LOADING

Type to search

Keluhan Rapper Sampai Movement Distribusi DIY Rilisan Lokal Bersama Insane

FEATURED INTERVIEW

Keluhan Rapper Sampai Movement Distribusi DIY Rilisan Lokal Bersama Insane

INCOTIVE 27/11/2020
Share

Teks oleh Husna Rahman Fauzi
Ilustrasi oleh Rafii Mulya

Membicarakan Hip-hop lokal nggak akan ada habisnya. Tanpa bermaksud mengotak-kotakan atau mendiskeritkan musik lain, skena Hip-hop lokal terbilang cukup produktif mencetak artis-artis baru. Perlahan tapi pasti, setiap harinya ada saja rilisan musik lokal baru baik berupa single, EP maupun full album.

Pertanyaan yang kemudian mencuat adalah; Apakah kuantitas rilisan Hip-hop lokal berbanding lurus dengan kematangan dan kualitas produksinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Incotive menemui Insan Buana alias Insane yang merupakan rapper asal kota Bandung.

Incotive memilih Insane sebagai narasumber dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah movement yang ia garap. Movement yang diinisiasi oleh Insane dan kawan-kawannya adalah mengenalkan dan mengedukasi rapper baru yang hendak merilis lagunya. Ia membantu para newcomer untuk melakukan promosi sampai merilis lagu di platform digital lewat gerakannya bernama Dope Stereo dan Playlist Spotify ‘Hip-hop Indo’.

Nah, buat kamu yang tertarik menyimak obrolan Incotive dengan Insane, yuk langsung simak di bawah ini!

Incotive: Bang Insane, apa yang membedakan skena Hip-hop sekarang dan dulu?

Insane: Pertama-tama, sebenarnya saya bukan pengamat. Alasannya karena saya sibuk kerja. Sepenglihatan dan sepengalaman saya, sih, dulu Hip-hop itu hype dan mendarah daging banget. Tapi tetap saja segmented. Saking gilanya, dulu itu banyak musisi yang sengaja nggak kerja dan fokus nulis lirik dan bikin lagu. Kalau sekarang, saya kurang paham sih, apa mereka se-hype kita dulu apa nggak.

Incotive: Kalau soal perkembangan skena lokal, eksplorasi musik dan musisi baru?

Insane: Wah kalau soal itu banyak sekali perkembangannya. Ya, berhubung arus informasi yang terbuka luas, jadi sekarang musisi melakukan eksplorasi yang benar-benar gila. Berhubung saya mengurus Dope Stereo, saya jadi terpaksa mendengarkan lagu-lagu yang masuk ke kita. Sekarang itu sudah hampir ada 1000 lagu di Dope Stereo dan saya denger semua.

Banyak musisi baru yang keren dan menarik perhatian saya. Nama mereka nggak terlalu naik. namun mereka melakukan beragam eksplorasi musik, berkali-kali ganti nama. Unik sih ya kalau bicara soal eksplorasi. Zaman saya serba terbatas. Dulu paling sebatas perdebatan soal Hip-hop real atau tidak.  Kalau sekarang nggak ada kan? Dan sayang aja kalau hari ini masih kaya gitu.

Incotive: Karena Bang Insane banyak tahu musisi baru, biasanya rapper-rapper ini banyak mengeluh soal apa, sih?

Insane: Ya, karena saya sering berkomunikasi one on one dengan banyak artis, saya tahu beberapa keluhan. Ya, contohnya seperti originalitas beat, mixing, dan mastering. Tapi keluhannya nggak sepelik dulu sih, karena sudah banyak sumber informasi yang bisa diakses. Menurut saya, seharusnya keluhan itu bisa diminimalisir. Semua orang itu kan pengen masuk industri dengan serius. Masih banyak orang yang merekam lagu lewat hp. Padahal mereka bisa membeli microphone. Jaman sekarang microphone itu kan sudah murah. Lihat aja di toko-toko online.

Incotive: Bang, bisa diceritakan bagaimana awalnya bisa membuat playlist Spotify ‘Hip-hop Indo?’

Insane: Jadi gini bro, semua berawal dari pengalaman pribadi. Saya pernah diperlakukan buruk oleh salah satu publisher. Komunikasinya kurang dan saya ngerasa bahwa mereka nggak menganggap saya serius. Padahal saya produksi lagu serius dan saya pengen mereka juga serius memperlakukan saya.

Saat itu informasi kurang banget. Akhirnya saya ikut kelas Spotify. Saya banyak cari informasi dan berdiskusi dengan mas Wisa dari Pasukan Record. Setelah itu, saya nekat bikin kolektif untuk mengumpulkan musisi Hip-hop baru karena saya yakin banyak rapper di Indonesia yang kecewa karena rilisannya nggak berhasil di platform digital. Nggak disangka, tanggapan luar biasa. Cara untuk memasukan lagu ke playlist kita itu mudah kok. Hanya harus follow untuk algoritma dan mempromosikan playlist tersebut.

Incotive: Kalau Dope Stereo sendiri itu sebenarnya apa sih, Bang? Apa aja movement yang dilakukan?

Insane:  Oke, kembali lagi semua berawal dari kekecewaan saya pada publisher. Setelah saya tahu ilmunya akhirnya saya mengedukasi rapper lewat Instagram saya. Saya selalu menekankan bahwa lagu yang masuk ke Spotify wajib di pitch, promosi itu wajib, dan banyak hal-hal lain. Setelah saya sering membagikan yang saya tahu, lama-lama banyak orang yang bertanya dan meminta saya untuk meriliskan lagu mereka di Spotify.

Awalnya saya tanggapi biasa saja, saya ngasih list aggregator. Lama-lama semakin banyak dan akhirnya saya nekat membuat digital publisher. Jadi, sebenarnya Dope Stereo nggak ada hak lagu. Akhirnya terbentuk dan saya nggak ingin orang lain mengalami hal yang sama dengan saya. Dengan segala risiko, saya mengratiskan orang yang ingin rilis lagu lewat Dope Stereo.

Insane: Berbeda dengan yang lain, saya selalu kasih edukasi pada rapper baru. Saya kasih materi dari mulai miss match, pitching, dan claim profile. Saya juga kawal sampai lagu si musisi rilis. Soal jumlah stream, itu kan di luar kehendak kita. Tapi setidaknya kita sudah pakai jalan yang benar.

Incotive: Menarik. Terus apa sih syaratnya kalau kita mau merilis lagu lewat Dope Stereo?

Insane: Jadi gini, alurnya adalah rilis lagu. Sebenarnya kita memiliki dua pilihan. Pertama langsung dirilis dan kedua adalah di-pitch. Kita di kolektif Dope Stereo menekankan pada musisi untuk claim profile dan pitching. Itu satu-satunya cara untuk artis bisa masuk playlist. Berbeda dengan dulu, artis yang paham saja yang bisa masuk playlist. Dope Stereo selalu percaya bahwa setiap pekerjaan harus menghasilkan suatu saat nanti dan setiap artis harus punya tekad mau berhasil. Kalau ada orang yang nggak ingin ikut aturan, kita nggak akan terima.

Incotive: Nah setelah melalui banyak pengalaman dan membangun movement, apa sisi negatif dan positif dari para musisi baru Hip-hop ini?

Insane: Kalau sisi positifnya, sih, balik lagi ya mereka memiliki kreativitas dan semangat eksplorasi yang luas. Bahkan, mereka punya semangat yang tinggi untuk produksi lagu. Sayangnya, mereka hanya memikirkan kuantitas. Pokoknya produksi sebanyak mungkin dan nggak peduli soal kualitas lagu.

Ini mungkin ada hubungannya dengan ‘yang penting bikin konten’. Asal ada alat bisa pakai, beat download, jadi aja lagu. Kalau kita kan sebenernya bikin musik itu aktualisasi diri. Kita juga ingin punya pendengar. Jadi merilis lagu itu banyak parameternya. Kualitas dan sisi produksi harus diutamakan. Sayangnya nggak banyak artis-artis baru yang memikirkan hal ini. Nah, kalau artis lama mungkin cuman nggak produktif bikin lagu karena sibuk.

Incotive: Dilihat dari berbagai sisi, sebenarnya merilis lagu di Spotify itu worth nggak, sih?

Insane: Sangat worth sih. Sebab kita sebagai musisi ingin lagu kita terdistribusi dengan baik di segala platform. Sebab hari ini setiap platform punya pendengarnya masing-masing. Unik. Contohnya diri saya sendiri. Saya gede di YouTube dan Instagram, tapi kalah di Spotify. Dilihat dari situ saya berpikir bahwa memang sangat penting membuat ekosistem di setiap platform.

Incotive: Fakta menyebut kalau musisi nggak mendapatkan keuntungan secara ekonomi kalau rilis di Spotify. Tanggapan bang Insane gimana?

Insane: Harus dijalani. platform Spotify itu agak lain sebenarnya. Jadi kenapa penghasilan ke musisi itu cenderung kecil, karena penghasilan tersebut dibagi-bagi buat seluruh artis di Indonesia. Musabab penghasilan Spotify di Indonesia segitu-gitu aja, jadi ya terlihat rugi. Tapi nggak ada salahnya memupuk dari sekarang, jika sudah besar, kita juga terkena keuntungannya.

Incotive: Apa bang Insane nggak kepikiran untuk membuat platform musik seperti The Store Front Club?

Insane: Saya sebenarnya ingin lebih mengeksplorasi apa yang sudah ada. Jadi saya belum kepikiran untuk membuat platform seperti The Store Front Club. Saya kini mengurusi banyak turunan dari Dope Stereo. Bahkan, kita sekarang bikin label namanya Golden Hillz Record. Mungkin suatu saat kalau kita sudah punya source yang besar saya akan membuat hal serupa. Idenya sangat brilian.

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *