dihimbau untuk tidak meninggalkan rumah.

Pada selasa, 3 Maret 2020, kasus positif Corona pertama kali ditemukan di Indonesia. Dua minggu sejak kasus pertama diumumkan, masyarakat dihimbau untuk swakarantina dan bekerja dari rumah demi mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19). Anies Baswedan, selaku Gubernur DKI Jakarta bergerak sigap untuk mencabut seluruh izin keramaian pada bulan Maret sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Dampaknya puluhan konser musik dari skala gigs sampai festival, lokal maupun internasional terpaksa dibatalkan.

Industri hiburan seperti musik menjadi kacau balau: baik dari musisi, menejemen, label, media, sampai event organizer tidak hanya merugi secara finansial, tapi juga fisik dan mental. Preparasi matang yang sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan terpaksa mundur atau bahkan kandas. Akan tetapi, ada sisi terang dari kejadian gelap ini. Di era serba digital, para musisi dan pelaku industri menemukan cara yang jenius untuk menghadapi situasi yang sedang sulit ini: konser daring.

Berawal dari para musisi yang secara mandiri membuat live session melalui kanal digital seperti Instagram Live sampai rekan-rekan media seperti Asumsi.co, Narasi TV, dan Billboard Indonesia yang dengan cepat membuat program-program konser daring. Akan tetapi, konser tersebut menjadi dilema sekaligus problematis, meskipun konser daring tadi bertujuan sangat mulia, yaitu: membantu para musisi serta mengumpulkan donasi untuk tenaga medis yang berjuang melawan Corona. Tak tanggung-tanggung, hasil donasi dari acara ini mencapai total milyaran rupiah. Dilema? Problematis?

View this post on Instagram

HARI INI! Konser Musik #dirumahaja, Sabtu 28 Maret 2020 akan menghadirkan @afgansyah.reza @ardhitopramono @ari_lasso @arielnoah @barasuara @bintangemon @didikempot_official @gamaliel @wordfangs @iwanfals @kuntoajiw @pandji.pragiwaksono @petra_sihombing @raisa6690 @rendypandugo @itsrossa910 @triolestari @tulusm @vidialdiano @yurayunita Dan juga @najwashihab @erickthohir @jusufkalla & Nadiem Makarim LIVE STREAMING di www.narasi.tv dan Channel YouTube Narasi dan Najwa Shihab. Sambil menonton sejumlah musisi bernyanyi live dari rumah masing-masing, kamu bisa berdonasi untuk membantu penanganan COVID-19 melalui kitabisa.com/konserdirumahaja Seluruh donasi yang terkumpul melalui “Konser Musik #dirumahaja” akan disalurkan pada kelompok yang paling rentan, terutama tenaga kesehatan dan masyarakat kecil yang terpaksa harus terus bekerja di luar rumah. Dalam penggalangan dana melalui Konser Musik #dirumahaja, Narasi dan musisi-musisi yang terlibat tidak menerima sponsorship dalam bentuk apapun. Seluruh biaya acara sepenuhnya ditanggung oleh Narasi dan para musisi yang terlibat. Bagi pihak-pihak yang tertarik untuk terlibat, Narasi mengajak agar dananya dapat didonasikan langsung ke kitabisa.com/konserdirumahaja. Catat waktunya ya. Jangan sampai ketinggalan! Didukung oleh @kitabisacom @loketcom @billboard_ina @violad.creative @dana.id @higospot #dirumahaja #konsermusikdirumahaja #bergerakdari #narasi

A post shared by Narasi (@narasi.tv) on

Program konser daring yang sangat mulia ini tetap berujung menjadi kegiatan ekonomi dasar, penawaran dan permintaan. Konser daring yang seakan hadir menjadi sumber cahaya di dalam kegelapan ini hanya menyinari ruang-ruang tertentu. Suatu gerakan yang seakan komunal tersebut sejatinya sangat inklusif. Mengapa perusahaan atau media yang bergerak di belakang layar hanya memberi panggung untuk teman-teman musisi yang sudah terkenal saja? Bagaimana nasib musisi-musisi kecil atau independen?

Jujur, kita semua tau jawabannya. Musisi terkenal sudah pasti diberikan panggung karena permintaan yang sangat tinggi membuat penonton konser daring tersebut ramai. Keramaian tersebut kemudian dikonversi menjadi engagement dan online activation untuk perusahaan atau media penyelenggara. Sampai di sini saya tidak bermaksud menjadi penulis edgy contrarian yang ingin menafikkan sisi positif dari kejadian ini. Sisi baiknya, keramaian dari konser daring tersebut dikonversi pula menjadi donasi milyaran rupiah untuk orang-orang yang membutuhkan. Lalu, bagaimana kabar musisi-musisi kecil atau independen di masa-masa sulit ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Incotive berkesempatan untuk mengobrol dengan beberapa musisi independen. Mereka menceritakan kabar mereka selama swakarantina dan apa yang mereka harapkan di tengah pandemi ini:

Ray Viera Laxmana

Photo by Ferdi Kandiarsyah

Di masa sulit ini, banyak sekali pelaku industri yang merugi dan mengalami dilema. Terutama musisi yang ‘tidak besar’ seperti saya atau bahkan pelaku industri lain yang mengandalkan profesinya sebagai penutup kebutuhan sehari-hari selain uang jajan dari orang tua. Saya juga mendapatkan email dari aggregator dan digital streaming platforms yang berisikan bahwa mereka berniat untuk mempermudah pencairan dana streams untuk musisi. Namun, apa bisa diandalkan bagi musisi kecil seperti saya? Tidak. Dengan jumlah streams yang ada tentu jauh dari kata cukup untuk menutupi atau menyamai uang off-air yang beberapa ditunda, atau bahkan cancel. Sosial media memang menjadi sarana paling cocok untuk ‘menjual’ karya. Musisi kembali dituntut untuk mengontenkan musiknya di saat seperti ini.

Sulitnya, traffic saat ini pasti tertutup oleh berita yang ada (kecuali kalo sudah mempunyai banyak pengikut). Konser live streaming juga sedang ramai dilakukan oleh musisi di tanah air, namun jika musisi seperti saya melakukan hal serupa, apakah ada yang nonton? Ya paling hanya teman-teman dekat saja. Lalu, apa yang bisa masyarakat atau penikmat musik lakukan untuk ‘setidaknya’ membuat musisi seperti saya atau bahkan teman teman musisi lainya senang?

  1. Dengarkan lagunya, jika suka share ke sosial media kalian, share ke teman kalian. Feedback seperti ini satu-satunya hal yang bisa saya syukuri di tengah situasi seperti ini. Tidak lupa juga media-media yang masih menulis dan posting press release di saat seperti ini sangat lah membantu.
  2. Jika ada musisi merilis merchandise, tolong dibeli. Jika tidak punya uang, poin nomer 1 merupakan cara paling efektif di saat seperti ini. Tidak perlu materi, segala jenis apresiasi terhadap karyanya akan menjadi hal positif yang bisa diterima oleh musisi kecil saat ini.

Mamoy Frengers (Bleu House)

Photo by @fajaramadhandwi

Well, I was so anxious over this corona pandemic. I read the news online every day and it’s getting worse. But things came out to my mind, which says “Mungkin dunia lagi memperbaiki ketidakseimbangannya,” “Mungkin dunia harus istirahat sejenak.” So I keep myself positive and believe that there will be a good thing ahead for all of us!

But it keeps challenging me dan insecure-an juga sih, i totally agree with Ray’s statement which said “mau live perform secara online, takut ga ada yang nonton.” Ya maksudnya BLEU HOUSE masih kecil dan siapa yang mau nonton? Kalo di manusia umur BLEU HOUSE masih bayi, mending bayi lucu, lah BLEU HOUSE? Jadi selama pandemi ini sementara aku selalu isi dengan kegiatan yang berkualitas seperti beresin musik buat album, experiment, anything positive.

Aku tiap hari berfikir keras gimana caranya untuk nyari jalan keluar. So yesterday was a great day that i was having a talk with some musicians; Loner Lunar, The Sugar Spun, and Ray Viera Laxmana via zoom apps, dan kebetulan ngomongin juga gimana caranya penikmat musik bisa mengapresiasi band-band sekecil bayi ini. Gatau sih mungkin yang bikin aku seneng adalah dengan cara mereka share musik kita, itu udah sangat membantu. Dengan cara mereka yang dateng gigs kecil yang berbayar tanpa mengeluh “yah ada tiketnya”, itu juga udah sangat membantu. Dan tanpa harus segan aku harap mereka mau nyamperin kita untuk saling sharing atau basa-basi, kita bakal seneng banget karena kita selalu pengen ditanya! Hahahaha.

Emir Mahendra (Loner Lunar/White Chorus)

Photo by Kelana Herdian

Awalnya bingung dong, wah kita ngapain nih selama masa masa karantina ini? Terus ngumpul sama anak-anak band, muter otak untuk ngapain selama masa-masa ini biar musik kita gak mati. Ide yang keluar sih kayak live ig, bikin konser online terus buka sesi tanya jawab, tapi dari semua itu tuh kaya sulit gitu loh. Pertama, kalo yang bikin tanya jawab live ig untuk band sebesar gini siapa sih yang mau nanya? Persiapan kalo konser online juga ribet. Jadi urang makin kesini mah mikirnya di masa masa gini mending belajar produksi lagu dengan baik aja sih dan nabung materi yang akan dikeluarkan nanti.

Nah untuk belajar produksi lagu sendiri dan biar tetep produktif pas lagi quarantine gini, urang bikin swap song gitu sama Bleu House dan musisi lainnya. Sebenernya ide awal dari si Avi (Pop at Summer), lalu si Mamoy (Bleu House) ngejapri urang dan ngelakuin semua ini. Jadi swap song tuh ada dua band tukeran lagu dan bawain dengan gayanya sendiri. Contoh, Loner Lunar bawain lagunya Bleu House pake gaya kita dan begitupun sebaliknya. Jadinya kejutan karena kita gak tau hasilnya bakal kayak gimana. Nah di situ kita bikin konten untuk sosial media biar tetep rame dan juga belajar ngulik produksian lagu. Kalo untuk yang personilnya pada misah-misah, bisa bikin lagunya secara online tapi tetep barengan dengan cara salah satu buka DAW lalu di-share screen lewat Zoom, terus kirim sound gitar file midi dll.

Untuk para penikmat musik, cara paling gampang untuk membantu adalah dengerin lagu kita. Bantu share karya-karya mereka. Kalo punya rejeki berlebih bisa beli merch band-band. Kalo kalian punya ide bagus bisa kasih tau ke kita gitu untuk ngapain 🙂

Givani/Avi (Pop at Summer)

Photo by Muhammad Fajar Hidayat

Perkarantinaan ini pertama kali buat aku pribadi dan bandku gak ketemu lumayan lama, sekitar 2 minggu. Aku merasa cukup kesulitan karena bandku kan baru, yang tadinya sudah ini-itu berencana, berikut mau mulai merintis eh ada pandemi (pasti dirasakan hampir semua musisi ya? hehe semangat!), jadi banyak di-cancel. Awalnya pesimis loh karena timeline jadi mundur dan sebagainya, tapi ini nih yang aku bisa ambil. Karyanya. Sebelum ini, selain emang menjalani hobi sebagai musisi, aku punya kegiatan lain, cukup menyita waktu. Nah, sekarang tersedia waktu amat banyak, mau gamau otakku yang notabene banyak kosongnya ini mulai keisi lagi sama segala ide-ide, termasuk ya bentuknya lagu baru yay! Dan ternyata gak hanya terjadi di aku, temen-temen se-band pun eh banyak juga idenya? Begitu. Asik kan hehe.

Nah menurutku untuk teman-teman penikmat musik, Let this be our job to make a beautiful music that you love, like all this time. Aku dan musisi-musisi independen kesayanganmu pasti sedang berusaha untuk tetap memberimu semangat untuk melalui ini semua. Nantinya disuguhkan melalui karya-karya yang keren. Tetap support musisi-musisi dengan menjaga komunikasi satu sama lain lewat karya-karya kami. Dengan terhiburnya kamu melalui musik kami, kami pun jadi semangat. Simbiosis mutualisme! Begitu hehe.

Hagai Batara

Photo by Affan Jahja

Menurut gua sebagai musisi, situasi kaya gini emang rada kurang mengenakkan karena yang keliatan jelas yaitu banyak event yang ditunda, dan ga cuma musisi doang yang dirugikan tapi tim produksi juga. Sisi baiknya kalo buat gua pribadi, gua jadi bisa istirahat sejenak buat ngulik lagi, ngulik gitar, ngulik sound, dengerin referensi dan bikin karya juga. Terus jadi bisa berinteraksi dengan orang-orang di media sosial juga, contoh dengan jamming session online, komunikasi antar musisi secara online juga terjalin dengan cukup baik. Jadi gua menghadapi ini dengan buka DAW dan megang gitar setiap hari hahaha.

Untuk penikmat musisi bisa mendukung kami dengan tetap apresiasi, ikutin di media sosial apa yang disajikan oleh para musisi, kayak live instagram dan QnA karena jarang-jarang juga kan. Jangan lupa, dengerin lagunya dan share ke teman-teman kalian hahaha, karena dikala kayak gini juga banyak temen-temen musisi yang masih mau untuk ngerilis karya mereka.

Tags:
Ferdin Maulana Ichsan

Penulis dan Editor Incotive sejak 2016. Manager dari band Dream Coterie. Pernah berkontribusi dalam Spasial, Norrm, Whiteboard Journal, dan PVL Records.

  • 1

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *