LOADING

Type to search

Kompleksitas Sederhana dalam Single Coltrains “02.35”

DAILY FEATURED

Kompleksitas Sederhana dalam Single Coltrains “02.35”

INCOTIVE 24/01/2020
Share

Teks oleh Janji Syahzar

Sekitar lima tahun lalu, seorang teman bercerita tentang masalah hidupnya. Tak pernah merasa bernilai, ia tidak mengambil tindakan yang pada saat itu sangat menentukan masa depannya. Keresahan dirinya dikatakan benar-benar telah menghambat hidup.

Takut tidak dapat membantu atau justru memperparah, saya yang menganggap diri tidak bijak-bijak amat cuma diam. Keraguan atas kapasitas berpikir diri sendiri membuat saya memilih untuk hanya mendengarkan. Entah krisis kepercayaan diri atau memang tidak mampu, kami berdua akhirnya tidak berbuat apa-apa.

Kejadian itu sempat terlintas di pikiran saya ketika mendengarkan rilisan dari Coltrains yang dirilis pada tanggal 10 Januari lalu, berjudul “02.35”.  Lagu ini bercerita tentang seorang tokoh yang digambarkan tengah meratapi keresahan diri dalam krisis paruh baya, tetapi tetap mempertahankan mimpinya. Menggaet Lafa Pratomo dalam proses mixing & mastering, band asal Bekasi ini menggunakan unsur trip-hop dengan sentuhan pop dan jazz.

Dimulai dengan nuansa lofi, permainan bass oleh Chandra Lingga dan petikan gitar yang manis dari Thoriq Ramadhan langsung mendapat perhatian penuh saya. Masuknya vokal dan dentuman drum Raynold Atmaja menutup intro lagu ini setelah berlangsung cukup lama. Satu setengah menit pertama mengingatkan saya pada “Locket” karya grup musik asal Brooklyn, Crumb.

Bagaimana tidak, karakter vokal Fadhilah Hasyyati, sang vokalis, sedikit banyak memiliki kesamaan dengan vokalis band itu. Selain itu, produksi vokal lagu ini yang dimulai dengan proses low fidelity, dan kemudian berubah menjadi high fidelity juga serupa. Saya pikir Coltrains memang terinspirasi, atau kedua band tersebut kebetulan mengambil influence musik yang sama.

Di bagian berikutnya, “02.35” berubah menghentak. Alunan vokal diiringi gitar yang menyalak membuat saya tidak dapat menahan diri untuk mengetukkan kaki mengikuti ritme drum dan bass. Bagian ini diikuti oleh hook yang ringan. Dijembatani oleh transisi gitar ala musik pengiring film Spaghetti Western dan kocokan ritmik, solo gitar yang mengikuti meningkatkan suasana sendu lagu ini.

Nada-nada yang digunakan dapat dikatakan sederhana, namun tepat guna. Menurut saya, bagian ini adalah bagian terkuat dari lagu ini. Lagu ini ditutup dengan cantik oleh melodi piano elektrik dari Iqbal Pratama. ‘Sederhana’ merupakan kata pertama yang terlintas setelah mendengarkan lagu ini. Padahal, lagu ini dipenuhi dengan cukup banyak layer instrumen, terutama gitar.

Komposisi lagu yang padat namun padu sukses menyembunyikan kompleksitas sebenarnya dari lagu ini. Tiap elemen memiliki kontribusi terhadap musikalitas lagu secara keseluruhan sebagai suatu kesatuan, tidak lebih. Fondasi ritmik yang ditetapkan bass dan drum serta rangkaian melodis oleh gitar, keys, dan vokal masing-masing memiliki kohesi yang baik. Sebuah kualitas yang dapat kita temui di unit musik berpengalaman.

Lewat rilisan ini, Coltrains berhasil mengemas permasalahan kepercayaan diri secara cemerlang. Jujur, saya tak mengerti benar maksud dari beberapa bait lirik lagu ini yang seolah dipaksakan untuk berima. Untungnya, dengan bantuan aransemen dan tata vokal sedemikian rupa, ide utama dari lagu ini tetap tersampaikan. Buktinya, saya masih dapat teringat kejadian yang telah saya ceritakan di paragraf awal. Dengan demikian, “02.35” menunjukkan bahwa karya-karya Coltrains berikutnya layak untuk ditunggu.

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *