LOADING

Type to search

Drama yang Generik, Seksisme dan Kegagalan Film Pretty Boys

FEATURED SELECTION

Drama yang Generik, Seksisme dan Kegagalan Film Pretty Boys

Ferdin Maulana 27/09/2019
Share

Ilustrasi oleh Rafii Mulya

“Drama yang generik, humor yang kering, dan seksisme yang kental berhasil membuat Pretty Boys menjadi film yang tidak layak ditonton.”

Setelah membantu Event musik di Jakarta pada Jumat (20/9), saya memutuskan untuk pulang ke Bandung di hari Sabtu. Memesan tiket kereta ke Bandung saat h-1 adalah keputusan terburuk atau paling kepepet yang diambil manusia.

Semua kereta pada jadwal normal sudah pasti sold out. Menyisakan jadwal pada jam 11 malam di stasiun Jakarta Tenggara (alias Bekasi). Saya memang menghindari naik travel mobil, oleh karena waktu yang ditempuh Jakarta – Bandung kini setara dengan ke Yogyakarta akibat pembangunan jalan.

Pada hari sabtu siang, di daerah Jakarta Selatan, saya dan rekan saya Ridho mulai kebingungan ingin melakukan aktivitas apa, setelah sebelumnya makan siang di restoran cepat saji Jepang yang sekali makan menghabiskan 70% uang harian saya. Sakin kebingungannya kami memutuskan pergi ke Bekasi karena kereta saya yang dijadwalkan berangkat dari sana.

Ketakukan adalah insting dasar manusia yang membuat kita terus bertahan hidup. Saya dan Ridho ketakukan dengan ke-gabutan yang akan kami jumpai sesampainya di Bekasi. Kami berdiam dalam pikiran kami masing-masing dan mencoba menemukan aktivitas yang tepat. Layaknya seorang yang disebut generasi millenial oleh media mainstream, saya terpaku pada Instastory dan timeline Twitter mencoba mencari inspirasi.

Sejurus kemudian saya menemukan Thread Twitter yang disematkan video Vincent dan Desta, host komedik fenomenal di Industri pertelevisian Indonesia. Dalam video tersebut Vincent dan Desta sedang mempromosikan film terbaru mereka yang berjudul “Pretty Boys”.

Saya tidak berhenti tertawa melihat kelakuan konyol kedua orang ini, terutama adegan dalam video promosi ini dimana Vincent seolah-olah sedang memakai sabu, lalu ditegur oleh Desta “Woi lo jangan ngundang BNN kemari!” Lawakan tongkrongan banget! Pikir saya dalam hati.

Setelah melihat video konyol tersebut, kami memutuskan menonton trailer dari Pretty Boys. “Wah ini vibes-nya Quickie Express banget!” Seru Ridho yang menyukai film yang diperankan Tora Sudiro belasan tahun yang lalu itu.

Trailer dimulai dengan adegan Rahmat (Desta) yang mengendarai motor layaknya Dilan menggonceng Asty (Danilla) sembari melontarkan gombalan cheesy. Kemudian dilanjut dengan adegan menari-nari di dapur, dilengkapi foreshadowing karir sukses entertainment Anugerah (Vincent) dan Rahmat, serta konflik Anugerah dengan Ayahnya, seorang pensiunan tentara yang konservatif lekat dengan toxic masculinity-nya.

“Seingat saya, saya punya anak laki-laki, bukan perempuan!” Tegur Ayah Anugerah pada tiga perempat film ini. Beberapa angin berlalu, “Sudah, sampai kapan kamu mau di luar?” Dasar Ayah Tsundere!

Disutradarai oleh Tompi, peran utama dua host TV fenomenal, ditulis oleh Imam Darto, soundtrack oleh Pamungkas, menampilkan Danilla! Indie banget! Saya makin yakin saja untuk segera menonton film ini. Keputusan saya langsung bulat ketika melihat postingan akun Instagram Fluxcup yang men-dub trailer film “Pretty Boys”.

View this post on Instagram

"Kita yang menodai TV atau TV yang menodai kita?" Laya mana saya tau Bambang? Yang saya tau mah kutelah menodai trailer film ini sampe mulut belepotan lumpur. Dan yang perlu kalian tau, ini tuh film kisah Anugerah ( @vincentrompies ) dan Rahmat ( @desta80s ) yang pengen ngetop malah ngedrop. Asty ( @danillariyadi ), Roni (@onadioleonardo_official ) dan Mas Bayu ( @imamdarto ) ikut mewarnai perjalanan hidup mereka. Pake pinsil warna. Saksikan hancurnya dunia pertelevisian! Nantikan film #prettyboysthemovie garapan @dr_tompi yang jadi sutradaranya. Tonton di Bioskop kesayangan anda mulai 19 September 2019, TAYANG BESOK LOH,,yuk ah. "Ceeeusss.." @prettyboyspictures @anamifilms_official #prettyboysthemovie #distractedbyfluxcup

A post shared by Fluxcup™ (@flux.cup) on

Saya dan Ridho langsung memutuskan meluncur ke bioskop di Mall yang tidak jauh dari stasiun Bekasi. Sialnya saat itu malam minggu, tempat duduk film ini laku keras sehingga kami harus duduk terpisah. Belum lagi soal 70% uang saya yang tadi sudah habis dipakai makan Jepang, menjadi 0 karena tiket film ini menghabiskan 30% sisa-nya.

Saat memasuki bioskop, saya sudah tidak sabar lagi. Coloring film dan angle shot yang disajikan dalam film ini langsung menarik perhatian saya. Saya jarang sekali menjumpai film layar lebar Indonesia dengan Color dan Shot yang secara estetika seindah film Pretty Boys. Seratus jempol untuk DOP dan Editor.

Namun sayang seribu sayang, layaknya Film Milly dan Mamet, Pretty Boys juga harus masuk ke dalam list film terburuk yang pernah saya tonton sampai habis. Konsep drama generik FTV, konflik yang dangkal, plot yang predictable, belum lagi seksisme dan diskriminasi gender yang kental membuat film ini sukses gagal total. Om tompi nyanyi ama jadi dokter saja deh, sama seperti Panji yang lebih baik ngelawak dibanding bikin lagu rap.

Cerita berfokus pada Anugerah dan Rahmat, kedua sahabat sejak kecil yang merantau dari kampung ke Jakarta untuk menjadi host terkenal dan kaya raya. Sejak kecil kedua sahabat ini terinspirasi dari acara “Famili 1000” (Pelesetan dari acara orisinilnya Famili 100) yang mereka tonton. Tadinya Rahmat kecil ngajakin Anugerah kecil untuk jadi anak band, tapi Anugerah menolak karena kata Pak Ustad, musik itu haram. Oleh karena itu mereka ingin jadi host yang katanya bisa kaya raya juga. “Ooh kalo bisa kaya raya, aku baru suka!” ucap Rahmat.

Anugerah dan Rahmat memulai karir mereka sejak kecil. Mereka sering membuat acara tebak-tebakan di kampung mereka bersama anak-anak lainnya. Tebak-tebakan “Ayam, ayam apa yang paling gede?” menjadi keyword paling penting dan revelation dalam film ini, serius!

Saat dewasa, Anugerah dan Rahmat menjadi pembawa acara dangdutan di kampung mereka. Ayah Anugerah langsung gerah melihat hal ini karena stigma dangdutan adalah maksiat dan mabuk-mabukan. “Anu cuma mau menghibur orang” Jelas Anugerah yang mendapat respon negatif dari sang Ayah.

Merasa geram Anugerah mengungkit masalah perceraian Ayahnya yang direspon tamparan maut dari sang pensiunan tentara itu. Merasa sakit hati, Anugerah minggat ke Jakarta bersama Rahmat dengan tujuan untuk membuktikan ke Ayahnya bahwa mereka akan sukses.

Source: Youtube/Prettyboys

*Major spoiler, jika belum nonton silakan skip ke tiga paragraf akhir*

Namun sialnya seperti banyak orang rantau di Jakarta, Anugerah dan Rahmat harus menerima realita yang pahit. Mereka berakhir menjadi juru masak di suatu Cafe (yang lebih mirip Bar) yang hanya mampu sarapan dengan mie instan. Di sana mereka bertemu dengan Asty, dan bekerja dengan supervisor yang genit dan nyebelin. Sempat suatu waktu ada pelanggan yang merupakan bos TV, Anugerah dan Rahmat langsung cekatan menunjukan skill mereka. Alangkah kagetnya mereka bahwa sang pelanggan ternyata seorang bos CCTV.

Singkat cerita Anugerah dan Rahmat sudah muak dengan supervisor mereka dan memutuskan berhenti jadi juru masak. Saat mencari kerja, mereka menemukan pekerjaan penonton bayaran di acara televisi “Kembang Gula” yang menurut mereka berdua penuh dengan lekong/bencong/ngondek. “Ini gak nular kan?” tanya Rahmat khawatir.

Source: Youtube/Prettyboys

Pada acara ini Anugerah yang dianggap ganteng, diajak naik ke panggung. Anugerah yang demam panggung, disemangati oleh Rahmat dari arah penonton langsung beradaptasi mengeluarkan jurus ngondek. Dari sini terbukti sudah semua yang ada di trailer film adalah penipuan.

Source: Youtube/Prettyboys

Betapa kagetnya saya sejak adegan itu sampai habis, film ini isinya cuma lawakan ngondek ditambah latah ala OVJ. Selain soal lawakan, Pretty Boys banyak sekali menampilkan toxic masculinity, seksisme, dan diskriminasi gender. Seseorang yang kemayu/ngondek digambarkan sebagai sesuatu yang sangat menjijikan, kalo kata Ayahnya Anugerah “Bikin malu saja!”.

Konflik yang dialami karakter juga sangat dangkal. Mulai dari cinta segitiga Anugerah, Rahmat dengan Asty. Rahmat yang dibuat jumawa dengan harta dan popularitas, dan krisis eksistensial Anugerah yang mendapat petuah dari banci jalanan yang ia jumpai (Tora Sudiro). “Lo punya bakat dan kesempatan, jangan disia-siain!”

Anugerah yang sudah mulai gerah berpura-pura kemayu demi rating televisi, dibuat tambah muak dengan sifat jumawa Rahmat. Hal ini membawa mereka pada pertengkaran dalam acara yang kala itu sedang live. Anugerah yang memiliki father complex itu ngambek dan nekat pulang ke rumah setelah diusir dulu. Rahmat di lain sisi galau abis karena karirnya hancur dan uangnya dibawa kabur Roni (Onadio Leonardo), manager mereka.

Setelah kejadian itu, di bagian inilah tebak-tebakan ayam dan karakter Asty menjadi krusial yang akhirnya mempersatukan kedua sahabat ini lagi. Badai pasti berlalu, ya semua musibah ini akhirnya selesai. Anugerah dan Rahmat akhirnya menemukan Youtube sebagai juru selamat mereka.

“Mau sampe kapan gengsi-gengsian? Kayak cewek aja.” Sindir Asty.

Source: Youtube/Prettyboys

Premis sederhana film ini, dua orang sahabat dari kampung merantau ke Jakarta ingin sukses, menjadi kaya dan terkenal, konflik antar keluarga dan sahabat, terkena musibah, jatuh miskin, dan kembali menemukan harapan. Terdengar familiar? Ya, formula FTV generik RCTI atau SCTV alias basi!

Selain itu, Semua karakter dalam film ini terasa tidak natural. Pada awal film karakter supervisor Cafe sudah terlihat maksa. “Yasudah, cepat masak!” beberapa detik kemudian, “Sudah jadi belum?” WTF!? Kalian pikir ini lucu? Next carilah konsultan komedi yang tepat. Film karya Koh Ernest jadi terasa lucu ketika menonton Pretty Boys.

Satu-satunya elemen yang menyelamatkan film ini hanyalah coloring dan shot-nya yang sangat memikat. Poin plus tersebutlah yang harus dicontoh seluruh produksi film layar lebar di Indonesia agar memperhatikan estetika keindahan.

15 menit awal memasuki “Pretty Boys” sudah menjadi last call bagi saya dan Ridho untuk segera meninggalkan bioskop. Sayangnya saya akan merasa rugi apabila minggat seperempat jalan, karena sudah menghabiskan uang terakhir saya pada film ini. Menonton Pretty Boys adalah keputusan terburuk yang saya ambil selain memesan tiket kereta api saat h-1.

Tags:
Ferdin Maulana

Penulis dan Ketua Geng Incotive. Suka ngurusin isu eksternal di PVL Records, dan Manager dari band Dream Coterie.

  • 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *