LOADING

Type to search

Kontroversi Film Tilik: Sentimen antara Realitas dan Eskapisme Penonton

FEATURED SELECTION

Kontroversi Film Tilik: Sentimen antara Realitas dan Eskapisme Penonton

Share

Ilustrasi oleh Rafii Mulya

Jika anda melihat banyaknya orang-orang dewasa yang mengamuk karena jagoan dalam filmnya kalah, maka anda sedang berada di masa posmodern. Baru-baru ini laman media sosial kita ramai membahas film TILIK. Pada tanggal 17 Agustus, tepat di hari kemerdekaan, Film Tilik yang dirilis pada tahun 2018 lalu, kini bisa dikonsumsi secara massal di kanal Youtube Ravacana Films. Belum genap satu bulan, film ini sudah ditonton oleh lebih dari 17 juta penonton.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan menjabarkan sinopsis film ataupun me-review. Saya lebih tertarik membahas respon penonton terhadap film Tilik. Salah satu perspektif populer adalah film ini tidak mendidik karena scene akhir yang dianggap merusak keseluruhan film. Belum lagi komentar-komentar sinis yang meminjam argumen feminis secara dangkal menuduh bagaimana film ini menggunakan stereotip yang buruk pada wanita, spesifiknya Ibu-ibu Jawa yang seolah-olah tukang gosip.

Argumen “film ini tidak mendidik” menjadi sangat naif jika para penonton menonton film tersebut dengan perlakuan yang sama layaknya menonton sinetron—menelannya secara harfiah. Film ini tentu bisa memiliki makna yang tersembunyi dalam alegori, simbol, maupun metafora, sehingga ending dibuat open-ended dan memberikan kebebasan penonton untuk memaknai film tersebut secara personal. Apabila yang anda inginkan adalah tontonan edukatif secara satu arah, tanpa perlu menggunakan kemampuan berpikir kritis, saya rasa di Youtube banyak channel yang menyediakan kebutuhan anda.

Untuk teman-teman yang merasa opininya sangat penting dan memiliki kredibilitas untuk bicara soal feminisme, tentu seperti kata Voltaire, kebebasan anda beropini akan terus saya bela. Oleh karena itu, saya juga punya kebebasan untuk mempertanyakan logika anda: Memangnya apa yang sepantasnya Ibu-Ibu Jawa bicarakan di atas truk?

Jika topik obrolan yang mundane dan sederhana seperti gosip justru dianggap stereotip, misoginis, dan tidak pantas, maka mungkin anda akan puas bila para Ibu-Ibu di dalam truk berdiskusi tentang critical theory Foucault atau conflict theory Marx. Dan film itu akan dirampungkan oleh mayoritas penonton dalam 5 menit pertama.

Permasalahan terakhir adalah soal bagaimana karakter yang dianggap baik, justru “kalah” dengan karakter yang dianggap jahat (antagonis), the infamous “Bu Tejo”. Logika menang dan kalah adalah pendapat paling absurd dari semua komentar atas film ini. Rasanya tidak perlu saya panjang lebar menjelaskan perkara subjektivitas, termasuk soal menang dan kalah. Kita semua bisa setuju  bahwa Bu Tejo memang pantas dioles cabe mulutnya sampe bengkak, tetapi tidak ada yang “menang” atau “kalah” dalam film ini.

Hal yang diucapkan seseorang yang dianggap “jahat” tidak bisa menginvalidkan kebenaran dalam ucapan mereka. Memfitnah atau menuduh orang lain memfitnah itu sama nilainya—keduanya memiliki bobot kemungkinan benar dan salah yang sama, lima puluh lima puluh. Ending dalam film setidaknya memiliki makna tersebut.

Apabila kita masih menganggap film hanya sebagai sumber entertainment, tentu kita menjadi gelisah dan terganggu saat menonton TILIK. Dengan mindset seperti itu bisa membuat aktivitas menonton film hanya jadi sekedar wadah atau delusi eskapisme dari realitas hidup yang sudah cukup bikin stress tiap harinya, terutama di masa pandemi ini. Oleh karena itu, saat suatu film menantang persepsi penontonnya, moral compass penonton pasti akan terganggu dan jadi merasa perlu meluapkan emosinya, entah itu di kolom komentar atau Instagram story. Padahal film juga bisa menjadi suatu karya seni yang membuka pikiran kita.

Di era di mana virus bernama Post-Truth yang lebih berbahaya dari Corona menjangkit semua orang, dengan gejala merasa opini dan hak mereka setara pentingnya atau bahkan lebih penting, menciptakan generasi-generasi butt-hurt yang selalu mempermasalahkan segala hal di luar gelembung moral mereka.

Untuk menutup artikel ini, izinkan saya memberikan satu pertanyaan: Realita sejatinya pahit, tapi sampai kapan kita mau menyangkal rasa pahit di mulut dan kabur ke layar kaca?

Tags:
Ferdin Maulana Ichsan

Penulis dan Editor Incotive sejak 2016. Manager dari band Dream Coterie. Pernah berkontribusi dalam Spasial, Norrm, Whiteboard Journal, dan PVL Records.

  • 1

You Might also Like

1 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *